Thursday, Nov 17th

Last update10:00:00 AM GMT

You are here: Cerita

Di Bawah Lindungan Ka'bah (24)

Harapan Dalam Pengharapan

Engkau kan tahu, Ros, bahwa Hamid tidak begitu gagah, tidak sepantas dan selagak pemuda lain, tetapi hati kecilku amat kasih kepadanya, agaknya hidupnya yang sederhana itulah yang telah memaut hati sanubariku. Saya amat iba kepadanya, karena saya merasa bahwa tak ada orang lain yang akan mengibai dirinya. Heran, Ros, saya telah karam di dalam khayal, di dalam angan-angan.

Di Bawah Lindungan Ka'bah (23)

Harapan Dalam Penghidupan

Mula-mula Zainab termenung, setelah beberapa saat lama iapun berkata,"Ingatkah engkau, Ros, bahwa dahulu ada anak muda bernama Hamid?"

"Masakan saya tak ingat, anak muda yang baik budi dan beroleh pertolongan dari almarhum ayahmu itu".

"Ah, Ros, saya amat kasihan kepada anak muda itu. Dia seorang muda yang cukup miskin mendapat bantuan dari ayahku. Semasa usia empat tahun ia telah yatim.

Di Bawah Lindungan Ka'bah (22)

Berita Dari Kampung

Zainab menjawab,"Salah sekali persangkaanmu, Sahabat! Bahwasanya air mata tiadalah ia memilih tempat untuk jatuh, tidak pula memilih waktu untuk turun.

Air mata adalah kepunyaan berserikat, dipunyai oleh orang yang melarat yang tinggal di dangau-dangau yang buruk, oleh tukang sabit rumput yang masuk ke padang yang luas dan ke tebing yang curam, dan juga oleh penghuni gedung-gedung yang permai dan istana-istana yang indah.

Di Bawah Lindungan Ka'bah (21)

Berita Dari Kampung

Telah setahun saya di sini dan waktu mengerjakan haji telah datang. Tuan sendiri yang mula-mula saya kenal semenjak datang orang-orang yang akan mengerjakan haji dari Tanah Air kita.

Kemudian sebagai Tuan maklum, datang pula saudara kita Saleh. Saleh adalah seorang teman saya semasa kami masih sama-sama bersekolah agama di Padang Panjang.

Di Bawah Lindungan Ka'bah (20)

Berjalan Jauh

Tetapi kalau ia nyata ada mempunyai perasaan sebagai yang saya rasai dan surat itu diterimanya dengan sepertinya, tentu sekurang-kurangnya saya akan menerima belas kasihannya, sebagai seorang melarat yang diarak untung perasaian.

Demikian bunyi surat itu, masih hafal oleh saya:

Di Bawah Lindungan Ka'bah (19)

Berjalan Jauh

Dua kejadian yang berjuang pada hari itu, cukuplah untuk menentukan tujuan nasib saya, nikmat hati hanya lalu sebagai khayal belaka. Setelah melayap laksana satu bayangan, ia pun hilang dan tidak akan kembali lagi.

Kepada Tuhan dapatlah saya mengantarkan suatu pengurbanan untuk seorang perempuan yang lemah, saya telah menolongnya, membujuk hati anaknya yang keras.

Di Bawah Lindungan Ka'bah (18)

Tegak dan Runtuh

Beberapa menit lamanya hening saja dalam ruangan itu, tak seorang jua diantara kami yang berkata-kata, ibunya seakan-akan menunggu supaya perkataan itu lekas dimulai, Zainab kelihatan agak gugup, tak mau melihat muka saya, sedang saya masih termenung memikirkan dari manakah pembicaraan itu akan saya mulai.

"Bicaralah, Hamid, banyak amat tempo yang terbuang," kata ibunya dengan tiba-tiba.

Di Bawah Lindungan Ka'bah (17)

Tegak dan Runtuh

"Hampir mamak terlalai dari janji kita. Tadi mamak pergi ke rumah orang sebelah, karena tidak lama lagi ia akan mengawinkan anaknya, dari sekarang sedang bersiap-siap menyediakan yang perlu, maklumlah tetangga perlu bantu membantu."

Saya dengarkan perkataanya, tetapi pikiran saya masih tetap ingat dengan kejadian tadi. Pikiran saya menjalar kemana-mana, memikir-mikirkan tekur Zainab dan mukanya yang merah ketika mula-mula melihat saya, hanya suatu kejadian yang tiba-tibakah itu, atau adakah dia merasai sebagai yang saya rasai? Dalam pada itu, Mak Asiah masih tetap membicarakan beberapa perkara, menyebut-nyebut jasa suaminya, menyebut kebaikan ibuku. Akhirnya sampailah pembicaraan kepada Zainab.

Di Bawah Lindungan Ka'bah (16)

Tegak dan Runtuh

Setelah itu ia pun pergi, di tengah jalan, sebelum mereka naik sado, rupa-rupanya pembicaraan mereka terhadap kepada diri saya saja. Karena tak berapa langkah jauhnya, perempuan-perempuan tua yang lain menoleh kepada saya sebagai rupa orang yang menunjukan kasihan.

Di Bawah Lindungan Ka'bah (15)

Seperuntungan

"Mudah-mudahan," jawab saya.

Demikianlah nasihatnya kepada saya, setelah itu kekuatannya tak ada lagi. Dari saat ke saat, hanya yang kelihatan kepayahannya menyelesaikan napas yang turun naik, kadang-kadang dilihatnya saya tenang-tenang dan dingangakannya mulutnya sedikit minta minum. Obat-obatan tak memberi faedah lagi. Tidak beberapa malam setelah dia memberikan nasihat itu, datanglah masa yang ditunggu-tunggunya, masa perpindahan dari alam yang sempit kepada alam yan lapang. Sementara saya asyik meminumkan obat, di tangan kanan saya terpegang sendok dan di tangan kiri terpegang gelas, ia melihat kepada saya tenang-tenang, alamat perpisahan yang akhir. Dari mulutnya keluar kalimat baka, bersama dengan kepergian nyawanya ke dalam alam suci, yang disana manusia lepas dari segala penyakit.

Di Bawah Lindungan Ka'bah (14)

Seperuntungan
"Meskipun Zainab suka kepada engkau...karena agaknya batinnya suci dari perasaan takbur dan mengangkat diri, tidaklah langsung kalaunya ibunya tak suka. Diletakkan ibunya suka, bermupakat orang itu dahulu dengan kaum kerabat, handai, dan tolan. Kalau mereka tak sepakat, waktu itulah kelak engkau diserang oleh putus asa, oleh malu, dan kadang-kadang memberi melarat kepada jiwamu. Sebab waktu api belum besar tidak engkau padamkan lebih dahulu."

Di Bawah Lindungan Ka'bah (13)

Seperuntungan

"Apakah yang Ibu maksudkan?"

"Sebagai seorang yang telah lama hidup, ibu telah mengetahui suatu rahasia pada dirimu"

"Rahasia apa Ibu?"

"Engku cinta pada Zainab?"

"Ah, tidak Ibu, itu barang yang amat mustahil dan itulah yang sangat anakanda takuti. Anakanda tak cinta kepadanya dan takut akan cinta. Anakanda belum kenal 'cinta'. Anakanda takkan memperbuat barang yang sia-sia dan percuma, anakanda tahu bahwa jika anakanda mencurahkan cinta kepadanya takkan ubahnya dengan seorang mencurahkan semangkuk air tawar ke dalam lautan yang mahaluas, laut takkan merubah sifatnya karena semangkuk air tawar itu."

Page 10 of 11