Thursday, Nov 17th

Last update10:00:00 AM GMT

You are here: Cerita

Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (38)

Berangkat

Seorang anak muda yang datang ke kampung, yang lahir dari perkawinan sah, dan ibunya bukan pula keturunan sembarang orang, malah Melayu pilihan dari Bugis, dipandang orang lain. Tetapi harta seorang ayah, yang sedianya akan turun kepada anaknya, dirampas, dan dibagi dengan nama "adat" kepada kemenakannya. Kadang-kadang pula pemberian ayah kepada anaknya semasa dia hidup, diperkarakan, dan didakwa ke muka hakim oleh pihak kemenakan, tidak tercela, bahkan terpandang baik.

Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (37)

Pemandangan di Dusun
Hayati menangis, menangisi nasib sendiri dan menangisi Zainuddin, dia meniarap di ujung kaki mamaknya meminta dikasihani. Tapi percuma, percuma menanamkan pagi di sawah yang tak berair, percuma mendakikan akar sirih, memanjat batu. Percuma meminta sisik kepada limbat...
"Sekarang kau menangis, dan nanti kau akan insaf sendiri," ujar mamaknya pula, sambil menarikkan kakinya yang sedang dipagut oleh Hayati perlahan-lahan.

Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (36)

Pemandangan di Dusun

Meskipun dengan sepayah-payahnya Hayati menahan hatinya, namun mukanya nyata pucat kelihatan, terlompat juga pertanyaan dari mulutnya: "Apa sebab Engku suruh dia pergi?""Banyak benar fitnah-fitnah orang terhadap dirinya dan dirimu sendiri,"

Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (35)

Pemandangan di Dusun

"Tidak Engku...hati laki-lakilah yang kerap remuk lama, perempuan dapat segera melupakan hidupnya di zaman muda."

"Dengan sangat saya minta engkau berangkat saja dari sini, untuk kemaslahatan Hayati yang engkau cintai."

Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (34)

Pemandangan di Dusun

Tercengang Zainuddin menerima pembicaraan yang ganjil itu, bagai ditembak petus tunggal rasa kepalanya. Lalu dia berkata: "Mengapa Engku berbicara demikian rupa kepada diriku? Sampai membawa nama adat dan turunan?"

"Harus hal itu saya tanyai, karena di dalam adat kami di Minangkabau ini, kemenakan di bawah lindungan mamak. Hayati orang bersuku berhinduberkaum kerabat, dia bukan sembarang orang."

Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (34)

Pemandangan di Dusun

Sesungguhnya persahabatan yang rapat dan jujur diantara kedua anak muda itu, kian lama kian tersiarlah dalam dusun kecil itu.

Di dusun, belumlah orang dapat memandang kejadian ini dengan penyelidikan yang seksama dan adil. orang belum kenal percintaan suci.

Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (33)

Berkirim-kirim Surat

Sedang Zainuddin berkata-kata demikian, Hayati masih tetap menekurkan kepalanya, air matanya lebih banyak jatuh dari yang tadi.

"Mengapa kau masih menangis, Hayati?"

Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (32)

Berkirim-kirim Surat

Jangan kau menangis, kau boleh menentukan vonis, mengambil keputusan terhadap diriku. Nyatalah bahwa cintaku kau balas, kalau memang kau ada mempunyai itu.

Itulah kelak akan jadi modal hidup kita berdua. Asal saya tahu kau cinta, saya tak harapkan apa-apa sesudah itu, kita tak akan melanggar perintah Ilahi.

Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (31)

Berkirim-kirim Surat
Tiba-tiba sedang Zainuddin asyik menunggu-nunggu balasan dari suratnya, datang adik Hayati, Ahmad yang masih kecil itu, membawa surat. Berdebar sangat jantung Zainuddin bila membuka sampul surat itu:

Tuan Zainuddin!
Ketiga surat Tuan telah saya baca dengan mafhum, sekali-kali bukanlah saya tak menghargai surat-surat itu, bukan pula cemburu Tuan akan merendahkan nama saya. Keterangan yang lebih panjang tak dapat saya berikan dengan surat. Sebab itu, kalau Tuan tak keberatan, saya hendak bertemu sendiri dengan Tuan nanti sore di dangau di sawah tempat kita bertemu mula-mula tempo hari. Saya akan datang dengan adikku.

Hayati

Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (30)

Surat yang ketiga

Sahabatku Hayati!
Sebagai kukatakan dahulu, lebih bebas saya menulis surat daripada berkata-kata dengan engkau. Saya lebih pandai meratap dalam surat, menyesal dalam surat, mengupat dalam surat. Karena bilaman saya bertemu dengan engkau, maka matamu yang sebagai Bintang Timur itu senantiasa menghilangkan susunan kataku.
Sebelum bertemu, banyak yang teringat, setelah bertemu semuanya hilang, karena kegembiraan pertemuan itu telah menutupi akan segala ingatan.

