BATAM (HK) - Kualitas pembiayaan perbankan syariah secara umum di Batam dinilai jelek dibandingkan bank umum. Tidak hanya bank syariah, BPR juga jelek, di mana Non Permormance Financing (NPF) atau pembiayaan bermasalah pada triwulan III tahun 2014 mencapai 3,62 persen pada bank syariah dan 3,61 persen pada BPR.
"Dibandingkan bank umum, kualitas pembiayaan bank syariah di Batam memang jelek," ujar Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepri Gusti Raizal Eka Putra, menjawab pertanyaan wartawan tentang kinerja perbankan pada jumpa pers tentang Kajian Ekonomi Regional triwulan III tahun 2014 di bilangan Batam Centre, Jumat (28/11).
Dalam kesempatan tersebut, Gusti memaparkan aset perbankan syariah yang terdiri dari enam bank umum syariah dan dua BPR syariah sebesar Rp2,82 triliun atau melambat 0,95 persen dibandingkan triwulan II tahun 2014, pembiayaan sebesar Rp2,44 triliun, juga mengalami perlambatan sebesar 8,43 persen, dengan dana pihak ketiga (DPK) sebesar Rp1,85 triliun.
"Dana pihak ketiga mengalami pertumbuhan negatif sebesar 8,75 persen. Sedangkan Financing to Deposit Ratio (FDR) bank syariah turun dari 138,03 persen pada triwulan II menjadi 131,72 persen pada triwulan laporan," papar Gusti.
Sementara, kinerja bank umum dan BPR juga mengalami tren perlambatan. Pada bank umum, kredit sebesar Rp29,70 triliun, tumbuh melambat dari 16,96 persen pada triwulan sebelumnya menjadi 12,05 persen pada triwulan III. Sementara aset tercatat Rp46,2 triliun atau tumbuh 11,49 persen, melambat dari triwulan sebelumnya sebesar 20,26 persen. DPK sebesar Rp40,02 triliun atau tumbuh 12,45 persen. DPK juga terjadi perlambatan dibandingkan triwulan II yang tumbuh mencapai 23,26 persen.
BPR mencatatkan penguatan pertyumbuhan kredit, sementara aset dan DPK tumbuh melambat. Penyaluran kredit BPR senilai Rp3,63 triliun, tumbuh 17,83 persen, lebih tinggi dari triwulan sebelumnya 16,39 persen. Adapun aset dan DPK masing-masing sebesar Rp3,44 triliun dan Rp4,28 triliun, atau tumbuh masing-masing 9,65 persen dan 12,23 persen, lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya masing-masing 17,80 persen dan 18,04 persen.
"Indikator yang relatif membaik dari segi kualitas kredit yang tercermin dari menurunnya NPL (kredit macet) dari 1,74 persen menjadi 1,71 persen pada triwulan laporan bank umum dan 3,61 persen dari sebelumnya 3,98 persen untuk BPR," sebut Gusti.
Dalam kesempatan tersebut Gusti juga memaparkan bahwa inflasi di Kepri diperkirakan di angka 6,5-6,7 persen di triwulan IV tahun 2014 dengan pertumbuhan ekonomi diperkirakan di angka 6,9-7,1 persen. (ana)Share
Kualitas Pembiayaan Bank Syariah di Batam Jelek
- Sabtu, 29 November 2014 00:00



