Thursday, Apr 05th

Last update10:00:00 AM GMT

You are here: Ekonomi Bisnis Bisnis Ekslusifnya Batik Syarifah

Ekslusifnya Batik Syarifah

BATAM - Geliat pertumbuhan kerajinan batik di Batam cukup membanggakan. Pengrajin dari daerah sentra batik tak lagi segan mengembangkan usahanya ke Batam, meskipun bermodal seadanya.


Seperti yang dilakukan oleh pasangan M Fatkhi Bustomy dan Desy Rostari dengan Batik Syarifah miliknya yang kini diproduksi di tempat tinggal mereka, rumah dinas Otorita Batam di Komplek Bengkong Otorita. Keduanya bisa menempati rumah itu karena memiliki saudara yang bekerja di Otorita Batam (Badan Pengusahaan Batam).

Sejak enam bulan lalu, pasangan ini mulai memproduksi batik kreasi mereka dan telah berhasil memasarkannya dalam partai besar.

"Meski modal seadanya, pesanan terus mengalir. Jujur, kami agak kesulitan menerima orderan, kecuali orderan yang membayar DP (down payment/uang muka)," cerita Desy kepada Haluan Kepri, Senin (19/3).

Meski terbilang baru menekuni usaha ini di Batam, namun Fatkhi sudah terbiasa membatik di kampung halamannya, Pekalongan Jawa Tengah. Ia dibantu oleh seorang saudara.

"Hari biasa seperti sekarang hanya dua orang yang membatik (Fatkhi dan saudaranya), kalau banyak orderan kami minta bantuan saudara dari Jawa untuk datang ke Batam. Kalau saya lebih pada pemasaran saja," ujar Desy sembari tersenyum.

Kepada Haluan Kepri, Desy yang sesekali ditimpali Fatkhi menuturkan pengerjaan batik dilakukan seluruhnya di Batam. Ada lima tahapan dalam membantik, mulai dari pengecapan, pewarnaan (prosen), di cap lagi atau batik tangan, pewarnaan ulang dan yang terakhir proses pelepasan lilin atau pelorotan.

Motif yang telah dihasilkan juga berbeda dari batik-batik yang telah beredar di Batam. Meski namanya hampir sama, namun motifnya berbeda. Seperti motif gonggong, barelang, rumput laut, kembang cengkeh, ikan tambelan dan motif lainnya.

"Di sinilah uniknya batik tangan itu mbak. Meskipun batik cap, tetap saja ada bedanya. Karena dilakukan secara manual. Penempatannya tidak ada yang sama. Pasti berbeda. Kata orang zaman sekarang limited edition. Apalagi batik tangan, lebih ekslusif lagi," timpal Fatkhi.

Tiga bulan lalu, Desy dan Fatkhi sangat bersyukur, karena mendapatkan pinjaman dari bank swasta tanpa agunan sebesar Rp15 juta.

"Awalnya sulit untuk dapat pinjaman mbak, apalagi tanpa agunan. Tetapi ada bank yang berani memberi kami pinjaman tanpa agunan. Semua bank plat merah telah kami coba, bahkan BPD pun telah kami jajaki, mereka tak berani beri pinjaman. Padahal di bank-bank itu ada Kredit Usaha Rakyat (KUR), dan kami tak bisa mendapatkannya. Tetapi ada bank swasta yang mau memberi pinjaman tanpa agunan. Kami bisa bernafas, setidaknya bisa menerima proyek sampai 1.000 potong batik, tetapi tetap saja kami tidak bisa mengambil proyek besar (di atas 1.000 helai) karena modal masih terbatas," ujar Desy.

Pasangan ini mendatangkan bahan baku dari Jawa. Bahan baku tersebut harus didapatkan secara kas. Karena itu butuh biaya yang besar bagi mereka untuk mengembangkan usaha tersebut.

Pasangan ini membuat batik dari kain sutra, doby, paris, katun dan shantung dengan harga Rp50-700 ribu per baju. Pemesan yang ingin mendapatkan produk dalam barang jadi juga bisa, karena pasangan ini juga menjalin kerjasama dengan beberapa penjahit di Batam.

"Kelebihan yang bisa didapatkan bila memesan batik di sini, harga lebih bersaing, motif dan warna bisa dipesan sesuai keinginan. Sekarang kami ada pesanan personal dari Malaysia dan Singapura pakaian keluarga dari bahan sutra," ujar Desy.

Penasaran dengan hasil kerajinan mereka ? Kunjungi workshop mereka di Komplek Bengkong Otorita, Jl Mentok No.35 A Batam. Telp 0778-413334 atau 081372833869 / 087876318119. (nana marlina)