Hati Zainuddin
Hayati tak menjawab. Menangis pun tidak. Apa lagi yang akan ditangiskan, jika kesedihan telah sampai ke puncaknya? "Kemana kita akan pergi lagi" tanya Hayati.
Aziz tak menjawab, mukanya muram saja. Hanya dengan langkah yang tegap, tetapi penuh dengan pengharapan, dia menuju ke rumah Zainuddin!
Kesanalah mereka pergi...
Kedatangan mereka diterima oleh Zainuddin dengan Muluk dengan hati bersih dan suci, penerimaan sahabat kepada sahabatnya. Rumahnya yang mempunyai kamar buat tetamu, cukup luas dan sederhana. Apalagi sempit dan luas rumah, bukan bergantung kepada rumah, tetapi tergantung kepada kesenangan hati yang mempunyai.
Mula-mula mau Zainuddin membayarkan hutang itu, tetapi dicegah oleh Muluk, dengan alasan bahwa orang yang demikian lebih baik ditahan dan dipelihara dahulu dalam rumah, daripada dibetuskan barangnya, karena dia pun tak ada mata pencaharian lagi. Tentu pula kawan-kawannya tidak ada yang mendekatinya, sebab tidak ada lagi yang mereka harapkan.
Setelah tinggal dalam rumah itu, lebih seminggu lamanya Aziz ditimpa sakit. Selama sakitnya dijagai Hayati dengan setia, diurus oleh Zainuddin dan Muluk, dijaga dan dirawat supaya lekas sembuh. Setelah bangun dari sakitnya, diselenggarakan dia dan istrinya oleh Zainuddin, dihormati oleh Muluk dengan sepertinya. Tidak ada satu kalimat yang dapat mengibakan hati mereka, atau menyebabkan jemu mereka tinggal di dalam rumah itu.
Demikianlah hampir sebulan lamanya.
Sudah lewat sebulan...
"Saudara!" kata Aziz dengan tiba-tiba kepada Zainuddin, sehabis makan pagi di kamar makan, di hadapan istrinya, "Budi baik Saudara kepada saya sudah terlalu besar, daif benar diri saya sekarang, tak ada balasan dari saya hanya memohon kepada Tuhan, moga-moga jasa Saudara itu terlukis di sisi-Nya."
"Itu bukan jasa, itu hanya kewajiban seorang sahabat kepada sahabatnya. Apalagi kita hidup di rantau pula," kata Zainuddin, "Kita wajib membela antara satu sama lain."
"Ah, belum pernah saya memberi kepada Saudara, saya hanya selalu meneriman."***
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (139)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (138)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (137)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (136)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (135)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (134)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (133)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (132)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (131)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (130)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (128)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (127)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (126)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (125)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (124)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (105)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (122)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (121)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (120)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (119)