Saturday, Jun 23rd

Last update10:00:00 AM GMT

You are here: Cerita Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (134)

Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (134)

Dekat, Tetapi Berjauhan

"Setelah itu, dia diusir dari sana. Diusir dari tanah asal keturunannya. Tetapi meskipun dia diusir, hatinya tetap teguh, sebab ada seorang perempuan-menurut keterangannya sendiri- yang telah memberi bujukan kepadanya, yang telah berjanji akan menunggunya, bilapun masanya dia pulang. Dia hidup di Padang Panjang dengan pengharapan demikian. Dituntutnya ilmu baik keduniaan atau ilmu akhirat, dengan penghapan bahwa nanti dengan itulah bekalnya menempuh hayat, bersama perempuan yang berjanji itu. Dalam satu pacuan kuda perempuan itu mulai tertarik dengan laki-laki lain, yang lebih gagah, mulia, kaya raya, beradat dan turunan tulen Minangkabau. Tiba-tiab sampailah kepadanya warta bahwa ibu angkatnya itu telah meninggal pula di Mengkasar. Tetapi dia dapat waris Rp3000,00 lantaran mengingat dia telah ada kesanggupan memelihara perempuan itu dengan kekayaan demikian, yang uang itu kemudian dapat diperniagakan bila telah beristri, dicobanyalah meminang perempuan itu kepada keluarganya. Kiranya pinangannya ditolak orang dengan kasar, dia tidak orang Minangkabau, dia tidak orang beradat berlembaga."

"Sudahlah Bang Muluk, sudahlah," ujar Hayati sambil menutup mukanya dengan kedua tangannya.

Perkataan Hayati itu seakan-akan tidak didengarnya, pembicaraan diteruskannya juga.

"Pinangan ditolak orang. Orang lebih suka menerima laki-laki yang lebih cukup syarat-syarat adatnya."

"Sudahlah, Bang Muluk, sudahlah."

"Waktu itulah hatinya mulai remuk. Runtuh hancur luluh rumah kenang-kenangan yang didirikannya di dalam khayalnya. Dicobanya mengirim surat dua dan tiga pucuk kepada perempuan itu meminta dikasihi, meminya supaya dikembalikan pengharapannya itu, minta supaya dijenguk, dilihat, sebab di wajah perempuan itulah tersimpan tali kehidupannya. Kiranya dapat balasan pula, bahwa cinta ditukar dengan persahabatan. Bahwa perempuan itu bukan dipaksa orang lain kawin dengan tunangannya, tetapi atas kemauannya sendiri, sebab sudah dipikirkannya matang-matang. Sebab katanya, dia seorang perempuan miskin, padahal di zaman sekarang perlu uang, dan Zainuddin seorang miskin pula.***


Newer news items:
Older news items: