Thursday, Nov 17th

Last update10:00:00 AM GMT

You are here: Cerita

Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (15)

Tanah Asal
"Itu tak usah encik susahkan, orang laki-laki semuanya gampang baginya, pukul 7 atau pukul 8 malam pun saya sanggup pulang, kalau hujan ini tak teduh juga. Berangkatlah dahulu!."

Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (14)

Tanah Asal

Di dalam kalangan gadis-gadis di Kampung Batipuh telah menjadi buah bibir, bahwa ada seorang anak muda "orang jauh", orang Bugis dan Mengkasar, menumpang di rumah bakonya, Mande Jamilah. Anak muda itu baik budi pekertinya, rendah hati, terpuji dalam pergaulan, disayang orang. Sungguh belajar, karena dia berguru kepada seorang lebai yang ternama. Tetapi dia pemenung, pehiba hati, suka menyisihkan diri ke sawah yang luas, suka merenungi wajah Merapi yang diamm tetapi berkata. Sayang dia orang jauh!

Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (13)

Tanah Asal

Halamannya luas, tempat menjemurkan padi yang akan ditumbuk.

Pada buatan rumah, pada simbol pedang bersentak yang terletak di bawah gonjong kiri kanan, menandakan bahwa orang di rumah ini amat keras memegang adat lembaga, agaknya turunan regen atau Tuan Gedang di Batipuh, yang berkembang di Batipuh Atas dan Batipuh Baruh.

Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (12)

Tanah Asal

Sebab itu, walaupun seorang anak berayah orang Minangkabau, sebab di negeri lain bangsa diambil dari ayah, jika ibunya orang lain, walaupun orang Tapanuli atau Bengkulu yang sedekat-dekatnya, dia dipandang orang lain juga. Malang nasib anak yang demikian, sebab dalam negeri ibunya dia dipadang orang asing, dan dalam negeri ayahnya dia dipandang orang asing pula.

Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (11)

Tanah Asal

Bilamana Zainuddin telah sampai ke Padang Panjang, negeri yang ditujunya, telah diteruskannya perjalanan ke dusun Batipuh, karena menurut keterangan orang tempat di bertanya, disanalah negeri ayahnya yang asli. Seketika dia mengenalkan diri kepada bakonya (keluarga dari pihak ayah), orang laksana kejatuhan bintang dari langit, tidak menyangka-nyangka akan beroleh seorang anak muda yang begitu gagah dan pantas, yang menurut adat Minangkabau dinamai "anak pisang". Maklumlah, orang di sana masyhur di dalam negerinya orang baru. Tetapi basa basi itu lekas pula bosan. Oleh karena yang kandung tidak ada lagi, apalagi ayahnya tidak bersaudara perempuan, dia tinggal di rumah persukuan dekat dari ayahnya.

Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (10)

Menuju Negeri Nenek Moyang

Peluit kapal berbunyi, pengantar turun, air mata Mak Base masih membasahi pipinya. Dan tidak berapa lama kemudian, rengganglah kapal dari pelabuhan Mengkasar, hanya lenso (saputangan) saja yang tak berhenti dikibarkan orang, baik dari darat atau dari laut. Meskipun kapal renggang, Zainuddin masih berdiri melihat labuhan, melihat pengasuhnya yang telah membesarkannya bertahun-tahun tegak sebagai batu di tepi anggar, walaupun orang lain telah berangsur pulang. Lama-lama hilanglah Pulau Laya-laya, ditengoklah ke tepi, jelas nian olehnya rumah tempat dia dilahirkan, sunyi dan sepi, di tepi laut dekat Kampung Baru. Kemudian itu hilang Galesong, hilang Gunung Bawa Kara Eng, hilang puncak Lompo Batang, dan Malino telah dilingkungi kabut. Dia pergi ke buritan sebelah lagi, dilihatnya matahari telah turun berarak

Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (9)

Menuju Negeri Nenek Moyang

"Lebih baik kita tekankan perasaan hati, Mak Base. Karena tidak akan terdapat selama-lamanya di dunia ini orang yang tiada bersedih hati akan berpisah-pisah, kalau mereka telah dipertalikan dengan budi bahasa.

Sedangkan berangkat ke Mekkah lagi ditangisi orang juga. Tetapi akan dapatkan lantaran kesedihan dan tangis itu perjalanan diundurkan?".
"Tentu tidak," jawab Mak Base...

Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (8)

Yatim Piatu
"Jangan bicara demikian, Daeng. Apa yang aku makan, itulah yang akan dimakan Zainuddin".

Pada suatu hari, dipanggilnya mamak dan diserahkannya serencengan anak kunci seraya berkata, "Mulai sekarang engkaulah yang berkuasa di sini, Base. Kunci ini engkau yang memegang. Kunci putih ini, ialah kunci almari. Sebuah peti kecil ada dalam almari itu. Peti itu tak boleh engkau buka, kecuali kalau saya mati."

Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (7)

Yatim Piatu

Karena kabarnya, adat disana berlain sangat dengan adat di Mengkasar. Kerap kali dia menengadahkan matanya ke langit sambil membuaikan engkau di waktu engkau kecil.

Dibuaikannya dengan lagu Buai Anak cara serantih, yang meskipun mamak tak pandai bahasa Padang, bulu roma mamak sendiri berdiri mendengarnya.

Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (6)

Yatim Piatu

Karena mamakmu ini sudah bertahun-tahun tinggal menjadi orang gajiannya, tetapi kemudian telah dipandangnya saudara kandung, telah berat hati mamak hendak meninggalkan rumah ini. Mamak tidak hendak kembali lagi ke Bulukumba.

Tidak sampai hati mamak meninggalkan ayahmu mengasuhmu. Takut terlambat dia pergi kemana-mana mencari sesuap pagi sesuap petang.

Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (5)

Yatim Piatu

"Terangkanlah, Mak, terangkanlah kembali riwayat lama itu, sangat inginku hendak mendengarnya," ujar Zainuddin kepada Mak Base, orang tua yang telah bertahun-tahun mengasuhnya itu.

Meskipun sudah berulang-ulang dia menceritakan hal yang lama-lama itu kepada Zainuddin, dia belum juga puas. Tetapi kepuasannya kelihatan bilamana dia duduk menghadapi tempat sirihnya, bercengkerama dengan Zainuddin menerangkan hal ihwal yang telah lama terjadi. Menerangkan cerita itulah rupanya kesukaan hatinya.

Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (4)

Anak orang Terbuang
Disamping itu, dia seorang yang setia kepada kawan, pendiam, pemenung. Diam dan menungnyanya pun menambah ketakutan orang-orang yang telah kenal kepadanya.

Dia telah menyaksikan sendiri kejatuhan Bone, dia menyaksikan sendiri ketika Kerajaan Goa takluk dan menyaksikan pula kapal Zeven Provincien menembakan meriamnya di pelabuhan Pare-Pare.

Page 8 of 11