"Informasinya akan dikeluarkan 23 November ini dalam bankers dinner," ujar Direktur Micro dan Retail Banking Bank Mandiri, Budi Gunadi Sadikin dalam Media Training yang diikuti puluhan wartawan bisnis dari berbagai daerah di Hotel Panorama Regency, Batam, Kamis (22/11).
Dikatakannya, branchless banking ditargetkan untuk menggenjot jumlah masyarakat yang memiliki rekening bank, dimana sejak 250 tahun perbankan di Indonesia, jumlah pemilik rekening bank hanya sekitar 60 juta dari sekitar 240 juta jiwa penduduk. Dia berharap, regulasi ini akan mengikuti jejak pengguna selular di Indonesia yang mengalami pertumbuhan pesat dalam 10-20 tahun.
Branchless banking dinilai lebih efisien, akan mengurangi biaya yang selama ini cukup besar dikeluarkan oleh perbankan maupun nasabah. Sistem ini sangat tepat untuk keperluan sehari-hari yang sifatnya micro payment, seperti pembayaran listrik, air, telpon, transportasi, SPBU, tol, parkir, kereta api, dan transaksi kecil lainnya. Pembayaran micro payment di Indonesia sekitar 45 persen atau sekitar Rp500 triliun per hari. Sebagian besar transaksi ini masih menggunakan uang tunai (lebih dari 99 persen). Padahal, transaksi tunai memerlukan biaya besar. Bank Indonesia dalam mencetak pecahan Rp100-Rp100.000 mengeluarkan biaya yang cukup besar, sekitar Rp3 triliun per tahun (produksi dan transportasi).
Dari segi pedagang, menyimpan dan menyediakan uang kembalian menelan biaya besar, dan dari segi masyarakat sebagai nasabah, harus kerepotan membawa uang tunai di dompet untuk keperluan rutin yang sewaktu-waktu bisa kena copet atau dirampok.
"Ada batasan nilai yang akan diterapkan pada sistem ini, misalnya Rp1 juta, sehingga terhindar dari praktik money loundring. Transaksi dilakukan secara offline, kartu bisa diisi setiap saat, dan sebagainya," ujar Budi.
Sistem ini dikatakannya telah diterapkan PT Bank Mandiri di Bank Sinar Harapan Bali, yang dalam penerapannya bekerjasama dengan Axis. Ke depan, Mandiri akan menjajaki kerjasama dengan selular lain guna lebih memasyarakatkan sistem ini. Budi juga mengatakan akan menggandeng BPD bila memiliki program serupa.
Jaga Deposan
Pada sesi lain, Direktur Risk Management PT Bank Mandiri, Sentot A Sentausa mengatakan, masing-masing bank di Indonesia terus berupaya menjaga deposan-deposan mereka untuk bertahan dan tidak pindah ke bank lain. Karenanya banyak program yang ditawarkan, mulai dari bunga hingga hadiah langsung.
Dikatakan Sentot, bisnis jasa keuangan nasional, khususnya perbankan memiliki sejumlah tantangan, di antaranya, belum idealnya struktur perbankan nasional menyebabkan dinamika industri perbankan yang kurang sehat. Likuiditas dan kecukupan modal untuk terus dapat melakukan fungsi intermediasi. Masih rendahnya akses layanan finansial bagi masyarakat (penetraasi perbankan terhadap populasi penduduk Indonesia kurang dari 51 persen).
Pada industri Perbankan Syariah, hambatan yang utama adalah kurangnya familitary serta coverage. Kondisi perekonomian global yang masih diliputi ketidakpastian. (pti)
- BJB Genjot Kredit Properti
- Bank Riau Kepri Syariah Tanjungpinang Pindah Kantor
- Hadiah Tabungan SiAga Bukopin
- Nasabah MNC Life Tembus 400 ribu
- Bursa Efek Indonesia Tertinggi ke-8 Dunia
- 7 Faedah Menabung di BRI Syariah
- Peringatan Hari Ibu, Nasabah Wanita Dapat Merchandise dari BNI
- BRI Salurkan Bantuan Senilai Rp60 Juta
- Kemudahaan Kredit UMKM di BPR Ukabima
- BPR Banda Raya Ekspansi ke Batuaji
- PRS Tahap II Berhadiah Grand Livina
- Teras BRI Layani Pinjaman UMKM
- Nabung Rp20 Juta Berhadiah Langsung
- Teras BRI Lebih Dekat Pedagang
- BPD Lebih Cepat Break Even Point
- Bunga KPR BJB 7,29%
- Karyani Terima Toyota Rush dari BRI
- Nasabah Karimun Dapat Avanza
- BSM Gandeng UMKM
- Pesta Rakyat Simpedes Berhadiah Avanza


