Anak orang Terbuang
Pada suatu hari, malang akan timbul, terjadilah pertengkaran di antara mamak dan kemenakan. Pandekar Sutan bersikeras hendak menggadaikan setumpak sawah, untuk belanjanya beristri, karena sudah besar dan dewasa belum juga dipanjat "ijab kabul". Mamaknya meradang dan berkata,"Kalau akan berbini meski lebih dahulu menghabiskan harta tua, tentu habis segenap sawah di Minangkabau ini. Inilah anak muda yang tidak ada malu, selalu hendak menggadai, hendak mengagun."
Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (3)
Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (2)
Anak Orang Terbuang
Ia teringat pesan ayahnya tatkala beliau akan menutup mata, ia teringat itu, meskipun dia masih lupa-lupa ingat. Ayahnya berpesan bahwa negerinya yang asli bukanlah Mengkasar, tetapi jauh di seberang lautan, yang lebih indah lagi dari negeri yang didiaminya sekarang. Disanalah pendam pekuburan nenek moyangnya, di sanalah sasap jeraminya.
Jauh...kata ayahnya, jauh benar negeri itu, jauh di balik lautan yang lebar, subur dan nyaman tanamannya. Ayahnya berkata, jika Mengkasar ada Gunung Lompo Batang dan Bawa Kara Eng, di kampungnya pun ada dua gunung bertuah pula, ialah Gunung Merapi dan Singgalang. Di Gunung Merapi ada talang perindu, di Singgalang ada naga hitam di dalam telaga di puncaknya. Jika disebut orang keindahan Bantimurung di Maros, di negerinya ada pula air mancur yang lebih tinggi. Masih terasa-rasa di pikirannya keindahan lagu, serantih yang kerap kali dilagukan ayahnya tengah malam. Ia tak tahu benar apakah isi lagu itu, tetapi rayuannya sangat melekat dalam hatinya. Ada pantun-pantun ayahnya yang telah hafal olehnya lantaran dinyanyikan dengan nyanyi serantih yang merdu itu:
"Bukit putus, Rimba Keluang,
direndam jagung dihangusi.
Hukum putus badan terbuang,
terkenang kampung kutangisi."
"Batang kapas nan rimbun daun,
urat terentang masuk padi.
Jika lepas laut Ketahuan,
merantau panjang hanya lagi."
Siapakah gerangan anak muda itu? Dia dinamai ayahnya, Zainuddin. Sejak kecilnya telah dirundung oleh kemalangan...Untuk mengetahui siapa dia, kita harus kembali kepada suatu kejadian di suatu negeri kecil dalam wilayah Batipuh Sapuluh Koto (Padang Panjang) kira-kira 30 tahun yang lalu.
Seorang anak muda bergelar Pandekar Sutan, kemenakan Datuk Mantari Labih, adalah Pandekar Sutan kepala waris yang tunggal dari harta peninggalan ibunya, karena dia tak bersaudara perempuan. Menurut adat Minangkabau, amatlah malang seorang laki-laki jika tidak mempunyai saudara perempuan, yang akan menjagai harta benda, sawah yang berjenjang, bandar buatan, lumbung berpereng, rumah dan gadang. Setelah meninggal dunia ibunya, maka yang akan mengurus harta benda tinggal ia berdua dengan mamaknya itu, Datuk Mantari Labih. Mamaknya itu, usahkan menukuk dan menambah, hanya pandai menghabiskan saja. Harta benda, beberapa tumpak sawah, dan sebuah gong pusaka telah tergadai ke tangan orang lain. Kalau Pandekar Sutan mencoba hendak menjual atau menggapai pula, selalu mendapat bantahan, selalu tidak semufakat dengan mamaknya itu. Sampai dia berkata," Daripada engkau menghabiskan harta itu, lebih baik engkau hilang dari negeri, saya lebih suka."
