Hati Zainuddin
Kian sehari, kian sebulan, kian nyatalah bahwa kepuasan Aziz hanya di luar rumah. Telah bosan dia di dalam rumahnya, bosan dengan istrinya yang setia.
Semalam-malaman hari dia hanya bersenda gurau dengan perempuan-perempuan cantik, dan kadang-kadang bersenda gurau dengan teman sepermainan di atas meja judi.
Bagaimanakah akal perempuan muda yang malang itu hadapan nasib yang begini rupa? Akan dicegahnya suaminya dari perbuatan itu, tidak sampai hatinya, takut kalau-kalau membawa celaka yang lebih besar, yaitu pertengkaran mulut yang telah kerap terdengar oleh orang sebelah menyebelah rumah.
Oleh karena nasib yang demikian, Hayati telah berubah sikap. Dia telah benci kepada segala hal yang ramai, mengundurkan diri dari pergaulan, berbenam saja dalam rumahnya seorang diri, tidak ada temannya melainkan penjahitannya.
Tidak dia peduli, tidka dia bertanya kemana suaminya, hendak pergi, pergilah, telat pulang, masa bodoh! Mukanya muram, badannya telah kurus.
Disinilah dia teringat kembali salah satu dari isi surat Zainuddin kepadanya dahulu, nyata kembali meskipun beberapa waktu lamanya berbunyi: "Jangan sampai terlintas dalam hatimu bahwa ada pula bahagia selain bahagia cinta. Kalau kau percaya ada pula satu kebahagiaan selain kebahagiaan cinta, celakalah diri kau Dik! Kau menjatuhkan vonis kematian ke atas diri kau sendiri!"
Dalam pada itu, Aziz telah berbuat beberapa pekerjaan yang tidak akan dapat dimaafkan, karena mengingat salahnya selama ini. Yakni dari persahabatannya dengan Zainuddin dia telah mengambil kesempatan yang biasanya diperbuat oleh orang yang rendah budi.
Dengan muka yang tebal, tak mengenal kesalahan-kesalahan yang lama, sudah dua tiga kali dia meminjam uang kepada Zainuddin. Inilah agaknya takwil perkataan kepada Hayati tempo hari, mengatakan bahwa tidak ada jahatnya jika kita bersahabat kembali dengan orang yang ternama demikian.
Dia pergi berjudi. Kalau dia menang, maka uang kemenangan itu dibawanya bersama teman-temannya mencari perempuan. Kalau dia kalah, dia pulang ke rumah dengan muka masam, meradang ke sana, menyembur kemari. Sehingga sudah dua tiga kali mengganti babu, karena tidak ada yang tahan lama. Yang lebih mencolok mata lagi, kalau babu itu agak muda, kerap kali dipermain-mainkannya, walaupun di hadapan istrinya. ***
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (136)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (135)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (134)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (133)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (132)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (131)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (130)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (129)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (128)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (127)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (125)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (124)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (105)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (122)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (121)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (120)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (119)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (117)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (116)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (115)