Thursday, Nov 17th

Last update10:00:00 AM GMT

You are here: Cerita

Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (86)

Pengharapan Yang Putus

Mereka telah salah menerangkan, mereka katakan bahwa hidup itu ialah buat makan dan buat minum saja, atau buat mengumpul-ngumpulkan baju yang baru, guntingnya yang indah dan paling model.

Mereka telah mengukur kehidupan dengan rumah yang cantik, gedong yang permai, villa yang indah.

Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (85)

Pengharapan Yang Putus
Apakah keadaanku yang tidak kau setujui Hayati?

Apakah yang telah menyebabkan dengan segera namaku kau coreng dari hatimu?

Ah Hayati, kalau kau tahu!Agaknya belum pernah ada orang lain jatuh cinta sebagaimana kejatuhanku ini. Dan bila kau alami kelak agaknya tidak juga akan kau dapati cinta sebagai cintaku. Cintaku kepadamu lebih dari cinta saudara kepada saudaranya, cinta ayah kepada anaknya. Kadang-kadang derajat cintaku sudah terlalu amat naik, sehingga hanya dua yang menandingi kecintaan itu, pertama Tuhan dan kedua mati.

Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (84)

Pengharapan Yang Putus

Masih belum akan rebah dangau di sawah, tempat mereka mula-mula mengikat janji. Agaknya batang cingkaring di kiri jalan ke Padang Panjang, tempat Hayati melepasnya dahulu masih belum bertukar daun. Mengapakah cinta itu akan berubah. Janjinya terlalu berat, kedatangannya akan ditunggunya, walaupun setahun atau dua tahun, walau musim berbilang zaman, Zainuddin akan ditunggunya.

Ah, ....tidak, Hayati masih suci! katanya. Lalu diambilnya kertas dari dalam laci dan dia mulai menulis.

Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (83)

Pengharapan Yang Putus
"Sebenarnyakah begitu Bang Muluk?"

"Apakah faedahnya saya melebihi dan mengurangi yang sebenarnya saya lihat, Guru? Dalam perkara judi saya berdosa, dalam perkara yang lain dapat hendaknya saya timbulkan dengan kebaikan.

Aziz...siapa kami yang tak akan kenal kepadanya? Sudah berapa kali dia memelihara perempuan dengan tidak kawin dalam rumahnya di Padang."

"Allah...nasib kau Hayati!"

Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (82)

Pengharapan Yang Putus

"Terima kasih," jawab Zainuddin. Lalu dia mulai menceritakan halnya sejak mulai ayahnya terbuang, kematian ayah bundanya, perjalanan ke Minangkabau,

perkenalan dengan Hayati, dia diusir orang dari Batipuh, kematian mak angkatnya, suratnya ditolak orang, sampai kepada surat Khadijah yang baru saja diterimanya, semuanya tidak ada yang ketinggalan.

Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (81)

Pengharapan Yang Putus
Tetapi dihalangi oleh ibunya, disuruh duduk dahulu. "Engku muda ini hendak berbicara sedikit dengan engkau, Muluk!" kata Maknya.
Muluk dengan amat hormat duduk ke kursi, Zainuddin keluar dari kamarnya dan sesudah berjabat tangan dengan dia, Zainuddin duduk ke dekatnya.

"Apa kabar, Guru? Selamat dalam perjalanan pulang balik?"

"Selamat, tak kurang suatu apa. Sebetulnya saya sudah hampir setahun tinggal dalam rumah ini, tetapi kita belum juga berkenalan yang rapat. Sebab Bang MUluk rupanya agak segan bertemu dengan saya, seakan-akan saya dipandang orang lain!"

Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (80)

Pengharapan Yang Putus
Perempuan itu masuk dan bertanya,"Mengapa engkau termenung saja anakku? Apa kabar di dalam perjalan sudah lebih sepuluh hari meninggalkan rumah, indahkah negeri yang engkau lihat? Adakah puas mata memandang?"