Darah muda masih mengalir dalam badannya. Dia hendak kawin, dia hendak berumah tangga, hendak melawan laga kawan-kawan sesama gadang, tetapi selalu dapat halangan dari mamaknya, sebab segala penghasilan sawah dan ladang diangkutnya ke rumah anaknya. Beberapa kali dia mencoba meminta supaya dia diizinkan menggadai, bukan saja mamaknya yang menghalangi, bahkan pihak-pihak kemenakan yang jauh, terutama pihak yang perempuan sangat menghalangi, sebab harta itu sudah meski jatuh ke tangan mereka, menurut hukum adat: "Nan sehasta, nan sejengkal, dan setampok sebuah jari."***
Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (1)
Anak orang Terbuang
Matahari telah hampir masuk ke dalam peraduannya. Dengan amat perlahan, menurutkan perintah dari alam gaib, ia berangsur turun, turun ke dasar lautan yang tidak kelihatan ranah tanah tepinya. Cahaya merah mulai terbentang di ufuk barat, dan bayangannya tampak mengindahkan wajah autan yang tenang ta berombak. Di sana sini kelihatan layar perahu-perahu telah berkembang, putih dan sabar. Ke pantai kedengaran suara nyanyian Iloho gading atau Sio sayang, yang dinyanyian oleh anak-anak perahu orang Mandar itu, ditingkah oleh suara geseran rebab dan ecapi. Nun, agak di tengah, di tepi pagaran anggar kelihatan puncak dari sebuah kapal yang telah berpuluh tahun ditenggelamkan di sana. Dia seakan-akan penjaga yang teguh, seakan-akan stasiun dari setan dan hantu-hantu penghuni Pulau Laya-aya yang penuh dengan kegaiban itu. Konon kabarnya, kalau ada orang yang akan mati hanyut atau mati terbunuh, kedengaran pekik dan ribut-ribut tengah maam di dalam kapal yang telah rusak itu!
Di Bawah Lindungan Ka'bah (tamat)
Penutup
Kian lama kian sunyilah tanah Mekah. Bukit-bukit yang gundul itu tegak dengan teguhnya laksana pengawal yang menyaksikan dan menjagai orang haji yang berangsur pulang ke kampungnya masing-masing.
Toko kain sudah tutup, sebab enam bulan pula lamanya pasar akan sepi. Tidak putus-putusnya unta berarak-arak diiringkan oleh gembalanya bangsa Badui sambil bernyanyi.
Di Bawah Lindungan Ka'bah (32)
Surat Rosna Yang Menyusul Surat Kawat
Dua minggu setelah kejadian itu, datanglah surat Rosna yang dijanjikan kepada suaminya itu, demikian bunyinya:
Kakanda yang tercinta!
Adinda kirimkan surat ini menyusul kawat yang dahulu.
Zainab wafat, apakah selain dari itu yang harus adinda nyatakan? Dia telah menanggung penyakit dengan sabar dan tawakal. Mula-mula adinda akan menyampaikan kabar ini kepada Hamid, sebab senantiasa Hamid menjadi buah mulutnya sampai saatnya yang penghabisan, tetapi tiba-tiba kawat Kakanda datang pula, Hamid telah menyusul kekasihnya.
Di Bawah Lindungan Ka'bah (31)
Hati saya sangat berdebar melihat keadaan itu, saya lihat, saya lihat pula muka hamid, sudah tampak terbayang tanda-tanda dari kematian. Sesampai disana diulurkannya tangannya, dipegangnya kiswah kuat-kuat dengan tangannya yang kurus, seakan-akan tidak akan dilepaskannya lagi.
Saya dekati dia, kedengaran oleh saya dia membaca doa demikian bunyinya:
Di Bawah Lindungan Ka'bah (30)
Sebelum Hamid di angkat ke atas bangku itu, yang diberi hamparan dari kulit dahan kurma berjalin, khadam syekh datang terburu-buru mengantarkan sepucuk kawat dari Sumatera! Setelah kami buka, ternyata datang dari Rosna.
