Friday, Jun 22nd

Last update10:00:00 AM GMT

You are here: Cerita Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (153)

Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (153)

Surat Hayati Yang Penghabisan

Saya turutkan permintaan itu, saya akan pulang.

Tetapi percayalah Zainuddin bahwa saya pulang ke kampungku, hanya dua yang kunantikan: pertama kedatanganmu kembali, menurut janji-ku yang bermula, yaitu menunggumu, biar berbilang tahun, biar berganti musim.

Dan yang kedua ialah menunggu maut, biar saya mati dengan meratapi keberuntungan yang hanya bergantung di awang-awang itu.

Selamat tinggal Zainuddin! Selamat tinggal, wahai orang yang kucintai di dunia ini! Seketika saya meninggalkan rumahmu, hanya namamu yang tetap jadi sebutanku. Dan agaklah kelak, engkaulah yang akan terpatri dalam doaku, bila saya menghadap Tuhan di akhirat...

Mana tahu, umur di dalam tangan Allah! Jika saya mati dahulu, dan masih sempat engkau ziarahi ke tanah pusaraku, bacakan doa di atasnya, tanamkan di sana daun puding pancawarna dari bekas tanganmu sendiri, untuk jadi tanda bahwa disanalah terkuburlah seorang perempuan muda, yang hidupnya penuh dengan penderitaan dan kedukaan, dan matinya diremuk rindu dan dendam.

Mengapaku suratku ini banyak membicarakan mati? Entahlah, Zainuddin, saya sendiri pun heran, seakan-akan kematian itu telah dekat datangnya. Kalau kumati dahulu daripadamu, jangan kau berduka hati, melainkan sempurnakanlah permohonan doa kepada Tuham terlapanglah pertemuan kita di akhirat, pertemuan yang tidak akan diakhiri oleh maut dan tidak dipisahkan oleh rasam basi manusia...

Selamat tinggal Zainuddin, dan biarlah penutup surat ini kuambil perkataan yang paling enak diucapkan di mulutku dan agaknya entah dengan itu kututup hayatku disamping menyebut kalimat syahadat, yaitu: Aku cinta akan engkau, dan kalau ku mati, adalah kematianku di dalam mengenangkan engkau"...
Sambutlah salam dari:\
Hayati
***


Newer news items:
Older news items: