Thursday, Nov 17th

Last update10:00:00 AM GMT

You are here: Cerita

Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (74)

Pertimbangan

Dia memulai,"Hayati...inilah, yang duduk ini mamak dan ninikmu, perlindungan persukuanmu, yang mengebat erat memancung putus. Memperkatakan baik dan buruk, hina dan mulia dari agi, telah berkering tempat duduk, telah berhabis pinang sirih. Mencari yang akan elok..

Datang permintaan orang untuk meminangmu, yaitu Aziz di Padang Panjang dan datang pula sepucuk surat dari Zainuddin, itu juga maksudnya, Setelah kami timbang melarat dan manfaat, Azizlah yang kami terima. Kami panggil engkau sekarang menyatakan kebulatan itu, supaya engkau terima dengan suka. Bagaimana pertimbanganmu?"

Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (73)

Pertimbangan

"Itu betul, tetapi tiap-tiap bangsa itu mengakui mereka pula yang lebih asal, yang lebih dahulu mencacak perumahan Pulau Perca ini."

Datuk Garang yang kurang biasa disanggah oleh yang muda-muda telah agak meradang, terus berkata..."Wa' aden labiah tahu dari kalian (Saya lebih tahu dari kamu semua)."

Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (72)

Pertimbangan

Setelah dibicarakan panjang lebar, hampirlah bulat mufakat hendak menerima Aziz. Karena menurut pepatah: "Ruas telah bertemu dengan buku, bagai janggut pulang ke janggut, sama berbangsa keduanya, satu bulan satu matahari."

Ketika musyawarat itu diadakan, Hayati disuruhnya pergi dahulu ke rumah sebelah, karena hal ini mengenai dirinya.

Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (71)

Meminang

Mamak-mamak duduk berapat di kepala rumah yang dihilir, perempuan-perempuan duduk di dekat jalan ke dapur, mendengarkan buah mufakat dari jauh.

Orang semanda, yaitu suami dari kemenakan-kemenakan, dari pagi sudah sengaja tidak pulang, sebab "orang" akan musyawarat dalam sukunya, padahal mereka hanya urang semanda, mengebat tidak erat, memancung tidak putus, lengau di ekor kerbau, debu di atas tunggul, lecah lekat di kaki.

Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (70)

Meminang

Apa gunanya lagi saya sembunyikan maksud hati saya. Sekarang saya katakan terus terang, saya hendak hidup dengan kemenakan Engku, Hayati.

Karena sebagai banyak Engku dengar di kampung, sungguh hidup saya tak beruntung kalau tidak dengan dia.

Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (69)

Meminang

Kesedihanmu telah berakhir. Dan selain dari sengsara sebanyak yang menimpa dirimu, engkau jangan lupakan bahwa engkaupun dapat nikmat pula.

Engkau mencintai dan engkau dicintai...Hayati.
Tiga ribu rupiah Hayati!

Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (68)

Meminang

Saya sampaikan surat ini kepadamu, juga sebagai menerangkan wasiat dan peninggalan almarhumah,

yaitu supaya kelak jika engkau ada nasib kembali ke Mengkasar ziaralah ke kuburannya, yang tiada orang yang mempedulikan kalau bukan engkau sendiri.

Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (67)

Meminang

Pada waktu yang telah ditentukan, setelah segenap mufakat Aziz dengan keluarganya, disuruhlah orang suruhan yang bijak menyampaikan permintaan kepada kaum kerabat Hayati, membawa sirih nan secabik, pinang nan segetap.

Sampai di Batipuh diterima dengan peribahasa yang halus-halus oleh kaum kerabat Hayati, maklumlah mengadu malu dengan budi.

Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (66)

Bimbang

Yang selalu mengancam akan suburnya ialah kemiskinan. Kalau harta cukup, cinta menjadi, kalau harta tak ada, pergaulan terancam.

Cinta itu, Hayati! Cinta dan rindu dendam kasih sayang dan asyik masyuk, biarlah selamanya tinggal dalam khayal dan angan-angan pengarang hikayat, pengarang syair dan ahli pantun.

Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (65)

Bimbang

Maka dengan terus terang sekali lagi kukatakan, bahwa engkau selidiki dengan saksama, sebenarnya bukanlah Zainuddin cinta akan dikau kalau memang dia hendak mengambilmu jadi istrinya.

Zainuddin adalah ahli angan-angan, ahli syair. Orang yang demikian mendirikan seorang perempuan cantik dalam angan-angannya, untuk memperdalam irama aliran syairnya.

Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (64)

Bimbang

Bila bayangan yang gembira itu datang, musik yang merdu dari suara pergeseran pohon bambu di belakang rumah, yang biasa membuaikan lagu kerinduan, kulik elang tengah hari di udara,

yang biasa menghidupkan irama orang yang tengah dirayu cinta, desir air yang mengalir dalam sungai yang biasa mengalirkan semangat harapan dari orang yang tercinta.

Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (63)

Bimbang

Begitulah keadaan Zainuddin yang hidup laksana layang-layang tak dapat angin, tak tentu turun naiknya, selalu gundah gulana disebabkan oleh pukulan cinta.

Bukan Hayati telah melupakan Zainuddin, belum pula dia cinta kepada Aziz dengan arti cinta yang ada kepada Zainuddin. Tapi yang dapat dilihat, sejak menginjak Padang Panjang, perasaan Hayati yang dahulu, sudah berangsur hilang.

Page 3 of 11