Terbuat dari Tanah Kuning dan Putih Telur
KARIMUN - Kabupaten Karimun memiliki beragam kekayaan wisata. Tidak hanya wisata alam, namun daerah yang dikenal sebagai kota berazam ini juga memiliki kekayaan wisata religi. Salah satu kekayaan wisata religi yang terdapat di Pulau Karimun adalah bangunan Masjid Al Mubaroq dibangun dipinggir laut dan terletak di Kelurahan Meral Kota, Kecamatan Meral atau disamping Kanwil DJBC Khusus Kepri. Masjid Al Mubaroq saat ini sudah berusia 138 tahun.
Masjid Al Mubaroq didirikan oleh Raja Abdullah Karimun pada 1873 silam. Pembangunan masjid itu membutuhkan waktu selama tiga tahun. "Masjid Al Mubaroq terbuat dari tanah kuning dicampur dengan kapur dan direkatkan dengan putih telur yang sengaja didatangkan dari China," ujar Ketua Masjid Al Mubaroq, Raja Usman saat dijumpai dikediamannya Minggu (7/8) kemarin.
Raja Usman merupakan generasi ketujuh dari Raja Abdullah Karimun atau generasi ke sebelas dari Raja Haji Fisabilillah dari Pulau Penyengat, Tanjungpinang. Menurutnya, seluruh masyarakat dilibatkan dalam pembangunan masjid Al Mubaroq, baik itu laki-laki maupun perempuan. "Kalau yang laki-laki bekerja siang, sementara perempuan bekerja pada malam hari karena perempuan tidak boleh kelihatan," kata Raja Usman.
Diceritakan, selang tak berapa pembangunan masjid berlangsung, Raja Abdullah Karimun berangkat ke tanah suci Mekkah menunaikan ibadah Haji dan memperdalam ajaran agama Islam, sampai akhirnya ia meninggal dunia di Thaif, Arab Saudi. Sebagai penggantinya sebelum berangkat ke Mekkah, ia meminta kepada anaknya, Raja Ishak yang saat itu menjadi Amir (wedana/camat) di Moro untuk memimpin pembangunan Masjid Al Mubaroq. Di masa kepemimpinan Raja Ishak, Masjid Al Mubaroq selesai dibangun, hingga ia diberi gelar Marhum Masjid.
Pada saat pertama kali didirikan, Masjid Al Mubaroq bercorak Arab, India dan China. Saat itu atapnya masih terbuat dari daun rumbia. Bangunan terdiri dari bangunan utama dan teras. Bangunan utama untuk beribadah, sedangkan teras untuk bermusyawarah membahas masalah pemerintahan. Yang membedakan Masjid Al Mubaroq dengan masjid lainnya kala itu adalah masjid memiliki lonceng yang hanya dibunyikan pada saat menjelang masuknya waktu sholat Jumat. Suara lonceng sampai terdengar ke seluruh pulau Karimun saat itu.
"Setelah lonceng berbunyi, maka seluruh umat muslim laki-laki yang ada di seluruh penjuru Pulau Karimun saat itu mulai dari Teluk Paku hingga ke Teluk Air datang ke Masjid Al Mubaroq guna menunaikan ibadah sholat Jumat. Mereka ada yang datang menggunakan pompong. Setelah lonceng dibunyikan, barulah muadzin mengumandangkan adzan dari puncak menara, karena saat itu belum ada pengeras suara," katanya.
Masjid Al Mubaroq telah empat kali mengalami pemugaran. Pemugaran pertama dilakukan oleh Raja Usman (Bukan Raja Usman yang Ketua Masjid sekarang-red) pada tahun 1930-an, atap yang semula dari daun rumbia digantinya dengan atap genteng setelah masuknya Belanda ke Karimun. Namun, pada saat itu corak bangunan masih belum berubah.
Berobahnya corak bangunan terjadi pada pemugaran kedua yang dilakukan oleh Raja Muhammad Sum Nur sekitar tahun 1970-an. Bangunan yang semula terdapat teras, akhirnya dipugar menjadi satu bangunan saja. Begitupun, lonceng untuk memanggil jemaah sholat Jumat dan beduk tidak ada lagi.
Pemugaran ketiga dilakukan oleh Raja Adnan Daud pada 2003 lalu. Semasa Raja Adnan Daud, tempat wudhu diganti dan diperlebar, begitupun halamannya makin diperluas hingga ke pinggir laut. "Tempat wudhu dulu namanya kolah. Sampai sekarang di tempat wudhu perempuan masih terdapat batu persegi delapan yang sengaja didatangkan dari Aceh," ungkap Raja Usman.
Barulah pada 2010 yang lalu, Raja Usman kembali memugar Masjid Al Mubaroq. Ia kembali membangun teras masjid. Sebelumnya, teras hanya terdapat di belakang, namun sekarang ia malah membangun teras hingga ke sekeliling masjid. Ia juga tetap mempertahankan bentuk bangunan atap, mimbar, menara dan teras masjid tersebut. "Hingga sekarang yang masih asli adalah dinding masjid, sementara menara dan mimbar disesuaikan dengan bentuk aslinya," ungkap Raja Usman.
Di samping Masjid Al Mubaroq dapat dijumpai makam pendiri masjid. Makam tersebut merupakan makam raja-raja keturunan Raja Abdullah Karimun. Salah satu benda yang masih asli di sekitar makam tersebut adalah pagar makam yang didatangkan dari Aceh. "Dinding luar Masjid Al Mubaroq sengaja dicat kuning melambangkan kesejahteraan rakyat semasa pemerintahan raja, sedangkan dinding dalam dicat hijau melambangkan kemakmuran. Warna tersebut sama dengan Masjid Pulau Penyengat, karena kami satu keturunan dengan raja disana," tandasnya. (ilham)
Masjid Al Mubaroq, Masjid Tertua di Pulau Karimun
- Senin, 08 August 2011 00:00




Di sembulang ada sejumlah jejak bekas markas Jepang yang hingga kini masih bis... 
