JAKARTA (HK) - Sejumlah komoditas yang tergabung di kelompok volatile foods menjadi penyumbang inflasi pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Hal ini diungkapkan Deputi Senior Bank Indonesia (BI), Mirza Adityaswara di Jakarta saat disaulat sebagai pembicara pada temu wartawan daerah Bank Indonesia dihadiri 220 wartawan dari 24 kota di Indonesia, Senin (10/10).
Dia mengemukakan pemicu terbesar inflansi di Indonesia berasal dari komoditas 'Volatile Food' atau kenaikan harga pangan seperti bawang dan cabe. "Kunci pengendalian inflasi harus dilakukan dengan meningkatkan produksi dan memperbaiki jalur distribusi pangan," katanya.
Menurutnya hambatan yang dihadapi BI dalam mengendalikan inflasi adalah tidak memproduksi dan terkait langsung dengan komoditas pangan namun harus tetap melakukan pengendalian. "Karena itu BI bersama pemerintah daerah membentuk dan mendampingi Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID), saat ini sudah ada pada 497 daerah," katanya.
Pihaknya, bersama TPID melakukan pengendalian inflasi dengan mencari tahu kebutuhan pangan dan meningkatkan produksi jika selama ini stok masih kurang. "Jika produksi pada satu daerah berlebih dan daerah di sekitarnya kurang maka dilakukan distribusi, kuncinya jalur distribusi harus baik, ujarnya.
Walau begitu, dia pihaknya cukup puas karena dalam dua tahun terakhir inflasi cukup terkendali yakni pada 2015 mencapai 3,3 persen dan pada 2016 diperkirakan di bawah 3,5 persen. Kemudian untuk meningkatkan produksi pangan BI juga membentuk klaster pengembangan produk pertanian dan melakukan pendampingan kepada petani agar menggunakan teknologi yang tepat.
Disisi lain, ia melihat pada negara-negara berkembang kenaikan harga pangan menjadi penyebab inflasi karena pendapatan masyarakat masih rendah karena sebagian besar digunakan untuk membeli kebutuhan pokok berupa pangan.
"Akibatnya ketika pangan naik, inflasi meningkatkan pada akhirnya yang miskin menjadi semakin susah," tutupnya (Cw 56)
Share





