TANJUNGPINANG (HK) - Real Estat Indonesia (REI) Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) merilis selama tahun 2013 pertumbuhan properti di Kepri mencapai 20 persen.
Lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan properti nasional yang hanya sebesar 16 persen.
Pertumbuhan 20 persen tersebut menurut Ketua DPD REI Provinsi Kepri Yasinul Arief mencakup Kabupaten Bintan, Tanjungpinang, Karimun serta Lingga. Kota Batam tidak termasuk karena memiliki REI Khusus, sedangkan untuk Kabupaten Natuna dan Anambas, REI belum menjajakinya.
"Pertumbuhan properti naik dibandingkan tahun lalu yang hanya sekitar 19 persen. Tahun ini, REI Kepri menargetkan untuk membangun 5.000 unit rumah. Tingginya permintaan rumah di Tanjungpinang tidak lepas dari pertumbuhan ekonomi yang cukup baik, pertumbuhan penduduk yang sangat pesat serta dijadikannya Tanjungpinang sebagai Ibukota provinsi Kepri," jelas Arief, begitu sapaanya ditemui di Tanjungpinang, Senin (30/9).
Arief juga menambahakan, tiga tahun terakhir, pertumbuhan properti di Tanjungpinang cukup drastis. Hal tersebut karena dua infrastruktur penting, yakni air dan listrik terus membaik.
"Selain itu, saat baru dilantik Gubernur Kepri HM Sani serta Wakil Gubernur Kepri Soerya Respationo telah menemui Dahlan Iskan yang saat itu menjabat Dirut PLN. Dahlan Iskan merespon baik permintaan Gubernur dan Wakil Gubernur Kepri. Dan ini berimbas pada pertumbuhan di sektor properti tiga tahun belakangan ini," beber Arief.
Walau sempat diguncang nilai tukar rupiah yang melemah terhadap dollar, sehingga menyebabkan naiknya harga material bangunan serta langkanya sebagian bahan bangunan, hal tersebut tidak banyak berpengaruh pada penjualan properti, baik rumah maupun pertokoan di Kepri.
Namun begitu, harga properti tetap terpengaruh karena naiknya harga bahan bangunan, yang mana pengaruhnya sekitar 10-15 persen. "Meski harga naik 10-15 persen, permintaan pasar masih tinggi," ujar Arief.
Dilihat dari tingkat pemasaran, Tanjungpinang masih mendominasi, disusul Bintan, Karimun dan Lingga. "Di Lingga, belum banyak yang dibangun REI, tapi sudah kita mulai. Sedangkan Natuna dan Anambas, kendala kita karena transportasi. Inilah salah satu pengaruh daerah kepulauan. Biaya transportasinya sangat besar," jelasnya lagi.
Perkebangan di bidang properti ini berdampak pada tingkat tenaga kerja yang diserap. Berdasarkan kajian DPP REI pusat, setiap investasi yang ditanamkan sebesar Rp1 miliar bisa mempekerjakan hingga 100 tenaga kerja dan ini jelas membantu pemerintah dalam hal membuka lapangan pekerjaan.
Saat ini jelas Arief, jumlah pengembang atau developer yang bergabung di REI Kepri mencapai 60 perusahaan aktif. Sedangkan pengembang secara keseluruhan mencapai 100 perusahaan.
"Apabila kita rata-ratakan saja setiap perusahaan berinvestasi lima miliar rupiah, maka modal tertanam mencapai Rp300 miliar. Maka REI Kepri sudah mempekerjakan sekitar 30 ribu pekerja di luar Kota Batam," pungkasnya. (sut)



Di sembulang ada sejumlah jejak bekas markas Jepang yang hingga kini masih bis...