Pengharapan Yang Putus
Tidak ada sepatah perkataan yang akan dikeluarkan mengganggu engkau.
Saya hanya hendak membiarkan air mataku terjatuh di hadapanmu, moga-moga kau dapat menjamah kepalaku dan memberi saya hidup, meskipun sesudah itu akan kau bunuh pula.
Sangat payah sakit saya Hayati, agaknya tidak ada orang lain yang lebih sakit daripadaku.
Dahulu bahagia dan cinta yang kuminta darimu, sekarang itu kau cabut kembali. Maka kalau itu tak boleh berikan saja kepadaku hidup
Zainuddin
Surat yang ketiga:
Malangnya nasibku. Telah rurut bunga hayatku sebelum dia mekar. Tua telah berangsur mendatangiku, padahal umurku masih muda. Seorang diri aku menyeberangi hidup ini sekarang, ayahku telah mati, ibuku dan ibu angkatku pun demikian.
Seluruh alam membenciku, hatta daun kayu di rumah, angin pagi yang biasa membawa udara nyaman, tidur yang biasanya
mengembalikan kekuatan manusia, semuanya meninggalkan daku. Tiba-tiba kau, yang hanya satu tempatku bergantung, telah hilang pula dariku! Kemana saya meski pergi lagi, tunjukanlah, walaupun ke pintu kubur kau tunjukan, saya akan pergi.
Lebih seratus kali nama kau kusebut dalam sehari! Kadang-kadang saya panggil dalam nyanyianku, kadang-kadang dalam ratapku. Kicut pintu ditolakan angin, serasa-rasa langkah kau yang terdengar. Masih belum juga percaya saya bahwa kau memang telah sebenar-benarnya membuang saya dari ingatanmu.
Saya tanyai diri saya, adakah saya berdosa kepadamu? Tidak rasanya, bahkan dosa yang lain yang kerap saya perbuat untuk mencukupkan cintaku padamu.
Pernahkah kau mendengar kabar berita seorang haji yang berlayar ke Mekkah, membawa istrinya dan anak-anaknya yang masih kecil tiga orang banyaknya, istrinya sedang hamil pula.
Tiba-tiba penyakit mewabah pun datanglah di negeri suci itu, si suami meninggal dunia disana. Seketika Tuan Syeik memaklumkan kepada jamaahnya bahwa haji telah selesai dan jamaah-jamaah mesti berangkat ke Jedah akan kembali pulang, pergilah istri itu membawa anak-anaknya ketiganya ke pusara ayahnya, meratap dan memberitahukan bahwa mereka akan pulang lagi, pulang sendirinya tak berteman, menghadapi kemiskinan dan keyatiman, dan suami yang berbudi itu akan dipertaruhkan menjaganya kepada Ka'bah. ***
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (99)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (98)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (96)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (95)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (94)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (93)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (92)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (91)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (89)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (88)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (87)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (86)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (85)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (84)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (83)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (82)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (81)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (80)