Saturday, Jun 23rd

Last update10:00:00 AM GMT

You are here: Cerita Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (152)

Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (152)

Surat Hayati Yang Penghabisan

Adakah engkau tahu hai Zainuddin, siapakah perempuan yang duduk di kamar tulismu kemarin itu?

Yang engkau beri kata pedih, kata penyesalan yang engkau bongkar kesalahannya dan kedosaannya, yang engkau remukan jiwanya dengan tiada peduli?

Perempuan itu tidak lain dari satu bayang-bayang yang telah hilang segenap semangatnya, yang telah habis seluruh kekuatannya, tiada berdaya upaya lagi, habis kekuatan pancaindera dan perasaannya, matanya melihat, tapi tidak bercahaya, telinganya mendengar, tetapi tiada ia mafhum lagi apa yang didengarnya.

Yang tinggal hanya tubuhnya, batinnya sudah tak berkekuatan lagi.

Itulah perempuan yang engkau sakiti itu. Itulah perempuan yang tidak engkau timbang sengsaranya dan ratapnya. Engkau ulurkan kepadanya tanganmu yang kuat dan kuasa, engkau tikam dia dengan keris pembalasan, mengenai sudut jantungnya, terpancur darah dan akan tetap mengalir sampai sekering-keringnya, mengalir bersama dengan jiwanya.

Itulah perempuan yang engkau sakiti itu!

Tetapi sungguhpun demikian pembalasan yang engkau timpakan ke atas pundakku, kesalahanmu itu telah kuampuni, telah kuhabisi, telah kumaafkan. Sebabnya ialah lantaran saya cinta akan engkau. Dan karena saya tahu bahwasanya yang demikian engkau lakukan lantaran cinta jua.

Cuma satu pengharapan yang penghabisan, heningkan hatimu kembali, sama-sama kita habisi kekecewaan yang sudah-sudah, ampuni saya, maafkan saya, letakan saya kembali dalam hatimu menurut letak yang bermula, cintai saya kembali sebagaimana cintaku kepadamu dan jangan saya dilupakan.

Engkau suruh saya pulang ke kampungku dan engkau berjanji akan membantuku sekuat tenagamu sampai saya bersuami pula.
Zainuddin! Apakah artinya harta dan pembantuan itu bagiku kalau bukan dirimu yang ada dekatku?***


Newer news items:
Older news items: