Dekat, Tetapi Berjauhan
Hayati sendiri gelisah pula dalam rumah itu. Mengapa sejak dia ada, Zainuddin seakan-akan tak mempedulikan dia. Seakan-akan kedatangannya menjadi keberatan kepada Zainuddin. Kalau sekiranya keberatan, mengapa disanggupinya membiarkannya menumpang dalam rumahnya sebelum suaminya datang menjemput. Ada pula yang lain yang menambah masygulnya. Dia diberi kemerdekaan oleh Zainuddin dalam rumah, sejak dari muka lalu ke belakang, cuma satu saja yang tidak boleh dimasukinya, yaitu kamar tulisnya. Demikianlah pesan yang disampaikan secara halus dengan perantaraan Muluk. Inilah yang mengherankan dalam pertalian budi bahasa di dunia ini.
Dia sangat cinta, seluruh iramanya, ilham yang menerbitkan semangatnya mengarang, semuanya ialah lantaran ingat akan Hayati. Sekarang Hayati telah ada dalam rumahnya, tetapi tidak diacuhkannya. Itu adalah tersebab dari cinta yang bermukim dalam hatinya bukan cinta kenafsuan, tetapi cinta murni. Cinta yang menyebabkan mulia budi seorang pemuda yang dihinggapinya. Pada malam Zainuddin termenung-menung dirumah makan itu, Hayati menunggunya dirumah dengan kurang sabar, sebab sudah datang waktu makan. Dia bertanya kepada Muluk, “mengapa Engku Zanuddin tak juga pulang ? “ “Barangkali tengah malam baru dia kembali, sebab banyak urusannya diluar.”
“mengapa sejak saya disini dia bagai orang ketakutan saja ? Adakah kedatangan saya memberatinya ?” tanya Hayati dengan masygul. “Bukan Encik, “jawab Muluk sambil menghela nafas panjang. “Bukan, Encik jangan salah terima kepadanya.
“Mengapa Abang Muluk larang saya mendekat ke kamar tulisnya ?” “Ah....Encik!” keluh Muluk pula, sambil menggelengkan kepala dan menarik nafas sekali lagi. “Sudah terlalu lama saya makan hati berulam jantung di sini. Berilah saya kepastian. Jangan disusuti juga daging saya, jangan dikuruskan saya oleh angan-angan. Tunjukkan kepada saya, Bang Muluk! Masih berdendamkah dia kepada saya? Masih belum adakah pada Engku Zainuddin maaf kepada saya ?” “Encik...! Duduklah baik-baik di kursi itu...”jawab Muluk.”***
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (142)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (141)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (140)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (139)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (138)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (137)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (136)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (135)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (134)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (133)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (131)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (130)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (129)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (128)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (127)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (126)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (125)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (124)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (105)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (122)