Wednesday, Jun 20th

Last update10:00:00 AM GMT

You are here: Cerita Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (164)

Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (164)

Penutup

Saya bangun dari tidur dan pergi melihatnya. Kulihat nafasnya amat sesak. Lalu segera aku panggilkan dokter.

Sayang dokter hanya menunjukan nama penyakit, tetapi tak kuasa menolong. Jantungnya bergerak amat keras, tengah menulis akhir dari suatu karangannya.

Lidahnya segera surut sehingga tak dapat bercakap-cakap lagi. Di dekat dokter dia menengok saya setenang-tenangnya. Seakan-akan ada yang akan dikatakannya. Setelah itu dilihatnya sebuah tas penyimpan bundel surat-surat, tenang-tenang, dan ditentangnya pula muka saya.

Akhir sekali dia melihat kepada gambar besr di dinding itu. Setelah itu dia pun pergilah, buat selama-lamanya...
Tengah hari kemarin mayatnya telah dikuburkan di dekat kuburan Hayati, orang yang dicintainya itu. Orang yang telah menyebabkan kemasyhurannya. Sekembali dari pusar, bundelan surat-surat itu kubaca:

WASIATKU

"Saya tidak ada lagi mempunyai keluarga yang akan menerima hartaku. Ada uangku tersimpan sedikit dalam bank. Semuanya aku hadiahkan kepada sahabatku Muluk, yang telah bertahun-tahun sesakit sesenang dengan daku. Harta peninggalan ayah bundaku di Mengkasar menjadi hadiah pula untuk orang tua yang menjagainya: Daeng Masiga.
Karangan-karanganku kuserahkan kepada 'Klub Anak Sumatra'. Sedapat-dapatnya karangan-karangan itu dicetak, dan hasil keuntungnya diambil pembantu anam muda yang terlantar dalam menuju cita-citanya."
***