Saturday, Jun 23rd

Last update10:00:00 AM GMT

You are here: Cerita Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (131)

Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (131)

Hati Zainuddin
"Tidak , itu tidak bisa. Malu!" jawab Aziz!

"Bagaimana Hayati?"

"Saya hanya menurut...!" "Baiklah...kalau demikian pertimbangan yang telah diambil oleh Saudara Aziz, berangkatlah! Dimanapun negeri yang didatangi, kirim kami surat lekas. Beri kami kabar yang menggembirakan. Kalau pekerjaan dapat, boleh Hayati dijemput kemari atau saya mengantarkan. Cuma nasehat saya, ubahlah haluan hidupmu Saudara!"

"Saya berjanji, sahabatku!"

Besok paginya, berangkatlah Aziz menumpang kereta api yang akan berangkat menuju Banyuwangi, diantarkan oleh Zainuddin dan Hayati ke stasiun. Di sana nyata sekali perasaan yang meliputi ketiga anak muda itu. Ketiganya sama-sama menitikan air mata...

Dekat tetapi berjauhan
Di beranda sebuah rumah makan yang ramai dalam kota Surabaya, sehabis waktu maghrib, duduklah Zainuddin seorang dirinya, mengepul asap rokoknya ke udara. Meskipun kendaraan banyak lalu lintas di hadapannya, semuanya seakan-akan tak terdengar olehnya, sebab pikirannya sedang melayang-layang ke tempat lain...
Hayati, kecintaanya, pusat pengharapannya, sekarang sudah ada dalam rumahnya sendiri. Sudang berminggu dia memakan masakan Hayati, sudah berminggu makan minumnya dia menanakan, kain bajunya ditolongnya mencucikan. Alangkah beruntungnya sedianya dia, kalau sekiranya jadi dahulunya dia kawin dengan Hayati. Alangkah lapang terluang medan tempatnya berjuang di dalam hidup ini. Tentu rambutnya tak akan lekas gugur sebagai sekarang. Tentu dia akan menghadapi perjuangan hidup dengan gembira.

Telah hampir genap cita-citanya, tinggal dalam sebuah rumah yang sederhana, cukup perkakas, cukup kekayaan, ternama, termasyhur. Hanya satu saja kekurangannya, ibarat alam yang kekurangan matahari, itulah nasibnya yang kekurangan Hayati. Sekarang Hayati itu sudah ada dalam rumahnya. Tetapi "ijab dan kabul"- nya dengan Aziz, inai yang melekat di kukunya seketika dia menziarahinya ketika sakit dahulu, semuanya telah menjadi batas, yang menyebabkan mereka seorang di ufuk Timur dan seorang di ufuk Barat.

Sekembalinya dari stasiun mengantar Aziz, disuruhnya Muluk mencari seorang babu tua untuk teman Hayati di dalam rumah. Setelah itu, dia telah kurang dalam rumah, hanyalah di waktu makan dan di waktu tidur saja. Boleh dikatakan dalam waktu-waktu demikian dia kurang mengarang.***


Newer news items:
Older news items: