Thursday, Nov 17th

Last update10:00:00 AM GMT

You are here: Cerita Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (98)

Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (98)

Perkawinan

Pagi-pagi pukul 9 berhentilah bendi Hayati di muka rumah Zainuddin di Silaing, dia diiringkan oleh suaminya Aziz yang kelihatan nyata di mukanya bahwa dia amat keberatan. Dokter pun masuk pula. Di dalam telah menunggung Muluk dengan ibunya. Dengan langkah yang perlahan sekali mereka masuk ke dalam kamar mendapati si sakit. Di tengah tidur dengan enaknya, badannya tinggal kulit pembalut tulang saja. Dokter, Muluk, dan ibunya tegak di tepi pembaringan. Hayati duduk ke atas kursi yang telah disediakan di muka tempat tidur dan suaminya berdiri di belakang kursi itu. "Zainuddin, bangunlah, kembangkanlah matamu," kata dokter, "Ini Hayati telah datang menziarahimu!"

Dia masih diam saja!

Dengan separo berbisik dokter berkata pada Hayati,"Lebih baik engkau sendiri yang memanggilnya, moga-moga dia terbangun."
Mula-mula hayati menoleh ke belakang, kepada suaminya. Muka Aziz kelihatan kerut saja.

"Jika di waktu badannya sehat tuan-tuan benci kepadanya, kasihanilah di waktu dia sakit," kata dokter dengan muka agak marah.

"Zainuddin!," kata Hayati.

Mendengar suara merdu itu, yang dalam telingan laksana suara nafiri dari dewa-dewa, Zainuddin pun mengembangkan matanya yang cekung. Dia menoleh ke kiri dan ke kanan mencari dari mata datangnya suara itu. Lalu dia bertanya,"Siapa yang memanggil namaku?"

"Bangunlah Zainuddin, ini saya datang," kata Hayati.

"Hayatikah itu! Suaranya! Saya kenal benar suaranya," katanya: lalu dicobanya hendak bangun, tetapi badannya masih lemah. Lalu ditolong mendudukan oleh Muluk dan ibunya. Punggungnya dikalang dengan bantal.

Terbit suatu cahaya yang hidup dan terang dari kedua belang matanyanya yang telah kuyu itu.

"Mana Hayati?"

Dicarinya Hayati dengan tangannya.

"Oh, ya, Hayati! Kau datang tepat pada waktunya! Telah saya sediakan rumah buat tempat tinggal kita. Sudah saya cukupkan alat-alat yang perlu dalam rumah itu.***