Selasa03052013

Last update12:00:00 AM

Back Cerita Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (154)

Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (154)

Surat Hayati Yang Penghabisan

Setelah selesai surat itu dibacanya, dilihatnya Muluk kembali, kiranya kelihatan oleh Muluk pipinya telah penuh dengan air mata. "Bang Muluk!"katanya beberapa saat kemudian, setelah menyapu air matanya."Saya akan berangkat ke Jakarta dengan kereta api malam nanti, pukul 9 besok pagi sampai di Tanjung Priok. Biasanya kapal dari Surabaya merapat di Pelabuhan Tanjung Priok pukul 7 pagi. Hayati akan saya jemput kembali, akan saya bawa pulang kemari."

"Inilah keputusan yang sebaik-baiknya Guru," kata Muluk. Dia berdiri dari tempat duduknya, didekatinya Zainuddin dan dibarut-barutnya punggung anak muda itu. Lalu dia berkata pula,"Mudah-mudahan berhentilah segala kesedihan tuan-tuan keduanya sehingga ini, dan biarlah rahmat Allah meliputi tuan-tuan berdua"...

Sudah putus dalam pikiran Zainuddin, bahwa nanti dengan kereta api malam dia akan berangkat ke Jakarta, menyongsong Hayati di Tanjung Priok, akan dibawanya kembali ke Surabaya. Alam akan jernih, kabut akan sirna, hujan akan teduh, dan kehidupan akan dimulai di dalam keberuntungan.
Tetapi cita-cita manusia tidak dapat melawan kehendak takdir!

Nanti malam dia akan berangkat, padahal pukul 3 sorenya, surat-surat kabar harian yang terbit dalam kota Surabaya telah sampai ke rumahnya. Sebagai seorang yang memang telah terikat pikirannya kepada surat kabar, baru saja koran-koran itu terletak di atas meja, segera dibukanya, Di pagina pertama, dengan huruf yang besar-besar telah bertemu perkabaran "KAPAL VAN DER WIJCK TENGGELAM."

Dia terhenyak di tempat duduknya, badannya gemetar, dan perkabaran itu dibacanya terus:
KAPAL VAN DER WIJCK TENGGELAM
Dari detik ke detik kapal itu semakin hilang ke dalam dasar lautan...***

Share

Newer news items:
Older news items: