BATAM - Ribuan masyarakat Batam berebut belanja di Kepri Mall usai diresmikan Gubernur Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) HM Sani, Jumat (15/10).
Salah satu gerai yang paling banyak didatangi adalah, peretail raksasa berpusat di perancis, Carrefour. Para ibu, baik muda dan tua terlihat antusias dan tidak sabar memilih aneka barang, mulai dari kebutuhan rumahtangga, elektronik dan lainnya yang dijual dengan harga promo.
Ani, seorang warga Sukajadi mengatakan, sangat senang dengan dibukanya di Kepri Mall, karena ia tidak perlu jauh-jauh untuk pergi belanja. Apalagi dengan adanya Carrefour yang terkenal murah.
"Dengan adanya Kepri Mall, saya tak usah repot-repot pergi ke Nagoya untuk belanja kebutuhan rumahtangga. Cukup disini (Kepri Mall), semua tersedia dan murah karena ada Carrefour," tutur Ani.
Lain halnya dengan Joni dan Dina, pasangan suami istri yang tinggal di daerah Batuaji ini, mengaku penasaran dan ingin membuktikan tentang pemberitaan di media, jika Kepri Mall merupakan mal terbesar dan terlengkap.
"Memang sebagian outlet belum buka. Namun, melihat ada Carrefour, Matahari dan sejumlah outlet terkemuka, Kepri Mall memang tempat ideal untuk berbelanja. Belum lagi lokasi strategis dan berada di pinggir jalan yang banyak dilalui angkutan umum," ujar Joni.
Selain dipadati oleh pengunjung, grand opening juga berjalan meriah dan dihadiri oleh para pejabat dan pengusaha di Kepri. Diantaranya, Kapolda Kepri Brigjend Raden Budi Winarso, Wakil Gubernur Kepri Suryo Respationo, Ketua DPRD Kepri Nur Safriadi, Ketua BP Batam Mustofa Widjaya, Danrem Kepri, Walikota Batam Ahmad Dahlan.
Dalam sambutannya, owner Kepri Mall, Hartono mengatakan, kehadiran Kepri Mall akan membuka lapangan kerja yang jumlahnya bisa mencapai ribuan orang. Ia juga optimis Kepri Mall akan ramai.
Sementara Gubernur Kepri, HM Sani sangat senang dengan tumbuhnya bisnis mal di Batam. Ini menunjukkan masih tingginya minat para pengusaha untuk berinvestasi di Batam.
Direktur Operasional Carrefour Indonesia, Jean Paul mengatakan, kehadiran Carrefour yang ke-2 di Batam merupakan bentuk partisipasi guna mendorong pertumbuhan dan peningkatan ekonomi di daerah. Selain penyerapan tenaga kerja, penyerapan aneka produk lokal dan pengadaan berbagai barang konstruksi dalam jumlah besar tentu akan meningkatkan kegiatan perdagangan setempat.
Masih Tersedia Lahan untuk Mall
Menanggapi tumbuhnya bisnis mal di batam, Ketua Badan Pengusahaan (BP) Kawasan Batam, Mustafa Wijaja mengatakan, jika hal tersebut sesungguhnya tidak menjadi masalah. Ia mencontohkan negara tetangga Singapura. Singapura, sebut Mustafa, hanya memiliki 2 juta penduduk, sementara negara tersebut memiliki mall yang sangat banyak, dan tetap eksis.
Untuk berinvestasi di bidang retail ini, lanjut Mustafa tergantung keberanian investornya dalam melihat pasar.
"Posisi kita strategis, itu sangat menjanjikan hadirnya mal-mal besar di Batam," ujar Mustafa di sela-sela grand opening.
Disebutkan Kepri Mall merupakan mal yang dapat mencakup seluruh kawasan di Batam. Tidak hanya itu, Kepri Mall juga diperuntukan bagi wisatawan yang berkunjung ke Batam.
Ditanyakan tentang syarat dan ketentuan pembangunan mal, Mustafa mengatakan setiap pembangunan mall harus mengikuti ketentuan yang ada. Termasuk jarak pembangunan mall dari pasar-pasar tradisional. Sementara untuk lahan masih tersedia di sejumlah lokasi bagi pengusaha yang berminta untuk membuka mal baru.
"Masih ada, itu di pusat-pusat wilayah, seperti Batam Centre, Kabil, ya tergantung ukurannya dan marketnya juga," ungkap Mustafa.
Hal senada juga diungkapkan Walikota Batam Ahmad Dahlan. Menurut Dahlan, kehadiran Kepri Mall semakin memperkokoh Batam sebagai kota MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition).
"Yang mengunjungi mal-mal di Batam tidak hanya warga Batam, tetapi juga dari daerah-daerah lainnya di Provinsi Kepri, termasuk juga diluar provinsi Kepri, seperti Jambi, Jakarta dan daerah lainnya. Di akhir pekan mereka banyak menghabiskan waktu disini, ini adalah kelebihan kita," ujar Dahlan.
Sementara itu, Kadis Pasar, Koperasi dan UKM Kota Batam Pebrialin menyebutkan, tumbuhnya industri mal di Batam diharapkan dapat menampung produk-produk UKM di Batam. Idealnya, sebut Pebrialin, sesuai Perda no. 10 tahun 2009, pemilik Mall harus mengakomodir minimal 10 % dari total space yang tersedia.
Di Batam sendiri, sebut Pebrialin, terdapat lebih dari 20.000 pelaku UKM yang masih aktif. Persaingan yang cukup ketat membuat pelaku UKM harus mencari celah dan cara baru untuk mengembangkan usahanya, termasuk peningkatan kualitas, packaging dan strategi pemasaran. (sm/id/an)
Share




