SEPERUNTUNGAN
Setelah beberapa lama kemudian, dengan tidak disangka-sangka satu musibah besar telah menimpa kami berturut-turut. Pertama ialah kematian yang sekonyong-konyong dari Engku Haji Ja'far yang dermawan itu. Ia seorang yang sangat dicintai oleh penduduk negeri, karena ketinggian budinya dan kepandaiannya dalam bergaul, tidak ada satu pun perbuatan umum disana yang tak dicampuri oleh Engku Haji Ja'far. Kematiannya membawa perubahan, yang bukan sedikit kepada perhubungan kami dengan rumah tangga Zainab. Dia telah membukakan yang luas kepada saya memasuki rumahnya di zaman hidupnya, sekarang pintu itu mau tak mau telah tertutup.
Di Bawah Lindungan Ka'bah (12)
Di Bawah Lindungan Ka'bah (11)
Apakah Namanya Ini?
Dalam hati, saya teringat hendak menulis surat kepadanya, akan ganti diri saya menerangkan segala perasaan hati. Surat itu akan saya tulis dengan tulus dan ikhlas, tidak bercampur dengan kata-kata yang dapat menyinggung hati, baik perkara cinta atau perkara lainnya, apalagi surat itu tidak akan diketahui orang isinya jika ditulis dalam bahasa Belanda.
Tetapi, ah...saya tidak sampai hati, sebab perbuatan itu adalah suatu kelakuan sia-sia belaka. Jika perbuatan itu hanya sehingga daerah persaudaraan di antara adik dan kakak, tidaklah mengapa.
Di Bawah Lindungan Ka'bah (10)
Apakah Namanya Ini?
Saya berasa sebagai orang yang kehilangan, padahal jika saya periksa penaruhan saya, pasti meja tulis, kain dan baju, semuanya cukup. Tetapi badan saya ringan, seakan-akan ada sesuatu kecukupan yang telah kurang.
Di Bawah Lindungan Ka'bah (9)
Apakah Namanya Ini?
Saat yang ditakuti pun datanglah, dengan hati yang riang bercampur masygul, saya terpaksa meninggalkan bangku sekolah. Riang, karena saya telah beroleh diploma dan masygul karena berpisah dengan teman-teman, artinya masa gembira, masa menghadapi zaman yang akan datang dengan penuh kepercayaan telah habis.
Setelah guru membagikan diploma kami masing-masing, dengan bersorak kami meninggalkan pekarangan sekolah, kami bersalam-salaman satu dengan yang lain dan guru memberi kami peringatan, supaya sekolah kami diteruskan bagi siapa yang sanggup.
Di Bawah Lindungan Ka'bah (8)
Penolong
Waktu itu bila pulang dari sekolah, saya dan Zainab bersama teman-teman kami yang lain berlari-lari bermain galah dalam pekarangan rumahnya, memanjat pohon rambutan yang sedang ranum, kadang-kadang bercari-carian dan bersorak-sorak.
Waktu itu ibuku dan ibunya sedang duduk di beranda belakang, ibuku senantiasa merendahkan diri, melihat kami dengan rasa suka cita. Kadang-kadang di waktu sore kami duduk di beranda muka, membalik-balik buku gambar, bertengkar dan berkelahi, kemudian damai pula.
Di Bawah Lindungan Ka'bah (7)
Penolong
Peribahasa yang halus dari Mak Asiah adalah didikan juga dari suaminya, seorang hartawan yang amat peramah kepada fakir miskin. Konon kabarnya, kekayaan yang didapatnya itu adalah dari usahanya sendiri dan cucur peluhnya, bukan waris dari orang tuanya. Dahulunya dia seorang yang melarat juga, tetapi berkat yakinnya, terbukalah baginya pintu pencaharian.
Sungguhpun dia telah telah kaya raya, sekali-kali tidaklah dia lupa kepada keadaan tempo dahulu, dia amat insaf melihat orang-orang yang melarat, lekas memberi pertolongan kepada orang yang berhajat.
Di Bawah Lindungan Ka'bah (6)
Anak Yang Kematian Ayah
Lama-lama tertariklah perempuan setengah tua itu hendak memanggil jualan saya, demikian juga anaknya. Pernah kedengaran oleh saya dia berkata,"Panggilah Nab, kasihan juga juga awak!"
