TANJUNGPINANG- Pasca tenggelam ponton kedatangan di Pelabuhan Domestik Sri Bintan Pura (PSBP) Tanjungpinang, pekan lalu, menyisakan keluhan dan menuai tanggapan dari berbagai pihak yang mempertanyakan kinerja PT.Pelindo Cabang Tanjungpinang yang dinilai lalai dan tidak profesional.
Pelabuhan satu-satunya yang merupakan pintu masuk ke wilayah ibukota Provinsi Kepri itu nyaris jadi tontonan setiap penumpang yang datang maupun berangkat, dari pelabuhan yang dikelola PT. Pelindo tersebut. Artinya, selama ini, Pelindo hanya terkesan mementingkan restribusi (uang pass pelabuhan) bagi setiap penumpang yang melintas di pintu masuk, tanpa harus memperhatikan kenyamanan dan keamanan penumpang.
"Ponton rusak dan tiba-tiba tenggelam, itu merupakan hal yang luar biasa. Alangkah baiknya Pelindo sebagai tuan rumah, jauh-jauh hari sudah memperkirakan hal itu, jangan sampai terjadi,"kata Ridarman Bay, pengamat ekonomi menjawab Haluan Kepri, pasca tenggelamnya ponton tersebut.
Menurut Ridarman, jika ini dibiarkan berlarut-larut, yang kena imbasnya bukan hanya Kota Tanjungpinang, tapi wilayah Provinsi Kepri, apakah layak dikunjungi atau tidak. Karena, bisa jadi ada yang nilai jangan-jangan, tiang-tiang dan lokasi prasarana lainnya di PSBP juga pada lapuk semua dan bakal tenggelam nanti, justru akan menjadi lebih repot.
Sebagai pengguna jasa atau konsumen, kata Ridarman, masyarakat juga boleh mengajukan komplain kepada pihak Pelindo. Dan pihak Pelindo, tentunya harus menyampaikan informasi keterangan yang benar kepada masyarakat atas kejadian tersebut.
"Ini masalah citra dan saya menilai, pihak Pelindo tidak bisa menjaga citra kenyamanan, keamanan dan lain sebagainya. Dan juga kelalaian itu disebabkan oleh kurangnya pengawasan, kurangnya pemeliharaan sarana dan prasarana untuk kepentingan masyarakat konsumen atau publik khususnya di PSBP,"tegas dosen STIE Pembangunan itu.
Di sisi lain, tambahnya Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kepri maupun Pemerintah Kota (Pemko) Tanjungpinang juga harus bersinergi, bersama-sama menjaga citra nama baik wilayah Kepulauan Riau di masa- masa mendatang. "Pemerintah tidak boleh membiarkan hal seperti ini terjadi, lokasi wisata harus benar-benar diperhatikan, karena dampaknya sangat luas,"tambah pria yang juga dosen Umrah Tanjungpinang ini.
Walaupun Kepala Administrator Pelabuhan (Adpel) II Kota Tanjungpinang Rahmatullah mengatakan tenggelamnya, ponton jalur kedatangan di PSBP, Rabu (8/6) lalu tidak mempengaruhi jumlah kenaikan dan penurunan kedatangan masyarakat pengguna jasa pelayaran di PSBP, namun kenyaman yang dirasa diakuinya sedikit terganggu.
"Dermaga yang tenggelam sudah terangkat. Pengguna jasa tidak terganggu kok. Akan tetapi, petugas kita yang ada di lapangan lebih ekstra ketat dalam melakukan pengawasan untuk menurunkan penumpang dan sebaliknya,"kata Rahmatullah, kepada Haluan Kepri, belum lama ini.
Mengenai kronologis kejadian, Rahmatullah menegaskan, pihaknya belum mengetahui pasti dan yang jelas sedang dilakukan penyelidikan oleh siapa instansi terkait. "Saya kira faktor umur. Dimana ponton itu sudah tua, lebih kurang 16 tahun lamanya dipakai. Yang pasti kedepannya, hal seperti ini jangan terulang kembali dan mudah-mudahan dalam beberapa hari ini sudah bisa difungsikan kembali,"kata pria berdarah Sulawesi Selatan itu.
Sementara itu, Tiko (30), salah seorang penumpang yang baru datang dari Batam mengaku terkejut melihat ponton kedatangan tenggelam, pekan lalu. Namun, kondisi itu tidak mengganggu jadwal pelayarannya. "Tidak terganggulah, karena sampai saya turun dari kapal tidak ada masalah. Mudah-mudahan cepat diperbaiki," kata Tiko singkat.
Secara terpisah, GM Pelindo Arief Hermawan melalui Manager Teknik Pelindo Danu Kusumo mengatakan, ponton kedatangan sejak tenggelam beberapa hari lalu sudah dilakukan pemeriksaan dan upaya penyedotan air yang berada di dalam ponton tersebut.
"Kedalaman air dibawah ponton ini kami perkirakan sekitar 3 meteranlah, dan alat yang kami gunakan untuk masuk ke dasar ponton terlalu besar dan tidak muat, maka dari itu kami sudah menyewa mobil crane dan tongkang yang akan mengangkat ponton ke atas keluar dari laut. Dengan demikian, maka akan terlihat jelas dimana kebocoran dan bagaimana kelanjutanya,"kata Danu.
Kendala dalam perbaikan ini, sambungnya lagi, tentunya juga bergantung pada air lautnya jika sedang pasang tentu saja tidak bisa dikerjakan, dan pihaknya berharap air laut surut dan jika air mendukung maka tentunya paling lama Jumat ini sudah bisa terselesaikan.
Ditambahkan, Operasional Pelindo Tanjungpinang Dwi Susilo mengatakan, penyebab tenggelamnya ponton, murni akibat faktor usia dan kebocoran. Sekitar pukul 20.00 WIB, Jum'at (10/6) lalu
keseluruhan bangkai ponton kedatangan yang ambruk tersebut, berhasil diangkat ke permukaan dan dievakuasi dengan tongkang ke salah satu doking shipyar di Kota Tanjungpinang.
"Evakuasi pengangkatan ponton yang tenggelam berjalan lancar. Tepat tadi pagi, pontonnya itu sudah kita bawa ke docking shipyard di jalan Batu Enam, Kota Tanjungpinang, dengan menggunakan tongkang yang diderek sama tug boat,"jelas Dwi Susilo, kepada Haluan Kepri di Pelabuhan Sri Bintan Pura (PSBP) Tanjungpinang, Sabtu (11/6) lalu.
Dwi menceritakan, pada waktu evakuasi, sempat terjadi beberapa kendala teknis hambatan di lapangan. Akan tetapi hal tersebut, tidak berlangsung lama. Tetap menggunakan crane mobil lokal yang sama, akhirnya ponton atau dermaga kedatangan yang tenggelam tersebut, secara keseluruhan, akhirnya bisa diangkat dan dimasukkan kedalam kapal tongkang yang telah disediakan.
"Sebenarnya crane mobil itu mampu mengangkat bangkai, cuma ada kendala sedikit, yakni talinya putus. Namun pada akhirnya tim evakuasi Pelindo menggantinya dengan tali yang bobotnya disesuaikan dengan berat ponton itu dan syukur dermaga tersebut berhasil diangkat dan dibawa ke lokasi docking,"cerita Dwi. (ind)
Ponton Kedatangan SBP Tenggelam
Ponton kedatangan yang berada di Pelabuhan Sri Bintan Pura (SBP) pelabuhan domestik Kota Tanjungpinang tenggelam, yang diperkirakan terjadi pada malam hari saat pelabuhan sedang tidak operasional.
Beberapa sumber mengatakan kepada Haluan Kepri yang berada di Pelabuhan Sri Bintan Pura bahwa tenggelamnya ponton tersebut akibat tidak adanya perbaikan maupun pemeliharaan oleh PT. Pelindo cabang Tanjungpinang.
Sumber menyebutkan, ponton di pelabuhan internasional telah mengalami perbaikan selama dua kali dalam tiga bulan ini termasuk melakukan penyedotan terhadap ponton-ponton itu. Namun sayang, ponton jalur kedatangan di pelabuhan domestik Sri Bintan Pura sendiri selama tiga bulan terakhir tidak ada perawatan sama sekali.
General Manager Pelindo Arief Hermawan melalui Danu Kusumo, Manager Teknik Pelindo Cabang Tanjungpinang belum lama ini mengatakan, tenggelamnya ponton yang terbuat dari plat besi tersebut diperkirakan tenggelam sekitar pukul 05.00 WIB, Rabu (8/6) lalu.
Diakuinya bahwa ia pulang dari pelabuhan sekitar pukul 21.00 Wib. Saat itu tidak ada melihat tanda-tanda bahwa ponton tersebut tenggelam, bahkan beberapa staf juga yang masih bertugas hingga pukul 24.00 WIB masih melihat ponton tersebut dalam keadaan baik-baik saja.
"Ponton ini sendiri sudah berusia 16 tahun sejak tahun 1994 dan sesuai dengan anggaran 2011 yang kami anggarkan, ponton tersebut rencananya akan kami ganti pada tahun 2011 awal. Namun ternyata tidak sesuai dengan perkiraan kami," kata Danu.
Senada Capt. Manager Operasi Pelindo Ahmad Jauhari bahwa ponton tersebut setiap minggunya secara berkala dilakukan perawatan yang dilakukan oleh petugas harian seperti pergantian seal dan baut ponton tersebut, terakhir perawatanya pada Jumat dua pekan lalu.
"Menunggu pergantian pada tahun 2012 mendatang, maka sementara akan memperbaiki ponton yang tenggelam itu, diharapkan dalam dua hari ini telah dapat berfungsi normal kembali. Untuk sementara, penumpang kedatangan ini akan kami arahkan ke keberangkatan. Dan jika mungkin penumpang terlalu banyak, maka akan kami pindahkan ke pelabuhan internasional untuk sementara,"kata Ahmad Jauhari.
Dalam hal ini Pelindo menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat atas ketidaknyamanan yang telah terjadi, dan kedepanya Pelindo cabang Tanjungpinang berjanji akan memberikan pelayanan yang terbaik demi kenyamanan masyarakat. (cw42)
Evakuasi Sempat Beberapa Kali Gagal
PONTON jalur kedatangan Pelabuhan Domestik Sri Bintan Pura (DSBP) Kota Tanjungpinang yang alih-alih tenggelam, Rabu (8/6) sekitar pukul 05.00 Wib sempat dievakuasi beberapa kali mengalami kegagalan. Walaupun akhirnya sudah dapat diangkat dan diboyong ke shipyard di kawasan Batu Enam, Tanjungpinang, Jum'at (10/6) petang.
Kegagalan itu, disebabkan kabel pengikat ponton sebelum ditarik crane, wirenya terputus, yang menyebabkan upaya pengangkatan ponton, Kamis (09/6) mengalami kendala lagi. Pihak Pelindo ketika itu hanya berhasil membongkar dan memindahkan atap ponton ke dalam tongkang, sedangkan dudukan ponton tenggelam hingga ke dasar laut.
"Semalam kita sudah usahakan mengangkat ponton keatas tongkang, namun karena wire atau kabelnya tidak kuat menahan berat ponton yang semakin berat akibat bertambahnya air, akhirnya kita cuma bisa mengangkat atap ponton. Sedangkan kedudukanya jatuh ke dasar dan sampai saat ini belum bisa kita angkat ke dasar," kata Ahmad Jauhari, Manager Operasi Pelindo Tanjungpinang, Kamis (9/6) lalu.
Menurut Ahmad Jauhari, putusnya wire tersebut disebabkan semakin beratnya beban diangkat crane yang saat ini diperkirakan lebih dari 60 ton. "Kita sedang usahakan wire dan crane yang lebih besar lagi. Crane yang lebih besar banyaknya di Batam. Tapi untuk datangkan ke sini, kita harus berurusan dengan perizinannya di Bea Cukai. Dan kalau tidak hari ini kita datangkan, mungkin besok (Sabtu)," kata Ahmad Jauhari ketika itu.
Dijelaskan, pihak Pelindo sudah menyerahkan seluruh upaya pengangkatan ponton itu kepada ahlinya. Ponton itu masih dipakai atau kemungkinan harus diganti, meskipun belum saatnya diganti itupun setelah dievaluasi dan dipastikan oleh pihak Pelindo sendiri kebocoran ponton. "Jangka waktu untuk tinjau ponton itu sampai upaya mendatangkan yang baru kalau ponton itu harus diganti, bisa memakan waktu 2 bulan," pungkas Ahmad Jauhri
Diakuinya, bahwa berat ponton akan bertambah setelah dimasuki air dan terbenam dalam lumpur dasar laut. Sementara kemampuan crane hanya bisa mengangkat beban dengan kapasitas 70 ton, jadi dalam hal ini pihaknya akan secepat mungkin mengusahakan mengangkat ponton sebelum bertambah berat. (cw42)
Penyebab Faktor Usia dan Kebocoran
GENERAL MANAGER (GM) PT Pelindo Cabang Tanjungpinang Arif Hermawan SH melalui Operasional Pelindo Dwi Susilo mengatakan, penyebab tenggelamnya ponton, murni diakibatkan oleh faktor usia dan kebocoran. Sekitar pukul 20.00 WIB Jumat malam (19/6), keseluruhan bangkai dermaga tersebut berhasil diangkat ke permukaan.
"Evakuasi pengangkatan ponton yang tenggelam berjalan lancar. Tepat tadi pagi, pontonnya itu sudah kita bawa ke docking shipyard di jalan Batu Enam, Kota Tanjungpinang, dengan menggunakan tongkang yang diderek sama tug boat,"jelas Dwi Susilo kepada Haluan Kepri di Pelabuhan Sri Bintan Pura (PSBP) Tanjungpinang, Sabtu (11/6).
Dwi menceritakan, pada waktu evakuasi, sempat terjadi beberapa kendala teknis hambatan di lapangan. Akan tetapi hal tersebut, tidak berlangsung lama. Tetap menggunakan crane mobil lokal yang sama, akhirnya ponton atau dermaga kedatangan yang tenggelam tersebut, secara keseluruhan bisa diangkat dan dimasukkan ke dalam kapal tongkang yang telah disediakan.
"Sebenarnya crane mobil itu mampu mengangkat bangkai, cuma ada kendala sedikit, yakni talinya putus. Dan pada akhirnya tim evakuasi Pelindo menggantinya dengan tali yang bobotnya disesuaikan dengan berat ponton itu, dan syukur dermaga tersebut berhasil diangkat dan dibawa ke lokasi docking,"cerita Dwi.
Selain itu, dikatakannya, pihak Pelindo secepatnya, akan melakukan yang terbaik, guna menjaga kelancaran aktifitas pelayanan pelayaran di PSBP. Agar kejadian tersebut, tidak terulang kembali dimasa-masa yang akan datang.
"Apakah ponton itu diganti atau di perbaiki, saya kurang tau. Akan tetapi, kita akan segera memberikan informasi kepada masyarakat, agar masyarakat sebagai pengguna jasa pelayaran di PSBP mendapatkan informasi yang seakurat mungkin,"ujarnya. (cw40)
Pelindo Bantah Minim Perawatan
GENERAL MANAGER Manager PT. Pelindo Cabang Tanjungpinang melalui Manager Operasi PT Pelindo, Ahmad Jauhari membantah ponton kedatangan Pelabuhan Domestik SBP yang tenggelam minim perawatan.
Menurut Ahmad Jauhari, perawatan dilakukan setiap minggu dan perawatan secara berkala oleh petugas harian seperti penggantian seal dan bautnya. Perawatan terakhir mereka akui dilakukan pada, Jumat (3/6) pekan lalu.
"Menunggu pergantian pada tahun 2012, maka untuk sementara waktu kami akan memperbaiki ponton yang tenggelam ini. Diharapkan dalam dua hari ke depan telah dapat berfungsi normal kembali. Sementara waktu penumpang kedatangan akan diarahkan ke keberangkatan. Jika penumpang terlalu banyak, maka akan dipindahkan ke pelabuhan internasional," kata Ahmad Jauhari.
Jauhari menambahkan, Pelindo Cabang Tanjungpinang menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat atas ketidaknyamanan pelayanan yang telah terjadi di Pelabuhan Domestik SBP Tanjungpinang, pasca tenggelamnya ponton kedatangan di dermaga tersebut. Kedepan, Pelindo berjanji akan memberikan pelayanan yang terbaik demi kenyamanan masyarakat.
Sementara itu, Manager Teknik Pelindo Tanjungpinang Danu Kusumo menceritakan bahwa ponton diperkirakan tenggelam sekitar pukul 05.00 WIB. Menurut Danu, ia pulang dari pelabuhan sekitar pukul 21.00 WIB, Rabu (8/6) lalu. Saat itu, diakuinya tidak ada masalah pada ponton kedatangan tersebut.
Beberapa orang staf PT Pelindo yang pulang sekitar pukul 24.00 WIB juga tidak melihat tanda-tanda ponton tersebut akan tenggelam. Danu menjelaskan, ponton yang tenggelam ini sudah berumur 16 tahun atau sejak tahun 1994. Menurut rencana, ponton itu akan diganti tahun 2012. Namun ternyata belum sempat diganti, ponton tersebut telah tenggelam. (cw42)
- Solar Ditimbun di Bunker
- Harga Gula Turun, Telur Naik
- LMB Ungkap 'Borok' PN Karimun
- Tebang Pilih Penanganan Kasus Korupsi TPI
- Pemerintah Telusuri Kelangkaan Solar
- Kundur Cukup Syarat Menjadi Kabupaten Baru
- Pro-Kontra Beach Party Fashion TV
- Solar Mulai Langka di Batam




