Hati Zainuddin
Sau makhluk pun tak ada yang kuasa membukanya, kalau bukan yang pertama jua.
Jadi cerita-cerita yang dibikinnya itu dan tonil yang merawankan hati meremukan jiwa penonton, lain tidak hanyalah gubahan ratap semata. Kata si pembaca atau penonton, semuanya adalah ratap kepada masyarakat, padahal pada hakikatnya ratap kepada dirinya sendiri.
Salah orang yang menyangka bahwa Hayati telah hilang dari hatinya. Masih hidup, masih tergambar dengan jelas. Lemah segenap persendiannya seketika dia mula-mula bertemu dengan Hayati: sudah sebulan lebih dia mendengar dari Muluk bahwa Hayati ada di Kota Surabaya, sehingga dimintanya kepada pengurus perkumpulan "Klub Anak Sumatera" supaya dia dan suaminya diundang.
Tetapi meskipun lemah persendiannya, kuat kuasa dia menahan hatinya dan menjaga perubahan warna mukanya, sehingga tidak kelihatan sedikit juga oleh Hayati dan suaminya, seketika itu.
Dengan sebaik-baiknya persahabatannya telah bertali kembali. Aziz yang pandai sekali mengambil muka telah meminta maaf kepadanya karena kejadian-kejadian yang sudah-sudah itu.
Dengan manis pula Zainuddin menjawab, bahwa hal yang telah lalu itu lebih baik dihabiskan saja, dipandang seakan-akan tak ada. Karena-kata Zainuddin-kalau dia ingat kejadian itu, dia sendiri pun tertawa, sebab itu hanyalah perasaan-perasaan yang biasa datangnya kepada anak-anak muda di zaman mulai remaja, yang mesti habis dan musnah bilamana kesadaran telah timbul.
Mendengar itu bertambahlah Aziz mendekatkan diri kepadanya dan kepada istrinyapun dikabarkan pula bahwa hal itu telah habis hingga itu. Katanya kepada istri: Tidaklah kita akan rugi jika kita berkenalan dengan orang yang masyhur itu.
Persahabatan itu telah karib. Cuma yang selalu dielakan benar oleh Zainuddin ialah bersua Hayati berdua-dua. Kalau dia bertemu dengan Hayati senantiasa di dekat suaminya.
Dalam hatinya terbit dua perjuangan, pertama cinta yang kekal kepada Hayati, kedua perasaan dendam yang sukar mengikis, lantaran mungkir Hayati kepada janjinya. ***
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (135)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (134)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (133)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (132)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (131)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (130)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (129)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (128)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (127)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (126)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (124)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (105)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (122)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (121)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (120)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (119)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (117)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (116)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (115)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (114)