Pengharapan Yang Putus
Pernahkah kau melihat seorang perempuan tua yang berjalan hilir sawah mudik sawah, sambil bernyanyi menyebut-nyebut nama anaknya.
Yaitu seorang perempuan yang masih muda, yang wafat seketika dia akan dikawinkan, sehingga sedianya akan dibawa bertandang ke rumah mertuanya dengan peralatan besar, kiranya diiringkan ke kuburan oleh orang kampung bersama-sama.
Pernahkah kau mendengar seorang anak muda yang baru bertunangan, berjalan ke rantau orang hendak mencari maskawin dan kain baju, untuk diberikan kepada tunangannya bilamana dia pulang kelak.
Setelah dua tahun dia berjalan, dia pun pulang, didapatinya tunangannya tadi telah bersuami orang lain yang lebih kaya, sebab dia terdengar miskin. Pernahkah kau dengar bahwa seketika dia pulang itu, setelah sampai kepadanya kabar bahwa tunangannya telah bersuami, dia duduk di tepi batang air yang deras menangisi nasibnya, dan akhirnya dilemparkan petinya itu ke dalam air. Setelah itu dia kembali merantau, sehingga tak pulang-pulang lagi sampai sekarang ini.
Pernahkah kau mendengar kabar seorang perempuan yang mempunyai dua orang anak laki-laki, yang seorang berjalan ke Jakarta dan seorang berjalan ke Medan. Tiba-tiba sampai kepadanya kabar bahwa anaknya yang tua mati di rumah sakit, dan anak yang kedua mati pula di dalam mencarikan kepalanya yang tak tertutup dan perutnya yang tak terisi. Sehinga kepada tiap-tiap orang yang pulang merantau ditanyakannya juga, adakah bertemu anaknya, dan bila dikatakan orang bahwa anak itu sudah mati, dia termenung, dia tak menangis lagi, sebab sudah kering air mata yang akan ditangiskannya.
Pernahkah kau mendengar nasib seorang tua yang menjadi tukang rumput, mempunyai istri yang sedang sakit dan anak yang sedang sarat menyusu. Beras yang akan ditanak tak ada, dicobanya meminjam kepada orang sebelah rumah, orang tak mau meminjami lagi, sebab utang beras tiga atau empat hari yang lalu belum juga dibayarkannya.
Lantaran susah, pergilah dia mencuri beras orang itu dan dibawanya pulang. Dimasaknya beras itu ke dapur, sedang istri dalam menarik nafas yang penghabisan. Tiba-tiba polisi pun datanglah menangkapnya, dia akan dibawa ke kantor mahkamah, nasi hangus, anaknya meratap dan istrinya mati setelah dia sampai di pintu. Sehingga lantaran hebatnya cobaan itu, pikirannya bertukar, dia gila, sehingga tak jadi dibawa ke kantor mahkamah, melainkan diantar terus ke rumah sakit gila. ***
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (99)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (98)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (96)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (95)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (94)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (93)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (92)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (90)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (89)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (88)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (87)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (86)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (85)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (84)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (83)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (82)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (81)