Saturday, Jun 23rd

Last update10:00:00 AM GMT

You are here: Cerita Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (128)

Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (128)

Hati Zainuddin

Sedang bertengkar-tengkar demikian, sep kantor tempatnya bekerja datang bersama dengan kawan samanya bekerja yang telah menahankan perangkap buat kejatuhannya itu.

Dengan muka yang sangat pucat dan gugup, dia menyambut kedatangan sepnya itu dan penagih hutang itu pun berdiri di sisinya.

"Tuan," ujarnya. "Sudah sekian lama Tuan Aziz ini dari janji ke janji saja. Saya tidak sabar lagi, akan saya minta pertolongan yang berwajib."

Hayati mencoba hendak ikut berbicara mempertahankan suaminya yang sudah kehilangan akal itu. Tetapi tukang ternak itu menjawab dengan pendek dan jitu,"Lebih baik kau diam saja, hai perempuan muda! Kau telah menjadi korban hawa nafsu setan suamimu. Janji apakah yang akan engkau cari lagi? Padahal barang-barang perhiasanmu telah habis, hidupmu telah melarat. Barang dalam rumah ini akan di-beslag!"

"Dan besok kau tak usah datang ke kantor lagi!" kata sepnya kepada Aziz.

Muka Aziz pucat!

Beberapa hari sesudah itu, kelihatan orang bekerja mengangkuti segala barang-barang kursi dan meja, perhiasan dan gambar-gambar di dalam rumah Aziz, karena perkara itu sudah di tangan juru sita.

Setelah barang-barang itu habis diangkut, tiba-tiba datang pula tukang tagih sewa rumah, memberitahukan bahwa kunci akan diambil. karena sudah lebih dari tiga bulan sewa rumah itu tak dibayar.

Sepatah kata pun tak keluar dari mulut Aziz, apakah yang tinggal hanyalah yang lekat di badan. Hayati pun hanya memakai sehelai kebaya yang telah lusuh, dan kain batik kasar. Mereka keluar dari rumah itu dengan rupa tak karuan. Ketika akan meninggalkan rumah itu, masih sempat juga Aziz menikamkan kata-kata yang tajam ke sudut hati Hayati..."Sial!".***


Newer news items:
Older news items: