Thursday, Nov 17th

Last update10:00:00 AM GMT

You are here: Cerita

Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (50)

Pacu Kuda dan Pasar Malam

Tetapi kaku dan bingung itu hanya sehari dua hari, di hari yang ketiga sudah mulai agak hilang, meskipun masih berkesan.Semalam sebelum datang waktunya orang berpacu, Khadijah telah mengatur perjalanan mereka beresok, akan diambil beberapa kursi di tribune, mereka akan duduk menonton disana, Tiga orang anak gadis keluarganya dari Lubuk Alung dan dari Bukittinggi, akan turut, dan akan ditemani oleh Aziz sendiri dan empat orang temannya pula, jadi sepasang-sepasang.

Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (49)

Pacu Kuda dan Pasar Malam

Dibuatnya sepucuk surat kepada Zainuddin

Abangku Zainuddin!

Lepas nafasku yang sesak rasanya, sebab saya telah diberi izin oleh mamak ke Padang Panjang, buat lamanya 10 hari yaitu selama pacuan kuda dan pasar keramaian. Saya akan tinggal di rumah sahabatku Khadijah, seorang sahabat yang setia.

Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (48)

Pacu Kuda dan Pasar Malam

Saya tahu itu, engkau ingin hendak ke Padang Panjang, menjejak tepi Guguk Malintang saja pun jadilah, engkau hendak menghisap udara di negeri tempat tinggal muda dan bulan tua. Tentu engkau ingat, bahwa bulan di muka telah masuk bulan Juni. Sudahkah direkatkan orang di Stasiun Kubu Kerambil, atau di lepau di Lubuk Bauk, programa pacuan kuda dan pasar keramaian?

Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (47)

Di Padang Panjang

Dalam pada itu, oleh guru-guru diizinkan pula murid-muridnya mempelajari musik, mempelajari bahasa asing, sebagai Belanda dan Inggris.

Sekali dalam setahun, di Padang Panjang diadakan pacuan kuda dan pasar malam, bernama keramaian adat negeri. Ada ini dilakukan di tiap-tiap kota terbesar di Sumatera Barat, sebagai Batu Sangkar, Payakumbuh, Bukittinggi dan Padang. Maka keluarlah bermacam-macam pakaian adat lama, berdestar hitam, bersisit keris, menyandang kain sumbiri, sejak dari yang muda sampai kepada penghulu-penghulu. Kaum perempuan dari kampung-kampung memakai tikuluk pucuk.

Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (46)

Di Padang Panjang

Pada masa itu masih dapat dilihat toko-toko yang besar, kedai kain yang permai, berleret sepanjang Pasar Di Atas dan Di Bawah, dekat jalan ke Masjid Raya menuju Lubuk Mata Kucing.

Disanalah saudagar-saudagar yang ternama berjuang hidup memperhatikan jalan uang dan turun naiknya kurs uang. Saudagar-saudagar yang ternama, sebagai H.A Majid, H. Mahmud, Bagindo Besar, H. Yunus, adalah memegang tampuk negeri tersebut, sekian lamanya.

Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (45)

Di Padang Padang

Bersamaan dengan surat yang diterima Zainuddin itu, Khadijah, sahabat Hayati, menerima surat pula, demikian bunyinya:

Ija!

Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (44)

Di Padang Padang

Hari Jumat di mukanya, surat itu telah dibalas oleh Zainuddin demikian bunyinya:

Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (43)

Di Padang Padang

Saya nasehatkan supaya engkau berangkat, ialah karena perintah pertimbangan akal, memikirkan akibat dan ancaman.

Tetapi setelah engkau pergi, perasaan hati yang tadinya dikalahkan oleh pertimbangan telah memberontak kembali, wajahmu, mukamu, matamu, semuanya kembali terbayang.

Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (42)

Di Padang Padang

Memang sejak meninggalkan Batipuh, telah banyak terbayang cita-cita dan angan-angan yang baru dalam otak Zainuddin.

Kadang-kadang berniat di hatinya menjadi orang alim, jadi ulama sehingga kembali ke kampungnya membawa ilmu.

Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (41)

Berangkat

"Akan saya kirimi sedapat mungkin, akan saya terangkan segala perasaan hatiku sebagaimana pepatah selama ini, dengan surat kita lebih bebas menerangkan perasaan."

"Mana tahu, entah lama pula kita akan bertemu. Berilah saya satu tanda mata, azimatku, dalam hidupku, dan akan kuwasiatkan meletakkan dalam kafanku jika kumati. Berilah, meskipun satu barang yang semurah-murahanya bagimu, bagiku mahal semua."

Termenung Hayati sebentar. Tiba-tiba dibukanya selendang yang melilit kepalanya, dicabutnya beberapa helai rambutnya, diberikannya kepada Zainuddin: "Inilah, terimalah! Selamat jalan..."

Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (40)

Berangkat

"Hayati," ujar Zainuddin, "amat besar harganya perkataanmu itu bagiku. Saya putus asa, atau saya timbul pengharapan dalam hidupku yang belum tentu tujuannya ini, semua bergantung bukan kepada diriku, buka pula kepada orang lain, tetapi kepada engkau sendiri. Engkaulah yang sanggup menjadikan saya seorang gagah berani, tetapi engkau pula yang sanggup menjadikan saya sengsara selamanya. engkau boleh memutuskan harapanku, engkau pun sanggup membunuhku."

Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (39)

Berangkat

Dia melangkah, langkahnya tertegun-tegun. Di tentang rumah Hayati, sengaja dikeluarkannya kepalanya, karena sudah putus harapannya hendak bertemu, bunga harum berpagar duri, yang dari sana penyakitnya, tetapi disana pula obatnya.Meskipun rumpun bambu yang berderet di tepi jalan membawa udara dan bunyi yang menyegarkan pikiran, bagi orang sebagai Zainuddin, semunya itu hanyalah menambah penyakit. Sebab negeri Batipuh, negeri yang ditujunya dari kampung kelahirannya, akan tinggal. Halaman tempatnya bermain, tempat dia bermula menjalin janji dengan Hayati, dan ...akan tinggal Hayati sendiri.

Tiba-tiba, setelah kira-kira setengah jam dia meninggalkan kampung yang permai itu mengayun langkah yang gontai, gonjong rumah-rumah telah mulai ditimpa cahaya pagi, di suatu pendakian yang agak sunyi, di tepi jalan menuju Padang Panjang, kelihatan olehnya seorang anak laki-laki. Seorang itu ialah Hayati sendiri dan adiknya Ahmad, yang berdiri menunggunya.

Page 5 of 11