Sepeninggal Hayati
Jenazah Hayati dan Zainuddin yang sakit, telah dibawa oleh Muluk ke Surabaya.
Disanalah Hayati terkubur. Ramai mengantarkan jenazah, terutama orang-orang yang berasal dari Sumatra.
Setelah mayat terkubur, hiduplah yang tinggal dalam kenang-kenangan. Gambar besarnya yang tergantung di kepala lemari buku masih tetap melihat kepada mereka.
Selendang pembalut kepalanya yang berbekas darah, dan gambar Zainuddin yang telah lusuh kena air laut, dan surat penghabisa Hayati, yang terdiri dari tiga kayu kertas, semuanya tersusun di atas meja tulis Zainuddin sebaik-baiknya. Senantiasa dia duduk dalam kamar tulis itu mengamat-amati, merenung segala pusaka yang penuh kenangan itu. Kadang-kadang dia mengeluh menyesali dirinya, sehingga kian hari kian muram.
Setelah cukup tiga hari jenazah Hayati dikebumikan diajaklah Muluk oleh Zainuddin pergi ke pusara itu memarit dan membina kubur, dan menanam puding pencawarna di atasnya, menurut wasiat Hayati. Nisannya diperbuat dari batu marmar yang ditulis begini bunyinya:
HAYATI
Meninggal lantaran kecelakaan
Kapal Van Der Wijck
pada 20 Oktober 1936
Seketika akan pulang, dihadapinya maesan pusara itu seraya berkata, "Amat besar harapanku, supaya aku pun dapat berkubur di dekatmu kelak."
Sejak kejadian yang hebat itu, tubuh Zainuddin kian lama kian lemah, dada sesak, pikiran selalu duka dan sesal yang tiada berkeputusan. ***
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (165)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (164)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (163)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (162)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (160)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (159)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (158)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (157)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (156)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (155)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (154)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (153)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (152)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (151)