Pulang
Penumpang bangsa Eropa ada 22 orang, lima anak-anak, dan penumpang-penumpang dek, termasuk Hayati lebih sedikit seratus orang. Setelah menyiapkan tempatnya ditolong oleh beberapa bacok yang baik hati itu, Hayati pun duduklah di tempatnya bersandar ke petinya dengan rupa sedih. Dibukanya bungkusannya, dikeluarkannya gambar Zainuddin dari bungkusan itu, lama sekali dia melihat dan mengamat-amatinya.
Setelah satu jam kapal berlayar, dia kembali tegak ke tepi dek, melihat lampu-lampu yang berkelap-kelip di pelabuhan dan bayangannya yang bagai disemaikan di dalam lautan yang luas itu.
Beberapa jam pula setelah itu, orang-orang dalam kapal telah hening tidur, keheningan itu hanya dipecahkan oleh suara mesin-mesin kapal yang bekerja terus-terusan.
Orang telah tidur, dengan tak mempunyai syak wasangka apa-apa atas kejadian yang telah ditentukan Allah di dalam azal...
Surat Hayati Yang Penghabisan
Besoknya hari Selasa 20 Oktober, barulah Zainuddin kembali dari Malang. Dia masuk ke dalam rumah dengan wajah muram, terus ke kamar tulisnya. Didapatinya Muluk sedang membersihkan buku-buku dan menyusun kertas-kertas yang terserak di atas meja.
"Bang Muluk," katanya dengan tiba-tiba,"kemarilah duduk, ada hal yang akan saya terangkan!"
Muluk segera meletakan sapu bulu ayam yang ada di tengannya, duduk ke sebelah kursi yang ada di hadapan Zainuddin. Dari dalam sakunya dikeluarkannya surat yang ditinggalkan Hayati itu.
"Bang Muluk, terus terang kukatakan, bahwa hatiku berperang sangat hebatnya, sejak akan melepas Hayati pergi, sampai sekarang ini. Saya menyesal melepasnya pergi, tahu benar saya bahwa hidup saya tidak akan selamat kalau tidak di samping Hayati. Semalam, kira-kira pukul satu, dalam hotel yang saya tumpangi di Malang, saya terbangun dari tidur, terdengar oleh telingaku suara Hayati memanggil-manggil namaku.Sejak mendengar itu, mataku tak mau tidur lagi, saya gelisah; tadi pagi dengan perasaan terharu saya bangun dan saya kembali kemari dengan segera.
Bang Muluk...! Cinta saya kepada Hayati masih belum usak walau sebesar rambut sekalipun!"***
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (158)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (157)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (156)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (155)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (154)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (153)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (152)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (151)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (150)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (149)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (147)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (146)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (145)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (144)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (143)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (142)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (141)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (140)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (139)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (138)