Muka Saleh menjadi pucat, jantung saya berdebar membaca isinya yang tiada disangka-sangka: Zainab wafat, surat menyusul, Rosna.
Setelah dibacanya, dengan sikap yang sangat gugup, Saleh menyimpan surat kawat itu ke dalam koceknya, sambil memandang kepada Hamid dengan perasaan yang sangat terharu.
Di Bawah Lindungan Ka'bah (29)
Pada hari yang kedelapan bulan Zulhijjah, datang perintah dari syekh kami, menyuruh menyiapkan segala keperluan untuk berangkat ke Arafah karena pada hari yang kesembilan akan wukuf disana.
Berangkat itu ialah tiga hari setelah kami menerima surat-surat tersebut. Akan hal Hamid, bermula menerima surat itu tidaklah berkesan pada mukanya, bahwa ia dipengaruhi oleh isinya, tetapi setelah sehari dua, kelihatan ia bermenung saja, bertambah dari biasanya. Ketika kami tanyai keadaannya, ia mengatakan bahwa badannya berasa sakit-sakit.
Di Bawah Lindungan Ka'bah (28)
Surat-Surat
Sepuluh hari sebelum orang-orang berangkat ke Arafah mengerjakan wukuf, jemaah-jemaah telah kembali dari ziarah besar ke Medinah. Waktu itu pula Saleh kembali ke Mekah.
Surat balasan dari istrinya yang datang sepeninggalnya ke Mediah telah kami serahkan ke tangannya. Dalam minggu itu juga datang suat Zainab kepada Hamid.
Di Bawah Lindungan Ka'bah (27)
Harapan Dalam Penghidupan
Setelah selesai menerangkan berita itu, tidak berapa hari kemudian Saleh mengirimkan sepucuk surat kepada istrinya Rosna, menerangkan pertemuan kami yang dengan tiba-tiba itu...
"Tuhan!"...telah bertahun-tahun saya berjalan di dalam gelap gulita, tidak tentu tanah yang akan saya tempuh, tidak kelihatan satu bintang pun di atas halaman langit akan saya jadikan pedoman dalam menuju perjalanan itu. Demi setelah sampai berita yang demikian, seakan-akan kegelapan itu terang dari sedikit ke sedikit, sebab dari timur mengelemantang cahaya fajar, cahaya yang saya nanti-nanti. Cahaya itu lebih benderang daripada cahaya surya, lebih nyaman dari cahaya bulan dan lebih dingin dari kelap kelip bintang-bintang.
Di Bawah Lindungan Ka'bah (26)
Harapan Dalam Penghidupan
"Waktu itu istriku menjawab," kata Saleh, ujarnya, "Tidak, Nab, cinta itu adalah perasaan yang mesti ada pada tiap-tiap diri manusia. Ia laksana setetes embun yang turun dari langit, bersih, dan suci. Cuma tanahnyalah yang berlain-lain menerimanya. Jika dia jatuh ke tanah yang tandus tumbuhlah oleh karena embun itu kedurjanaan, kedustaa, penipu, langkah serong dan lain-lain perangai yang tercela. Tetapi jika dia jatuh pada tanah yang subur, disana akan tumbuh kesucian hati, keikhlasan, setia, budi pekerti yang tinggi, dan lain-lain perangai yang terpuji.
Di Bawah Lindungan Ka'bah (25)
Harapan Dalam Pengharapan
Di dalam pikiran saya terpaksa kepada soal itu, tiba-tiba pada saat itu juga datang suatu kejadian yang menghancur-luluhkan angan-angan saya. Ia diminta oleh ibuku untuk melembutkan hati saya, supaya saya sudi bersuami. Ia menjatuhkan perintah dan hukuman kepada diriku, supaya saya dipunyai oleh orang lain. Tetapi nyata olehku bahwa dia menjatuhkan perintah itu dengan gugup, keringat mengalir di keninya, seakan-akan ia mengerjakan suatu pekerjaan yang amat berlawanan dengan hatinya.
Page 9 of 11