Perkawinan
Hari perkawinan telah ditentukan, petang kamis malam jumat disamakan di antara Aziz dengan adiknya Khadijah. Sebelum hari yang ditentukan itu datang, Hayati asyik memperbaiki rumah tangganya, mengatur bunga-bunga berkarang, pemberian kawan-kawannya, gelas dan baik, pinggan dan cawan. Alangkah cantiknya gadis dusun itu diberi pakaian kota.
Teman-temannya sesama gadis yang belum dipanjat ijab kabul, melihat keindahan dan kecantikan Hayati dengan dengan perasaan iri hati: Kapan agaknya mereka akan mencoba pula yang demikian itu? Apalagi tiga hari sebelum kawin, satu bungkusan sutra telah dibawa orang dari Padang Panjang, penuh berisi kain-kain yang halus, sarung batik Pekalongan, Ciamis dan Tulungagung. Kebaya-kebaya pendek yang indah potongannya, tanda mata dari bakal suaminya. Kamarnya diperhiasi indah sekali, dipanggilkan seorang perempuan yang ahli mengatur kamar penganten dari Padang, karena di kampung tidak ada yang pacak mengerjakannya.
Karib dan bait, ipar dan bisan amat ramai dalam rumah yang gedang itu. Berkali-kali lumbung dipanjat, menurunkan padi yang akan dijemur dan ditumbuk. Karena menurut pepatah Minangkabau, harta pusaka tak boleh diusik dan digaduh, melainkan jika bertemu sebab yang empat perkara: "Rumah gedang yang ketirisan, adat pusaka tak berdiri, mayat terbujur tengah rumah, gadis gedang belum berlaki."
Kalau bertemu sebab yang empat itu, maka "tak kayu jenjang dikeping, tak emas bungkal diasah".
Setelah harinya datang, ributlah orang dalam rumah mengerjakan dan menyiapkan. Hayati rintang senyum-senyum saja. Kalau sekali-kali teringat olehnya Zainuddin, sengaja ingatan itu dipudarkannya dari hatinya. Dan teman-temannya dia berbicara tentang nasibnya di belakang hari, keberuntungan yang sedang terbayang di angan-angan.
Setelah hari malam kira-kira pukul 12, datanglah pengantin yang laki-laki dari Padang Panjang, diiringi oleh teman sahabatnya, cukup dengan adat kebesaran. Sebelum makan dan minum, ijab dan kabul pun dilakukan di muka kadi. Di dalam masa hanya satu atau dua menit, runtuhlah gunung cita-cita yang telah sekian lama didirikan oleh Hayati dan Zainuddin dahulunya. ***
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (99)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (98)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (96)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (94)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (93)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (92)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (91)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (90)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (89)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (88)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (87)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (86)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (85)