BATAM (HK) – Bank Indonesia Perwakilan Kepulauan Riau mengumpulkan seluruh stakeholders guna memperkuat resiliensi dan membangkitkan ekonomi kepulauan Riau, Rabu (14/12).
Pertemuan para stakeholders yang dikemas dalam Pertemuan Tahunan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Riau 2016 ini menghadirkan Gubernur kepri yang diwakili Syamsul Bahrum, Kepala BIN Kepri, Brigjen TNI Yulius Selvanus, Direktur Humas dan Promosi BP Batam, Purnomo Andiantono, Ketua DPRD Kota Batam, Nuryanto, Wakil Walikota Batam, Amsakar Achmad, Dandim 0316 Batam, Kolonel Inf Nanang Dwi Andreas P, Lantamal IV Tanjung Pinang, Mayor Yudefri serta para kepala Cabang Bank swasta dan juga para pengusaha di Lantai III Gedung BI Batam Centre.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepri Gusti Raizal Eka Putra mengatakan, melalui pertemuan tahunan tersebut seluruh stakeholders di Provinsi Kepri akan saling bersinergi meningkatkan daya saing guna memperkuat resiensi dan membangkitkan ekonomi kepulauan Riau.
"Pertemuan ini memberikan makna penting dalam upaya menegakkan komitmen bersinergi untuk membangun perekonomian," ujar Gusti saat menyampaikan pemikiran Bank Indonesia tentang kondisi terkini perekonomian Kepri.
Apalagi, lanjutnya, Provinsi Kepri bila dibandingkan provinsi lainnya di Sumatera merupakan peringkat keenam dalam kinerja pertumbuhan ekonomi setelah provinsi Sumut, Lampung, Bengkulu, Sumbar dan Sumsel.
"Pertemuan hari ini dengan tema yang diangkat sangat relevan sebagai respons terhadap ekonomi regional yang melambat dan tertekan oleh perekonomian global yang belum kondusif," katanya.
Memang, saat ini perekonomian nasional dan regional mengalami tren penurunan. Sejauh ini perekonomian nasional tumbuh melambat dari 5,19 % (yoy) menjadi 5,02% (yoy) pada triwulan III 2016 disusul perekonomian Kepri hanya tumbuh 4,64%(yoy) melemah dibanding triwulan sebelumnya sebesar 5,50% (yoy).
"Pertumbuhan ini juga merupakan yang terendah dibandingkan periode lima tahun sebelumnya serta lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata pertumbuhannya pada triwulan ketiga sebesar 6,95%(yoy)," ujarnya,.
Untuk Kepri, rendahnya realisasi investasi swasta menjadi pemicu melemahya ekonomi Kepri. Begitu juga kinerja ekspor kepri yang masih tertekan dan sangat berpengaruh terpengaruh oleh kondisi ekonomi global yang memang belum pulih serta harga migas yang masih rendah.
Disisi sektoral, juga menunjukan arah yang sama dengan kinerja mesin penggerak utama sektor ekonomi Kepri yakni sektor industri pengolahan, konstruksi dan sektor perdagangan besar dan eceran serta reperasi mobil dan sepeda juga mengalami perlambatan.
Dengan tantangan perekonomian global dan nasional yang masih berlanjut saat ini, Gusti berharap adanya sinergi untuk meningkatkan daya saing guna memperkuat resilensi dan membangkitkan ekonomi kepulauan riau.
"Meskipun tantangan kedepan masih berat, kita masih memiliki harapan dan kesempatan yang luas untuk mewujudkan Kepri semakin makmur, sejahtera serta berkontribusi terhadap perekonomian nasional," tutupnya.(iks)Share
Pertumbuhan Ekonomi Kepri Peringkat Keenam
- Kamis, 15 December 2016 05:00





