Seperti yang dilakukan oleh Samat (67 tahun), pengusaha keramba ikan di Pulau Nipah, Jembatan II Barelang. Samat memulai usaha keramba ikan sejak 2009 lalu dengan modal seadanya.
"Pembibitan rata-rata lima bulan, sudah panen. Alhamdulillah hasilnya juga bagus. Insyaallah saya akan naik haji tahun 2013 nanti," ujarnya senang.
Dikatakan pria yang mengaku pernah dipenjara di Singapura tahun 1973 karena tidak memiliki izin melintasi perairan negeri tetangga itu, ia memulai usaha tersebut dengan modal seadanya.
"Saya biasa menangkap ikan di laut sejak muda. Tiga tahun lalu itu hanya nekad saja membuat kerambanya di tengah laut, bibitnya saya cari di laut, saya buatkan kelongnya. Sekarang malah ketagihan, karena hasilnya sangat cepat," ujar Samat yang mengaku panen rutin sekali lima bulan.
Ia memelihara berbagai jenis ikan lau, seperti kakap, kerapu hitam, dan kerapu biasa. Saat ini, mengikuti harga pasaran, ikan kakap dijualnya Rp45 ribu/kg, kerapu biasa Rp150 ribu/kg, dan kerapu hitam Rp100 ribu/kg. Namun menjelang tahun baru ini, harga kerapu biasanya tembus Rp200 ribu/kg.
"Permintaan menjelang tahun baru ini biasanya meningkat, makanya harga naik," tutur pria yang mengaku sekali panen menghasilkan ratusan kilogram ikan.
Ketiga jenis ikan ini terhitung laris, bahkan belum panen sudah ditunggu oleh pembeli. Atau bisa dipesan melalui telp ke 0812 7011 2943.
Sementara itu, Denny, pembudidaya ikan darat di bawah naungan PT Lentera Bumi Cemerlang memiliki sejumlah kolam dengan berbagai jenis ikan, seperti patin, bawal, ikan mas, belut dan nila. Namun, Denny mengaku cukup kesulitan dalam memasarkan ikan hasil panennya.
"Agak sulit memasarkannya, kalau ada pembeli baru dijual, kalau tidak, tetap di kolam, biaya makannya terus meningkat," ujar Denny.
Dikatakan Deni, ikan-ikan peliharaanya panen setiap 4-5 bulan. Sekali panen biasanya mencapai sekitar 1 ton, masing-masing ikan dihargai per kilogram di kisaran Rp22 ribu.
"Saya baru panen dua kali, memulai usaha sekitar 2011 lalu. Hasilnya belum terlalu tampak, apalagi tempatnya numpang," ujar Denny.
Dikatakannya, budidaya ikan di Batam terhitung sulit, karena pakan ikan sangat mahal. Untuk mengakalinya, ia memberi makan ikan selain pelet, juga sayuran sisa di pasar dan usus ayam.
Masih di jembatan II Barelang, Rial, peternak lele jumbo mengaku cukup kewalahan menghadapi persaingan harga lele di pasar Batam. Hal ini tidak terlepas banyaknya lele impor yang memasuki pasar Batam, di samping semakin banyak petani lele di Batam.
"Saya bisa panen lele hingga 1 ton per bulan. Tetapi dalam pemasarannya harus bersaing ketat dengan lele impor dan lele lainnya. Sekarang harga pakan sangat tinggi, salah harga bisa rugi," ujar pemilik 12 kolam lele itu.
Dikatakannya, ia memiliki sekitar 150 induk lele yang bisa menghasilkan ribuan bibit. Budidaya lele cukup singkat, hanya sekitar tiga bulan saja.
Mengelola 12 kolam lele bukan perkara gampang, dibutuhkan ketekunan dan ketelitian agar panen tepat waktu. Untuk pakan, ia menggunakan pelet dan usus ayam. Dua karung pelet ukuran 150 kg hanya bertahan seminggu untuk 12 kolam miliknya. (abdul kodir)
- Pilih Mukena di Ami Bordir
- Melirik Bisnis Rumput Laut Rengkam Di Tanjung Penarik
- ND Salon Tawarkan Diskon 50%
- Suzuki Mega Carry Xtra Banyak Ekstranya
- Utama Houseware Lebih Lengkap
- Peluang Menjadi Pengusaha DNI
- Pinang Optik Diskon 50%
- DP BeAT PGM F1 Lebih Murah
- Perawatan 20 x, Gratis 10 x
- Rav4 Style Hanya Rp375 Juta
- Keripik Kentang dari Tanjungpinang
- Kimia Farma Hadir di Botania Garden
- Suzuki Mega Carry Segera Launching
- Therapy Ozone Diskon 10 Persen
- Kedai Kopi Tenda Hijau Go Green
- Air Minum F-3 Lebih Higienis