Friday, Jun 22nd

Last update10:00:00 AM GMT

You are here: Cerita Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (160)

Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (160)

Surat Hayati yang Penghabisan

Bagi orang yang tahu dan biasa melihat tanda-tanda orang yang akan mati, telah kelihatan tanda-tanda itu, cahaya matanya sudah tak ada lagi, bibirnya sudah surut ke atas.

Diisyaratkannya dengan kepalanya menyuruh Zainuddin mendekatinya. Setelah dekat, dibisikannya: "Zainuddin, saya dengar perkataan...Tuan Dokter...saya tahu bahwa waktu...saya ...sudah dekat."

"Tidak Hayati, kau akan sembuh, kita akan kembali ke Surabaya menyampaikan cita-cita kita, akan hidup beruntung, berdua! Tidak....Hayati!....tidak!"

"Sabar...Zain, cahaya kematian telah terbayang di mukaku! Cuma, jika kumati...hatiku telah senang, sebab telah kuketahui bahwa engkau masih cinta kepadaku!"
"Hidupku hanya buat kau seorang Hayati!"
"Aku pun!..."

Beberapa menit kemudian dibukanya matanya kembali, diisyaratkannya pula Zainuddin supaya mendekatinya. Setelah dekat dibisikannya: "Bacalah...dua kalimat suci...di telingaku."

Tiga kali Zainuddin membacakan kalimat Syahadat itu, diturutknnya yang mula-mula itu dengan lidahnya, yang kedua dengan isyarat matanya, dan yang ketiga...dia sudah tidak ada lagi!

Muluk tegak dengan tenang melihat perempuan muda itu melepaskan hidupnya yang penghabisan. Zainuddin bingung dan melihat ke wajah Muluk seakan-akan menanyakan,"benarkah." Orang-orang yang lain, masih berdiri di dekat pembaringan yang lain, tegak dengan hormat di sekeliling mayat itu, seakan-akan memberikan selamat berpisah. Kamar itu menjadi hening diam. Tidak beberapa saat kemudian, orang-orang itu pun pergilah seorang demi seorang dengan takzim dan tafakur, tinggal Zainuddin bersama Muluk, Zainuddin tidak dapat menahan hatinya lagi, didekatinya kelapa mayat itu, dibarutnya rambutnya yang bergelung, air matanya membasahi pipi si mayat, dia meniarap laksana seorang budak mencium tangan penghulunya beberapa saat lamanya, tidak bergerak dan tidak melengong kiri kanan, kemudian dibarutnya kening mayat itu sekali lagi, dan diciumnya bibir yang telah pucat itu, cium yang tidak ada nasibnya buat pendapat semasa hidup, baru dapat diambilnya setelah dia mati. Setelah itu....dia jatuh pingsan, tidak sadarkan dirinya...***