Saturday, Jun 23rd

Last update10:00:00 AM GMT

You are here: Cerita Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (127)

Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (127)

Hati Zainuddin

Asal sengketa dan perselisihan jangan tumbuh, apa katanya diikuti oleh Hayati.

Barang masnya telah habis; dokohnya, gelangnya, penitinya, semuanya telah masih rumah gadai. Tetapi yang sangat menyakitkan hati, pernah dia menyesali untung di hadapan Hayati, dikatakan bahwa dia menyesal beristri perempuan kampung, sial. Perempuan yang tak pandai mengobat hati suaminya.

Kalau mendengar perkataan demikian, apakah kepandaian Hayati, seorang perempuan yang lemah, lain daripada menangis? Siapa orang lain yang akan disalahkan? Kalau bukan dirinya sendiri? Bukankah seketika ninik mamaknya menerima permintaan Aziz, dia sendiri pun menyukainya? Bukankah pernah dia berkirim surat kepada Zainuddin mencegah Zainuddin menyesali bakal suaminya, karena dia sendiri yang memilihnya?

Di dalam rumah dirasanya sebagai dalam neraka, akan lari tak dapat! Karena Hayati adalah seorang perempuan lemah lembut, yang lebih suka berkorban, harta jiwanya sendiri, daripada mengganggu orang lain. Dia ingat satu pepatah yang pernah dibacanya dalam buku:"Perjuanga laki-laki di medan perang, perjuangan perempuan dalam rumahnya".

Bahaya yang telah disangka-sangak mesti datang itu, pun datanglah. Sepandai-pandai membungkus, yang busuk berbau juga. Semasa tinggal di Padang masih dapat dia meminta uang kepada ibunya kalau dia tekor atau meminjam kian kemari. Sekarang hidup di rantau. Berapa kali hutangnya kepada orang yang suka menternakan uang, telah dapat dibayar oleh Zainuddin, sahabatnya yang kasihan kepadanya itu.

Tetapi malang akan tumbuh, ada seorang diantara temannya sama-sama bekerja yang benci melihat perangainya, telah mencari beberapa bukti kesalahannya, yang dapat menyebabkan keberhentiannya dari pekerjaannya. Bukti-bukti itu telah dilonggokan orang dengan diam-diam. Orang hendak menjatuhkannya dari pekerjaan dengan cara yang tiba-tiba.

Karena orang tahu, kalau dia mengerti hal itu, dia akan meminta bantu kepada sahabatnya pengaranga ternama itu, atau dia lari dari kota Surabaya. Maka pada suatu hari datanglah seorang tempatnya berhutang menagih piutang yang telah lewat temponya. Datanglah dengan tiba-tiba sekali, karena telah diatur lebih dahulu oleh musuh-musuhnya.

Kebetulan uang sedang tak ada, janji tak dapat dipenuhi. Orang pun berkerumun di hadapan rumahnya, melihat orang yang meminjaminya uang itu dengan muka manis bagai madu, tetapi hati yang kejam bagai hati serigala, menyuruh membayar hutang, kalau tidak barang-barangnya di dalam rumahnya akan diangkut, dilelang. ***


Newer news items:
Older news items: