Friday, Jun 22nd

Last update10:00:00 AM GMT

You are here: Cerita Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (159)

Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (159)

Setelah hampir setengah jam mereka duduk di sekitar pembaringan itu, dilamun oleh pekik dan rintih orang-orang sakit yang lain, maka Hayati memutar kepalanya sedikit demi sedikit, dan tidak lama kemudian, matanya dibukakannya. Dilihatnya wajah Zainuddin tenang-tenang, maka timbullah dari matanya, sekejap saja, cahaya pengharapan."Kau...Zain..."

"Ya, Hayati! Allah rupanya tak izinkan kita berpisah lagi, bila telah beroleh keizinan dari dokter, kita segera berangkat ke Surabaya."

Dilihatnya pula Muluk tenang-tenang,"...Bang!..Su..rat. "Sudah Hayati, sudah kuberikan!" kata Muluk dan lehernya tersentak hendak menangis. Hayati pingsan kembali.
Juru rawat masuk kembali, bersama dokter setelah memeriksa orang lain, sampailah pemeriksaan kepada Hayati. Dilihatnya muka perempuan muda itu, diperiksanya tangannya, didengarkannya turun naik nafasnya. Setelah beberapa lama selesai memeriksai itu, dia masih berdiri dengan tenang.

"Bagaimana halnya Tuan Dokter?' tanya Zainuddin, dengan wajah yang sangat cemas.

"Dia terlalu payah, darah terlalu banyak keluar, sekarang dia demam."

"Kalau perlu ambillah darahku sendiri Tuan Dokter, untuk menolong jiwanya."

"Sayang disini perkakas tidak cukup. Baru saja dipesankan ke Surabaya, beberapa dokter akan datang membantu kemari."

Dokter pun pergi pula kepada yang lain...

Hari telah mulai malam, si sakit masih tidur dengan tenangnya, Zainuddin dan Muluk duduk menjaga dengan tak mengingat kepayahan. Kira-kira pukul 10 malam dibukanya pula matanya. ***