Wednesday, Mar 14th

Last update10:00:00 AM GMT

You are here: Entertain Life Style Eranya E-Reader

Eranya E-Reader

Popularitas e-reader bak sebuah bom waktu. Tahun ini diperkirakan bom itu bakal meledak. Teknologi baru dikenalkan, desainnya dibenahi. User pun bakal makin nyaman.

Ketika Apple iPad diluncurkan, ereader (alat pembaca e-book/buku elektronik) seolah mendapatkan napas baru. Bayangkan betapa adiktifnya kegiatan membaca berbagai e-zine/e-book terbaru dalam bentuk PDF di layar LCD 9,7 inci iPad yang colourfull. Tumpukan majalah yang biasa Anda bawa di backpack, kini digantikan oleh handset mungil yang beratnya 0,68 kg.

Para pemain lama e-reader seperti Amazon, Barnes & Noble, serta Sono juga tidak mau ketinggalan. Mereka menghadirkan beberapa fitur anyar seperti layar warna, touchscreen, serta layar hitam-putih yang telah diperbarui. Ketiga teknologi itu diprediksi akan menghiasi pasar e-reader tahun ini.

"Produk e-reader yang ada di pasaran saat ini masih dalam tahap awal. Dalam waktu dekat, teknologinya bisa berubah drastis," ujar Robert Brunner, founder Ammunition, firma desain yang menggarap Nook, e-reader keluaran Barnes & Noble.

E-reader punya sejarah pendek. Mulai populer sejak diluncurkannya Kindle keluaran Amazon pada 2007. Premisnya saat itu adalah menghadirkan alat untuk membaca buku elektronik yang kompak, praktis,serta hemat baterai.

Tapi dengan masuknya iPad, pasar e-reader dihadapkan pada persimpangan. Dengan layarnya yang lega, iPad tak hanya bisa dimanfaatkan untuk berselancar internet atau melihat film, tapi juga menyediakan fasilitas membaca yang nyaman. Apalagi, Apple akan mulai menjual e-book untuk iPad melalui iTunes. Nah, setidaknya ada beberapa teknologi yang dapat dibenamkan di e-reader pesaing iPad untuk membuat mereka tetap relevan dan bisa bersaing di hati konsumen.

Layar sentuh


Teknologi sentuh, terutama multi-touch, punya peran penting terhadap kesuksesan smartphone. Teknologi itu bahkan lebih penting lagi saat konsumen sedang mengonsumsi konten. Misalnya menyentuh link, membalik halaman, atau meng-highlight sebuah paragraf. Sayangnya, untuk saat ini teknologi yang ada dalam produk ereaderyang beredar cenderung primitif. Sentuhannya tidak sensitif dan kurang responsif.

"Kita terbiasa dengan layar yang responsif.Sehingga saat kita menyentuh sesuatu yang tidak merespons dengan cepat, jadi mengecewakan," ujar Brunner.

Warna

Warna adalah faktor paling diinginkan oleh konsumen e-reader. Maklum, produk e-reader yang ada saat ini masih menggunakan teknologi keluaran E-Ink. Ya, penggemar berat e-reader mungkin menganggap warna dapat mengganggu mata. Namun, warna membuka kemungkinan baru untuk menambahkan ilustrasi, foto, kover, bahkan ketajaman huruf dalam ereader. Para manufaktur sudah menyiapkan berbagai teknologi untuk menyasatinya. Qualcomm siap merilis display 5,7 inci warna yang disebut Mirasol. Pixel Qi, perusahaan asal California, memamerkan produk yang bisa bertindak sebagia layar warna, ataupun hitam-putih, dengan tetap mengonsumsi sedikit energi.

Fleksibel

Fleksibel bukan berarti peranti e-readeritu dapat dengan mudah dimasukkan ke dalam backpack dengan barang-barang lainnya. Namun, lebih pada membuat produk e-reader dengan layar besar yang dapat digenggam dengan nyaman. Material kaca (yang jadi fondasi displai saat ini), ke depannya bisa diganti oleh bahan lain yang lebih ringan.Salah satu kemungkinanya dair bahan metal foil.

