Bimbang
Lama-lama pembicaraan itu hampir akur, Aziz amat tertarik dengan kecantikan Hayati.
Dia sekarang hendak melepaskan pendapat yang lama, hidup membujang, dia hendak mengambil Hayati menjadi istrinya.
Thursday, Nov 17th
Last update10:00:00 AM GMT
Bimbang
Lama-lama pembicaraan itu hampir akur, Aziz amat tertarik dengan kecantikan Hayati.
Dia sekarang hendak melepaskan pendapat yang lama, hidup membujang, dia hendak mengambil Hayati menjadi istrinya.
Bimbang
Ketika dia akan naik bendi, Aziz serta Khadijah, dan ibunya, sama-sama melepas. Ketika berjabat salam, lama sekali tangannya dipegang oleh Khadijah.
Dengan sikap yang sungguh-sungguh Khadijah berkata, "Jika ada mulutku yang ganjil kepadamu, kalau manis jangan lekas diulur, kalau pahit jangan lekas diludahkan, pikirkan baik-baik dahulu."
Bimbang
Tetapi setelah saya ketahui bahwa engkau telah mencintai seorang yang bukan jodohmu, saya katakan sekarang, bahwa hatiku tak senang kalau tak saya katakan kepadamu hal yang sebenarnya.
Saya cinta sekali kepada engkau, sahabatku! Alangkah beruntunglah kita, jika suami saya dan suamimu dapat duduk sama rendah tegak sama tinggi kelak, sama-sama dapat mengaji asal usul, ke atas boleh di tengedahkan, ke bawah boleh ditekurkan.
Bimbang
Dalam pergaulan beberapa hari di Padang Panjang, dan melihat pacu kuda, pasar keramaian, berjalan-jalan makan angin di tempat-tempat yang indah.
pergaulan di atas rumah yang bebas, tentu saja hati Aziz tertarik melihat kecantikan Hayati.
Bimbang
Sedang pada perempuan kampung semuanya itu tidak lengkap. Akan beristri orang kota, tingkahnya banyak, mintanya bukan sedikit.
Dia mau menonton, mau ini, mau itu, kadang-kadang hendak mengatur langkah lakinya menurut sukanya.
Pacu Kuda dan Pasar Malam
Berkali-kali engkau menyebut nama Tuhan, seakan-akan kami yang lain ini tidak bertuhan pada pemandanganmu.
Padahal tidaklah Tuhan sekeras itu aturan-Nya, Dia tidak memberati manusia lebih daripada kuat kuasanya.
Pacu Kuda dan Pasar Malam
Sedang asyik membaca surat itu, tiba-tiba pintu kamarnya terbuka, masuklah Khadijah.
Hayati mencoba hendak menyembunyikan surat itu ke bawah bantalnya, tetapi direbut segera oleh Khadijah dan dibacanya.
Pacu Kuda dan Pasar Malam
Pergaulan kota telah mulai menjalar ke kampung-kampung, kedamaian dan kerukunan hidup dalam kampung telah mulai diusik oleh nafsi-nafsi orang kota.
Banyak orang tua-tua yang mengeluh dan merasa takut, kalau-kalau ketenteraman perempuan dalam adatnya dan kedamaian pemuda dalam sopannya akan terganggu oleh gelora zaman baru.
Pacu Kuda dan Pasar Malam
Oleh sebab yang demikian, tidaklah patut kita heran, jika Hayati bermenung, mukanya tertekur, kepalanya terasa sakit, melihat kecintaannya tidak segagah orang lain, tidak sepandai orang lain memakai pakaian, seakan-akan orang yang tersisih.
Selama ini, tidak ada dunia bagi Hayati lain dari Zainuddin, belum ada keindahan alam yang dipandangnya selain Zainuddin. Kegagahan laki-laki adalah perbuatan Tuhan, Zainuddin patrinya.
Pacu Kuda dan Pasar Malam
Orang banyak bersorak-sorak melihat kuda yang menang, anak-anak muda itu turut bersorak, hanya Hayati saja yang terdiam.
"Ah, mengapa mukamu merah Hayati?" tanya Khadijah
"Kepalaku sangat sakit," katanya, "lebih baik kita segera pulang."
Tidak berapa saat mereka duduk dalam tribune itu mereka pun pulanglah...
Pacu Kuda dan Pasar Malam
Tertegun langkah Hayati, sehingga langkah kawan-kawannya yaitu Khadijah dan tiga orang gadis-gadis muda yang lain itu tertegun pula. Apalagi Aziz dan teman-temannya.
"Mengapa berhenti Hayati?" tanya Kahdijah sambil melihat tenang-tenang kepada Zainuddin dengan penglihatan menghina.
"Kenapa tertegun? Dan siapakah ini?" tanya Khadijah sekali lagi.
Pacu Kuda dan Pasar Malam
Setelah bertengkar-tengkar, yang hampir saja menyebabkan Hayati tidak jadi pergi, tetapi mengingat hendak bertemu dengan Zainuddin nanti, dipakainya juga pakaian itu.
Mula-mula mengalir keringat di dahinya karena belum biasa.
Page 4 of 11