Pengharapan Yang Putus
Kalau pernah kau dengar segala cerita itu atau pernah kau lihat, kalau pernah kau dengar nyanyian orang kurungan menunggu vonis buangan, atau rintihan dan pekik orang sakit di dalam rumah sakit,
atau tertawa yang tinggi dan rumput yang telah panjang dan pakaian yang compang camping dri orang gila, sehingga lantaran itu kau jatuh belas kasihan, kau tangisi nasib mereka yang malang dan untung mereka yang buruk, maka ketahuilah Hayati, bahwa nasibku lebih lagi malangnya dari itu.
Sayalah yang lebih pantas menerima kasihan kau, menerima ratap kau dan tangis kau...
Tak ada lagi yang kutuliskan kepadamu, pelita hatiku dari sedikit ke sedikit berangsur padam. Agaknya inilah surat yang penghabisan kepadamu.
Selamat tinggal Hayati! Kalau umurku masih panjang, entah tidak akan bertemu lagi, dan kalau umurku singkat maka inilah ucapanku yang penghabisan...
Zainuddin
Balasan Hayati:
Tuan yang terhormat!
Tak dapat saya sembunyikan kepada Tuan, malah saya akui terus terang bahwasanya seketika membaca surat-surat Tuan itu, saya menangis tersedu-sedu, karena tidak tahan hati saya. Tetapi setelah reda gelora dan ombak hati yang dibangkitkan oleh surat Tuan itu, timbullah kembali keinsafan saya, bahwa tangis itu hanyalah tangis orang-orang yang putus asa, tangis orang yang maksudnya terhalang dan kehendaknya tidak tercapai.
Tangis dan kesedihan itu selamanya meski reda juga, ibarat hujan, selebat-lebat hujan, akhirnya akan teduh jua.
Kita akan sama-sama menangis buat sementara waktu, laksana tangis anak-anak yang baru keluar dari perut ibunya. Nanti bilamana dia telah sampai ke dunia, dia akan insaf bahwa dia pindah dari alam yang sempit ke dalam alam yang lebih lebar. Kelak Tuan akan merasai sendiri bahwa hidup begini telah dipilihkan Allah buat kebahagian Tuan. Allah telah sediakan hidup yang lebih beruntung dan lebih murni untuk kemaslahatan Tuan di belakang hari.
Tuan kan tahu bahwa saya seorang gadis yang miskin dan Tuan pun hidup melarat pula, tak mempunyai persediaan yang cukup untuk menegakan rumah tangga. Maka lebih baik kita singkirkan perasaan kita, kembali kepada pertimbangan. Lebih kita berpisah, dan kita turutkan perjalanan hidup masing-masing menurut timbangan kita, mana yang lebih bermanfaat buat di hari nanti. ***
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (99)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (98)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (96)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (95)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (94)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (93)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (91)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (90)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (89)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (88)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (87)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (86)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (85)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (84)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (83)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (82)