"Selain ringan, tahan guncangan, juga kokoh," ujar Sri Peruvemba, vice-president marketing E Ink. Layar yang diproduksi E-Ink terdiri atas stainless steel tebal dengan subtraksi foil transistor.Material tinta-elektronik dibenamkan di lapisan plastik. Hasilnya adalah layar yang ringan,juga tipis. Ukuran Kindle DX, misalnya 9,7 inci.Namun, e-reader tersebut lebih ringan 27 persen dari iPad. Dengan menggunakan substraksi berbasis foil, perbandingannya ukurannya bisa mencapai 40 persen.

"Layar berbahan kaca dengan ukuran 11 inci harus dipegang dua tangan. Karena itulah, tablet blom populer untuk membaca. Orang butuh alat yang bisa dipegang dengan satu tangan saja," katanya.

Aplikasi Lebih baik

E-reader yang ada saat ini minim pengalaman interaktif,yang membuat membaca buku digital sebagai pengalaman yang menarik."Produk yang ada saat ini hanya meniru konten cetak dan memuatnya dalam medium berbeda, tanpa menambah nilai baru," kata Brunner.

Blio, aplikasi e-reader, sudah menunjukkan kemungkinan untuk membuat interface yang dapat menyuntikkan nyawa ke e-books. Sejauh ini, aplikasi itu hanya tersedia di PC, iPhone, dan iPod touch.

Lebih kontras

Saat ini layar keluaran E-Ink masih menjadi standar industri. Tapi jujur saja, layar itu minim di kontras. Warnanya terlalu kabur dan kurang tajam. Namun, tahun ini E-Ink berencana untuk merilis layar baru yang lebih canggih dan dapat merespons lebih cepat.

"Kontras lebih baik adalah kunci dari perubahan e-reader.Warna hitam akan lebih hitam, putih lebih putih. Ini adalah permintaan utama para kustomer," katanya.

Apa jadinya jika notepad dikawinkan dengan e-reader? Eee Tablet, begitu kata Asus. "Ini perangkat tunggal yang mengubah gaya baca dan tulis," kata Jonney Shih (Chairman, Asustek Computer Inc.).

Alhasil jadilah sebuah perangkat yang berfungsi sebagai notepad elektronik, e-reader dan juga media player. Bedanya, pemakai akan merasa lebih natural menggunakannya, seolah-olah menulis di atas kertas biasa. "Untuk membalik satu halaman cuma perlu 0,1 detik, atau 10x lebih cepat dibandingkan produk pesaing," jelas Jonney. Sinkronisasi dengan PC atau notebook bisa dilakukan via port USB atau slot kartu microSD.

"Seperti bikin sketsa di kertas biasa. Ada resistensi seperti ketika menulis di kertas. Tapi di sini ada banyak template-nya," ucap Jonney tentang tablet berlayar sentuh dengan resolusi 2450 dpi tersebut. Eee Tablet yang punya koneksi WiFi ini ditujukan untuk mahasiswa dan profesional bisnis yang mobile.

Di perangkat ini, kamu juga bisa men-tag dan melakukan pencarian dengan mudah. Motret pun bisa, karena kamera EDOF 2 megapiksel sudah dibenamkan. Artinya snapshot atau foto dari whiteboard dan slide-slide kuliah bisa diambil, dan juga diimbuhi catatan.

Eee Tablet ini, tambah Jonney, tidak akan membuat penggunanya sakit mata karena silau. Sebab ia tidak menggunakan teknologi backlight. Juga tidak perlu kuatir harus sering-sering mengisi ulang daya baterainya karena Asus menjanjikan durasi sampai 10 jam. Eee Tablet ini konon akan dijual dengan harga kisaran 399 - 449 dollar AS.(sm/net)