Hati Zainuddin
Seorang saja orang yang tahu keadaan itu. Muluk, sahabatnya. Dia duduk bersunyi-sunyi seorang dirinya, hanya sekali-sekali yang ditemani Muluk, mengenangkan nasibnya. Seakan-akan dihamparkannya dimejanya daftar sengsara yang telah ditempuhnya sejak kecilnya, lalu kepada kecewanya dalam percintaan semasa tinggal di Sumatra Barat.
Bilamana kenangan itu sampai kepada Hayati, kepada janji dan sumpah setianya, masa dia terusir dari Batipuh, sampai kepada perkawinan Hayati, dan surat-suratnya, dan akhirnya kepada semasa dia sakit di Padang Panjang, dia pun menarik nafas panjang. Kadang-kadang lantaran mengingat itu, timbulah inspirasi yang bergelora dari semangatnya, seakan-akan itulah yang menyebabkan datangnya ilham yang bertubi-tubi kepadanya di dalam menyusun hikayat.
Seakan-akan terbayanglah di mukanya sawah-sawah yang berpadi masak di Sumatra Barat, seekor unggas pun tak datang hendak memakan buah padi itu sehingga tak perlu digarakan lagi. Tiba-tiba datanglah angin puting beliung yang bebat, buah padi itu pun gugurlah dari tangkainya.
Batangnya telah sama datar dengan bumi, tidak ada pengharapan tegak lagi. Demikianlah rasa dirinya ketika itu sebagai kebun yang tinggal tak di ulangi manusia. Putus perhubungan dengan segenap isi alam. Hidup dia dengan tak berkaum kerabat, terpencil disuatu kuruk yang jauh, diam di negeri yang seramai-ramainya, tetapi hidup dalam kesunyian.
Lantaran, lantaran Hayati tak ada didekatnya. Diakuinya dia sekarang sudah kaya, sudah ada padanya sumber mas. Asal dia mengarang satu buku, bukan dia lagi yang mengantarkan kepada penerbit, tetapi oranglah yang mencari dan meminta dengan tidak ada kesabaran. Uang pusakanya telah berlipat ganda, dalam pergaulan dia terkenal, pendeknya sudah hampir cukup kemegahan yang sepadan dengan dirinya. Tetapi...apakah gunanya, rumah cantik yan g ditinggalinya, perkakas rumah yang cukup, kemegahan dan pujian,kalau sekiranya tidak ada tempat hati, tempat cinta pertama yang mula-mula membukakan hatinya, dan sekarang telah tertutup kembali.***
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (134)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (133)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (132)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (131)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (130)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (129)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (128)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (127)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (126)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (125)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (105)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (122)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (121)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (120)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (119)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (117)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (116)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (115)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (114)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (113)