Perkawinan
Nanti saya ambil pakaian hitam saya, pakaian pengantin, ini Tuan Kadi (sambil mengisyaratkan matanya kepada dokter), sudah lama menunggu kedatanganmu untuk melangsungkan ijab kabul. Sehabis nikah kita akan berangkat ke Mengkasar, kita akan melihatn Butta Jum Pandang, akan ziarah ke kuburan ayah bundaku! Kita letakan disana bunga berkarang! Cantiknya kau hari ini! Baju berkurung begini memang sangat saya setujui! Bukankah dahulu seketika kita mula-mula bertemu, kau memakai baju berkurung juga! Ini selendang, selendang sutra putih, memang ini pakaian pengantin model sekarang"
Muka Hayati selama Zainuddin berbicara itu amat pucat, apalagi muka Aziz. Dokter melihat si sakit dengan menggeleng-gelengkan kepalanya. Ibu Muluk menitikan air mata.
"Kemarikan tangan kau Hayati, mari saya bimbing. Kita akan pergi bersalam dengan mamakmu, tanganmu akan kugandeng, dari hayatku sampai matiku.
Ai, mengapa kau mundur maju? Masih malukah kau, padahal hari ini hari pernikahan kita?"
Hayati hendak mengulurkan tangannya, tetapi lebih dahulu dilihatnya muka Aziz. Aziz tetap melihat dengan rasa tak tentu.
Dengan perasaan maju mundur, Hayati mengulurkan tangan, karena hendak dipegang oleh si sakit. Tangan itu dibawanya ke mulutnya hendaknya diciumnya, tiba-tiba badannya gemetar, tangan itu dilepaskannya kembali,"O, sudah kepunyaan orang lain, sudah hilang dari tangan saya."
Sekarang baru dia insaf sedikit, dia kembali beranjak di kasurnya." Sekarang saya insaaf, haram saya menyentuh tangannya, dia bukan tunanganku, bukan istriku!"
Diambilnya ujung selimutnya, ditutupnya mukanya. Kemudian dia berkata,"Keluarlah semuanya, pergilah semuanya, tinggalkan saya seorang diri disini. Saya tidak perhubungan dengan orang orang-orang itu, mereka pun telah putus pula dengan saya...pergilah, keluarlah, segera!
Terbangunlah perasaan kasihan dari hati sanubari Hayati melihat nasib anak muda itu, lalu dicobanya hendak membarut kepala Zainuddin dengan tangannya yang halus. Tiba-tiba sebelum terbarut, tanganlah telah direnggutkan oleh suaminya, dan dibimbingnya keluar.***
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (98)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (96)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (95)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (94)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (93)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (92)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (91)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (90)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (89)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (88)