Perempuan itu suka memakan sirih, mukanya jernih, peramah dan penyayang. Pak Paiman yang telah jadi jongos untuk memelihara pekarangan itu, belum pernah dapat suara keras darinya. Anak perempuannya itu masih kecil, sebaya dengan saya. Apa perintah ibunya diikutinya dengan patuh, ruapanya ia amat disayangi karena anaknya hanya seorang itu.
Di Bawah Lindungan Ka'bah (5)
Anak Yang Kematian Ayah
Kadang-kadang ada juga disuruhnya saya bermain-main, tetapi hati saya tiada dapat gembira sebagai teman-teman itu, karena kegembiraan bukanlah saduran dari luar, tetapi terbawa oleh sebab-sebab yang boleh mendatangkan gembira itu. Apabila kalau saya ingat, bagaimana dia kerap kali menyembunyikan air matanya di dekat saya, sehingga saya tak sanggup menjauhkan diri darinya.
Di Bawah Lindungan Ka'bah (4)
Mekkah Pada Tahun 1926
Mendengar ucapan saya itu mukanya kembali tenang dan ia berkata,"Jika telah demikian Tuan berjanji, tentu Tuan tidak akan menyia-nyiakan janji itu dan saya telah percaya penuh kepada Tuan, karena kebaikan budi Tuan dalam pergaulan kita selama ini. Saya akan menerangkan kepada Tuan sebab-sebab saya bersedih hati, akan saya paparkan satu per satu, sebagaimana berkata-kata dengan hati saya sendiri. Memang, saya harap Tuan simpan cerita perasaan saya ini selama saya hidup, tetapi jika saya lebih dahulu meninggal daripada Tuan, siapa tahu ajal di dalam tangan Allah, saya izinkan Tuan menyusun hikayat ini baik-baik, mudah-mudahan ada orang yang akan meratap memikirkan kemalangan nasib saya, meskipun mereka tidak tahu siapa saya. Moga-moga air matanya akan menjadi hujan yang dingin memberi rahmat kepada saya di tanah pekuburan."
Di Bawah Lindungan Ka'bah (3)
Mekkah Pada Tahun 1926
Setelah mustaid (siap), Saleh baru berangkat ke Madinah.
Kedatangan sahabat baru itu mengubah keadaan dan sifat-sifat Hamid. Entah kabar apa agaknya yang baru dibawa Saleh dari kampung yang mengganggu ketenteraman pikiran Hamid. Ia bertambah sungguh membawa kitab-kitab, terutama tasawuf karangan Imam Gazali. Kadang-kadang kelihatan ia bermenung seorang diri di atas sutuh* rumah tempatnya tinggal, melihat tenang-tenang kepada "gela'ah" (benteng-benteng) tua di atas puncak Jabal Hindi. Saya seakan-akan tiada dipedulikannya lagi. Satu kali terlihat oleh saya, ketika saya mengerjakan tawaf keliling Ka'bah, ia bergantung kepada Kiswah**, menengadahkan mukanya ke langit, air matanya titik amat deras membasahi serban yang membalut dadanya, kedengaran pula ia berdoa,"Ya Allah! kuatkanlah hati hambaMu ini!"
Di Bawah Lindungan Ka'bah (2)
Mekkah Pada Tahun 1927
Saya telah mendengar, diantara azan (bang) yang sayup-sayup sampai di puncak menara yang tujuh, diantara gemuruh doa manusia yang sedang berkeliling (tawaf)* di sekitar Ka'bah, diantara takbir umat yang sedang berlari balik antara Bukit Safa dan Marwa**, saya telah mendengar ratap dan rintih seorang makhluk Tuhan, sayup-sayup sampai, antara ada dengan tiada, hilang-hilang timbul di dalam gemuruh yang hebat itu.
Di Bawah Lindungan Ka'bah (1)
Surat dari Mesir
Sudah saya terima surat Sahabat yang terkirim bulan yang lalu. Mula-mula saya sangat bersedih hati, sebab semenjak kita bercerai-cerai di Jedah, tak pernah saya menerima surat dari engkau lagi. Tetapi setelah surat itu saya terima dan saya baca, hilanglah kesedihan dan kedukaan saya, nyata bahwa engkau tiada melupakan saya.
Maksud yang engkau terangkan itu, amat saya setujui, itulah maksud yang baik, sebab itu adalah suatu hikayat dan kejadian yang mendukakan hati dan merawankan pikiran, yang kerap kali benar kejadian dalam kalangan pemuda-pemuda kita.
Page 11 of 11