Thursday, Nov 17th

Last update10:00:00 AM GMT

You are here: Cerita

Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (27)

Cahaya Hidup

Empat hari belakang itu, seketika Zainuddin datang dari sebuah lepau di tepi jalan dan hendak mendaki ke kampung tempat tinggal, tiba-tiba darahnya tersirap dan langkahnya tertegun, kepalanya ditekurkannya ke bumi, sebab di tengah jalan itu dia bertemu dengan Hayati.

"Tuan Zainuddin," ujar Hayati dengan tiba-tiba.

Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (26)

Cahaya Hidup

Barangkali, akan terlepas Hayati selama-lamanya dari tangannya, sebab dia dipandang rendah budi.

Ketakutan dan kecemasan itu diusirnya dengan segera. Dia usir dengan perkataan: Surat itu kutulis dengan tulus ikhlas, kutulis dengan jiwa yang tentram dan tidak bermaksud jahat. Bersalah besar saya kepada hati sendiri, jika perasaan itu tidak dicurahkan. Berbahaya benar jika perasaan demikian hanya disimpan-simpan saja.

Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (25)

Cahaya Hidup

Adapun yang berkirim surat, Zainuddin, lain pula halnya.

Meskipun ana-anak muda di surau tempatnya tidur telah berlayar dalam lautan mimpi yang enak, bahkan kadang-kadang kesepian itu dipecahkan oleh dengkur dua atau tiga orang anak-ana, dia masih bermenung melihatkan bulan terang benderang, bulan diantara tanggal 15 dengan 16, muram dan damai. Bermenung di beranda surau seorang dirinya, tidak merasai takut dan gentar.

Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (24)

Cahaya Hidup

Yakinlah dia bahwa gerak dan bisik jantungnya bilamana melihat Zainuddin selama ini rupanya bukanlah gerak sembarang, tetapi adalah gerak ilham, gerak jiwa yang bertali dengan jiwa, gerak batin yang bertali dengan batin.

Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (23)

Cahaya Hidup

Di dalam khayalku dan dalam kegelapgulitaan malam, tersimbahlah awan, cerahlah langit dan kelihatanlah satu bintang, bintang dari pengharapan untuk menunjukan jalan. Bintang itu...ialah, kau sendiri, Hayati!Bagaimana maka hati saya berkata begitu? Itu pun saya tak tahu. Lantaran tak tahu sebabnya itu, timbul kepercayaan kepada kuasa gaib yang lebih dari kuasa manusia, kuasa gaib itulah yang menitahkan...

Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (22)

Cahaya Hidup

Sahabatku Hayati!

Gemetar, Encik! Gemetar tanganku ketika mula-mula menulis surat ini. Hatiku memaksaku menulis, banyak yang terasa, tetapi setelah kucecahkan penaku ke dawat, hilang akalku, tak tentu dari mana harus kumulai.

Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (21)

Cahaya Hidup
Dalam surat itu nampak isi perasaan Hayati, perasaan yang belum pernah diterangkannya kepada orang lain.

Sebenarnya, dia amat kasihan melihat nasib Zainuddin orang jauh itu. Di sini tak mempunyai kerabat yang karib, dan ayahnya pun telah meninggal dunia pula. Akan pulang ke Mengkasar, hanya pusaka ayah bunda yang akan ditepati. Sikap Zainuddin yang lemah lembut, matanya dengan penuh cahaya yang muram, cahaya dari tanggungan batin yang begitu hebat sejak kecil, telah menimbulkan kasihan yang amat dalam di hati hayati. Dan cinta melalui beberapa pintu. Ada dari pintu sayang, ada dari pintu kasih, ada dari pintu rindu, tetapi yang paling aman dan kekal ialah cinta yang melalui pintu kasihan itu.

Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (20)

Cahaya Hidup

Bilamana Zainuddin duduk dalam kesunyian seorang diri, bagaikan dirobeknya hari supaya lekas sore, moga-moga dapat melihat Hayati pula. Tetapi setelah bertemu lidahnya kaku, tak dapat apa yang akan disebutnya. Hayati sendiri pun semenjak waktu itu kerap kali bagai orang yang keraguan. Dia berasa sebagai kehilangan, padahal bilamana dilihatnya tas tempat bukunya, tak ada alat perkakasnya yang kurang.

Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (19)

Cahaya Hidup

Mulut yang demikian ganjil lakunya, dia tak kuasa berkata sepatah juga apabila berhadapan, tetapi kaya dengan perasaan apabila duduk seorang diri.

Setelah itu dia pulang, dari jauh masih dilihatnya ketiga orang itu mengayun langkah di antara pematang dan beberapa sawah yang belum disabit padinya.

Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (18)

Cahaya Hidup

Setelah itu diteruskan juga menyabitkan padinya. Zainuddin mencoba hendaknya menolong, tetapi dilarangnya: "Duduk sajalah di tepi pematang itu, penghilangkan kesunyianku, sebentar lagi datang kemenakanku mengantarkan makanan agak sedikit kemari, kita makan apa yang ada".

Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (17)

Cahaya Hidup

Hatinya amat tertarik melihatkan kehijauan langit sehari itu, apalagi kemarinya hari hujan, puncak Gunung Merapi jelas kelihatan, Sungai Batang Gadis laksana bernyanyi dengan airnya yang terus mengalir.

Dari jauh kedengaran nyanyi anak gembala di sawah-sawah yang luas.

Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (16)

Cahaya Hidup

Pagi-pagi, sebelum perempuan-perempuan membawa niru dan tampian ke sawah, dan sebelum anak muda-muda menyandang bajaknya, sebelum anak-anak sekolah berangkat ke sekolah, seorang anak kecil laki-laki datang ke muka surau tempat Zainuddin tidur, membawa payung yang dipinjamkannya kemarin. Dia hampiri anak itu, dan anak itu berkata,"Kak Ati berkirim salam dan menyuruhkan mengembalikan payung ini," sambil memberikannya kepada Zainuddin.

Page 7 of 11