"Semua indah, Mak, memang negeri-negeri Minangkabu ini cantik dan menghidupkan semangat semua."

Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (79)

Pengharapan Yang Putus
Surat itu diambilnya dan dibawanya ke kamarnya. Sebelum baju yang lekat di badannya dibukanya, surat itu dibukanya dahulu, kiranya surat dari seorang perempuan, tetapi bukan surat dari hayati:

Engku Zainuddin!

Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (78)

Pengharapan Yang Putus
Ditinggalkannyalah Padang Panjang, terus ke Padang, ke Bandar Sepuluh, melihat ombak memukul pantai di Tepi Batang Batang Kapas, mendengarkan anak-anak perahu melagukan lagu pelayaran. Terus ke Kurinci melihat keindahan alam disana, melihat puncak Gunung Kurinci yang indah dan danaunya yang hijau. Setelah tiga hari dia di Kurinci, kembali dia ke Padang. Dengan melalui Sitinjau Laut, dia pergi ke Solok, ke Tambang Sawah Lunto, berbalik dan terus ke Batu Sangkar. Dengan melalui Tebat Patah dia pergi ke Payakumbuh, ke Manggani dan ke tempat-tempat yang lain. Katanya hendak mengobati hati tetapi percuma, karena tidaklah akan sembuh sesuatu penyakit, kalau nama penyakit lain dan obatnya lain pula, bukan menyembuhkan, tetapi menambah dalamnya penyakit saja.

Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (77)

Pengharapan Yang Putus

Dihalangi, atau tidak dikabulkan permintaannya, diterimanya dengan sabar dan tawakal, apa boleh buat! Memang sudah suratan nasibnya sejak kecil akan selalu dibesarkan oleh sengsara, digedangkan dengan keluhan. Itu akan diterimanya, asal saja Hayati tetap cinta kepada dirinya. Karena daerah perjuangan cinta lebih luas daripada yang dapat dikira-kirakan. Kalau maksud hasil, terjadi perkawinan. Kalau tidak, maka terpatrilah persaudaraan yang kekal sampai tua menjunjung uban, sebagaimana pernah dihikayatkan oleh Alexander Dumas dalam bukunya Graaf de Monre Cristo, bahwasanya meskipun Edmond Dantes telah tua, telah menjadi seorang luar biasa yang berpengaruh; meskipun Mercedes telah bersuamikan Fernand dan telah beroleh anak pula.Seketika Edmond Dantes pulang ke Paris 15 tahun kemudian, dengan rupa yang lain, seorang pun tiada yang kenal siapa dia, hanyalah Mercedes seorang saja. Kemudian setelah Edmond Dantes atau Graaf De Monte Cristo terpaksa bermain anggar dengan anak Mercedes maka di atas nama cinta yang lama itulah Mercedes memohonkan kepada Graaf itu supaya pertandingan itu diurungkan saja.

Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (76)

Pengharapan Yang Putus
Kalau penolakan di atas nama adat, maka adat yang manakah yang menolak seorang yang telah berjanji setia dan berniat hendak teguh memegang perjanjian itu? Kalau bertolak lantaran dia orang Mengkasar, maka adat seluruh dunia menerima kedatangan anak, sebab dia anak dari ayahnya, dan ayahnya orang Minangkabau tulen.

Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (75)

Pertimbangan

"Jawablah Hayati!"

"Bagaimana...yang akan baik kata ninik mamak saja...saya menurut!"

"Alhamdulillah," ujar yang hadir. Doa pun dibacakan!

Apakah lagi jalan yang lain yang harus dipilihnya lain daripada itu. Dia menyerah kepada takdir, terpaksa mungkir akan janjinya yang terdorong, sebagaimana kebanyakan anak-anak perempuan yang lain juga, sebab yang memutuskan janji bukan dia, hidupnya tersangkut dengan keluarganya.

Page 2 of 11