Inilah suratku yang ketiga. Dan alangkah beruntungnya perasaan hatiku jika beroleh balasan, padahal sepucuk pun belum pernah engkau balas. Tahu saya apa jadi sebabnya. Bukan lantaran engkau tidak dapat mengarang surat sebagai engkau katakan, tetapi hanya lantaran engkau masih merasa sebagaimana kebanyakan perasaan umum pada hari ini, bahwasanya berkirim-kirim surat percintaan itu adalah aib dan cela yang paling besar, cinta palsu dan bukan terbit dari hati yang mulia. Tapi Hayati, perasaan saya lain dari itu. Yaitu kalau perasaan hati itu hanya disimpan-simpan saja, tidak diutarakan dengan kejujuran, itulah yang bernama cinta palsu, cinta yang tidak percaya pada diri sendiri.

Rasanya lebih aib dan lebih cela anak perempuan yang sengaja menekur-nekurkan kepalanya jika melihat seorang laki-laki, tetapi setelah selendangnya dibuka, dia mengintip orang lalu lintas dari celah dinding. Dengan surat-surat ini kita belajar berbudi halus. Dalam susunan surat-surat dapat diketahui perkataan-perkataan yang pepat diluar, pancung di dalam. dengan surat-surat dapat diketahui dalam dangkalnya budi pekerti manusia.

Bacalah, dan bacalah surat-suratku ketiga-tiganya. Adakah disana terdapat saya berminyak air, mencoba menarik-narik hati? Bagi saya meskipun perjalanan cinta akan kita tempuh itu takkan hasil, surat itu sudah cukuplah untuk menguji budi saya.

Kirimlah surat kepadaku tanda jujurmu. Tanda benar-benar engkau hendak membela diriku. Kirimlah, dan janganlah engkau takut bahwa surat ini akan saya jadikan perkakas untuk membukakan rahasiamu jika ternyata engkau mungkir atau tak sanggup memenuhi janji. Hayati! Lapangan alam ini amat luas, dan Tuhan telah memberi kita kesanggupan mengembara di dalam lapangan yang luas itu. Maka jika kita beruntung, dan Allah memberi izin kita hidup sebagai suami dan istri, adalah surat-surat itu untuk mematrikan cinta kita, jadi pengobat batin di dalam mendidik anak-anak. Tetapi kiranya pertemuan nasib dan hidup kita tidak beroleh keizinan Tuhan sejak dari azali-Nya, adalah pula surat-surat itu akan jadi peringatan dari dua orang bersahabat atas ketulusan mereka menghadapi cinta, tidak terlangkah kepada kejahatan dan tidak melanggar perikesopanan.

Jangan engkau berwas-was kepadaku Hayati, mengirimkan suratmu. Surat-suratmu akan ku simpan baik-baik, akan kujadikan azimat tangkal penyakit, tangkal putus pengharapan. Dan hilangkanlah sangka burukmu itu, takut suratmu jika kujadikan perkakas membusuk-busukan namamu. Ah, mentang-mentang saya seorang anak yang terbuang, orang menumpang di negeri ini, tidaklah sampai serendah itu benar budimu.

Suratmu, Hayati, sekali lagi suratmu.

Zainuddin

Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (29)

Berkirim-kirim Surat

Hayati!
Meskipun mula-mula saya bertemu sesudah surat ini kukirim, tanganku gemetar, maka sambutanmu yang halus atas kecemasanku telah menghidupkan semangatku kembali, Hayati, sampai sekarang, dan agaknya lama sekali baru kejadian itu akan dapat kulupakan.

Karena menurut perasaan hatiku, adalah yang demikian pintu keberuntungan yang pertama bagiku. Sampai sekarang Hayati, masih kerap kali saya merasai dadaku sendiri, menjaga apakah hatiku masih tersimpan di dalamnya, entah sudah terbang ke langit biru agaknya, lantaran terlalu merasa beruntung.

Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (28)

Berkirim-kirim Surat

Sejak dapat diketahui oleh Zainuddin bahwa suratnya diterima baik oleh Hayati, bahwasanya pengharapannya bukanlah bagai batu jatuh ke lubuk, hilang tak timbul-timbul lagi, melainkan beroleh bujukan dan pengharapan, maka kembalilah dia pulang ke rumah bakonya tempatnya menumpang dengan senyum tak jadi, senyum panas bercampur hujan.

Dia melengong ke kiri dan ke kanan, menghadap ke langit yang hijau, ke bumi yang nyaman dan ke sawah yang luas, ke puncak Merapi yang permai laksana bersepuhkan emas, ke air yang mengalir dengan hebatnya di Batang Gadis. Seakan-akan dihadapinya semua alam yang permai itu, membangga menerangkan suka cita hatinya.

Page 6 of 11