Sepeninggal Hayati
Seakan-akan dipandangnya bahwa hidup yang sekarang ini, hanya semata-mata singgah kepada suatu negeri yang menjemukan, yang tidak sedikit juga menarik hati. Seakan-akan seorang berdiri di peron stasiun sambil melihat-lihat jam, menunggu-nunggu kedatangan kereta api dengan tidak sabar, supaya dapat berangkat lekas.
Sebab itu hatinya mulai mundur, tidak begitu suka lagi menerima tetamu yang tertarik kepada karangan-karangannya. Dan tidak pula pergi kemana-mana. Tetapi jika dia duduk seorang dirinya dalam kamar, rasa-rasa kedengaran olehnya suara Hayati memanggil-manggil namanya tengah malam, seketika dia menumpang di sebuah hotel di Malang itu.
Rasa-rasa kedengaran olehnya air bergemuruh masuk ke dalam kapal Van Der Wijck yang mulai karam.
Yang sampai kepada waktu menutup hikayat ini, belum diketahui orang sebab-sebab makanya kapal itu tenggelam dengan tiba-tiba ke dasar lautan. Rasa-rasa terpenging di telinganya, pekik Hayati meminta tolong, tetapi seseorang pun tak ada yang dapat menolong, sebab orang rintang memelihara jiwa sendiri-sendiri.
Mengapa makanya dia kulepas pergi, mengapa tidak kutahani, mengaku aku sekejam itu benar menyuruhnya pergi dari rumahku di waktu menangis beriba-iba meminta dia diberi izin tinggal dengan daku, menyelenggarakan hidupnya, mengembalikan mimpi dan angan-angannya.
Terbayanglah kesetiaan dan keteguhan cinta perempuan itu, bagaimana di dalam mengarung ombak besar, di dalam permainan jiwa raga, dia mengambil gambar Zainuddin, buat dibawanya mati, diikatkannya di dalam selendang yang membalut kepalanya...
Sebulan dua di belakang itu, Zainuddin masih tetap berulang-ulang hampir tiap-tiap hari ke kubur Hayati. Oleh karena beroleh pemandangan dari Muluk, supaya hidupnya tenteram dan pikiran jangan sampai terganggu, hendaklah dia mulai melupakan kejadian yang sedih itu, maka ada jugalah reda pikiran itu sedikit dan telah dimulainya pula mengarang dan menyusun hikayat, yang isinya lebih mendalam dan meresap dari yang dahulu. Tetapi belum dikirimnya buat disiarkan. ***
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (165)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (164)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (163)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (161)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (160)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (159)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (158)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (157)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (156)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (155)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (154)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (153)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (152)