Saturday, Jun 23rd

Last update10:00:00 AM GMT

You are here: Cerita Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (130)

Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (130)

Hati Zainuddin
"Karena belum waktunya," kata Zainuddin dengan senyum: "Sekarang sedang saya berkesanggupan, tentu saya tolong. Kelak datang pula kesanggupan Saudara, tentu Saudara tolong pula saya."

"Terlalu baik Saudara ini..."

"Yang baik hanya Tuham," jawab Zainuddin pula.

"...Begini Saudara!" katanya, sedang perkataannya tertahan-tahan,"Sudah terlalu banyak kesalahan saya dari kecil, dari semasa muda, sampai kepada beristri. Waktu inilah kesalahan itu saya bayar. Pahit balasan Tuhan yang harus saya telan! Sekarang saya tobat, saya hendak memilih jalan yang lurus. Sebab itu, saya masih meminta pertolongan Saudara."

"Kalau ada kesanggupan pada saya!"

"Saya telah melarat sekarang, saya dan istri saya. Saudara yang telah menyambut dalam rumah Saudara sekian lamanya. Hal ini tak boleh saya derita lama. Di kota Surabaya, saya pun lebih merasa malu. Sebab itu lepaslah saya berangkat mencari pekerjaan lain ke luar kota Surabaya. Saya akan pergi sendiriku lebih dahulu. Dimana pekerjaan saya dapat, saya kirim kabar segera, supaya istriku dapat menurutkan kesana."

"Saya tidak keberatan istri Saudara tinggal disini. Cuma yang saya ragukan, kalau-kalau kesehatan Saudara belum kembali. Kalau Saudara belum sembuh betul, Saudara berangkat, hanya lantaran malu terlalu disini, maka melaratlah di belakang lebih besar dari manfaatnya. Lebih baik tahan dahulu sampai badan kuat betul."

"Sungguh badan saya telah sehat. Budi Saudara tinggi memang hak Saudara menahan saya disini sekian lamanya, tetapi sebagai seorang yang hidup, yang menanggungjawab atas diri dan istrinya, saya wajib mencari pekerjaan. Kalau pekerjaan itu tak dapat, kemana saya akan kembali, kalau bukan kemari juga."

"Bagaimana Hayati? Kalau tuan-tuan laki istri pulang saja ke Pdang?" tanya Zainuddin pula sambil menoleh kepada Hayati.
"Saya rasa lebih baik pulang dahulu, ongkos tuan-tuan saya bayar, ganti memperbaiki perlangkahan dan menetapkan hati. Walaupun kelak akan kembali merantau."***


Newer news items:
Older news items: