Kamis05232013

Last update12:00:00 AM

Back Fokus Harga Gula Turun, Telur Naik

Harga Gula Turun, Telur Naik

Harga barang kebutuhan pokok di Batam sangat bergantung dengan jumlah pasokan dari luar Batam atau Provinsi Kepri. Baik itu pasokan dari Pulau Sumatera, Pulau Jawa dan lainnya. Atau juga pasokan dari luar negeri sekalipun. Beberapa pekan belakangan harga barang kebutuhan pokok yang gonjang-ganjing di pasaran adalah harga gula dan telur.

Harga gula terus naik di pasaran Batam sejak Mei hingga Minggu, 19 Juni 2011 lalu. Biasanya harga gula pada tingkat pengecer hanya sekitar Rp9.000 per kilogram. Namun dalam kurun waktu tersebut, harga gula eceran mencapai Rp10.500 bahkan Rp11.000 per kilogram.

Namun sejak terdistribusinya gula impor Thailand ke pasar-pasar di Batam, harga gula pada tingkat pengecer langsung turun drastis menjadi Rp8.000 s/d Rp8.500 perkilogram. Jumlah gula impor Thailand jatah Batam sebanyak 6.000 ton. Sedangkan Bintan dan Karimun, masing-masing 1.500 ton.

Menurut Kadisperindag Kota Batam Ahmad Hijazi stok gula 6.000 ton itu cukup untuk memenuhi kebutuhan Batam hingga tiga bulan ke depan. Artinya persediaan gula di Kota Batam aman atau mencukupi untuk menghadapi Bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri 1432 H. Catatan penting yang digarisbawahi Ahmad Hijazi, persediaan 6.000 ton itu cukup, jika tidak ada gula impor asal Thailand itu yang merembes ke daerah kepabean.

Setelah persoalan gula selesai, giliran pasokan telur lagi yang bermasalah. Biasanya kebutuhan telur di Batam, sebagian besar dipasok dari Medan Sumatera Utara. Namun sejak beberapa pekan belakangan pasokan dari Medan menurun drastis. Hal ini disebabkan karena tingginya permintaan telur ayam oleh perusahaan-perusahaan roti di Medan untuk persiapan roti dan kue Hari Raya Idul Fitri.

Karena pasokan telur ke Batam turun drastis, otomatis jumlah telur yang beredar di pasar sangat terbatas. Sesuai hukum pasar, harga pun langsung melonjak. Kini telur ayan dijual Rp1.100 perbutir. Kondisi ini jelas saja dikeluhkan oleh para konsumen. Terutama yang membutuhkan telur ayam dengan jumlah banyak.

Langkanya pasokan telur membuat harga semakin melambung. Apalagi adanya kabar yang sedang berhembus di kawasan pasar tradisional Sei Jodoh bahwa harga telur akan semakin tinggi. Pasalnya, pasokan telur di wilayah produksi seperti di Medan dan Sumbar juga terjadi kelangkaan.

Oleh karena itu, sejumlah pedagang telur yang tidak mendapat pasokan sebagaimana biasanya sejak dua pekan terakhir mengharapkan adanya impor telur. Karena kebutuhan telur untuk Kota Batam juga sangat tinggi.

Joni, salah seorang pemilik kios di Pasar Tradisional Sei Jodoh mengatakan pasokan telur sedang kosong di kiosnya. Adapun kios-kios dan pedagang eceran lainnya, hanya mempunyai pasokan yang sedikit tetapi harga jual mencapai Rp33 ribu per papan. Harga eceran telur ayam Rp1.100 perbutir. Mungkin untuk beberapa hari berikutnya akan semakin tinggi.

"Sebaiknya pemerintah mencarikan soslusi untuk masalah ini. Bagaimanapun juga telur adalah salah satu kebutuhan pokok. Sama seperti gula yang juga langka beberapa minggu lalu. Karena adanya alternatif gula impor, pasokan mulai lancar dan hargapun sudah normal. Apa salahnya hal yang sama juga dilakukan," kata Joni, Jumat (24/6).

Pedagang-pedagang lain di kawasan tersebut juga menyebutkan hal yang sama. Hasan misalnya, menurutnya produksi telur lokal belum memadai untuk memenuhi kebutuhan pasar Batam. Apa salahnya ada alternatif lain dari pemerintah supaya masyarakat yang membutuhkan telur dapat diakomodir secara baik.

"Di pasar ini tidak ada yang dapat diprediksi. Kemarin gula yang langka, sekarang telur pula. Apa benar produksi telur di negeri ini yang tidak mampu memenuhi kebutuhan? Kalau memang ya, kenapa tidak impor saja," cetus Hasan yang hanya bermenung di lapaknya miliknya.

Sementara itu, sejumlah restoran dan rumah makan juga mengeluhkan kalau telur langka dan harga tinggi. Seperti Rosina (45), yang membutuhkan telur hampir empat papan (120 butir) per hari untuk warung nasi miliknya mengeluh harga terlalu tinggi. Untuk seminggu terakhir, dia hanya bisa membeli separoh dari kebutuhan biasanya. "Saya hanya dapat dua papan saja per hari, itu udah syukur," katanya.

Begitu juga kata Manajer Operasional Restoran Planet Holiday Hotel, Bustami. Tidak ada salahnya pemerintah mencari alternatif untuk mengantisipasi kebutuhan masyarakat dengan telur. Di restorannya, hampir 400 butir kebutuhan per hari. Dia agak khawatir kalau kebutuhan itu tidak dapat tercapai akibat kurangnya pasokan telur di pasar.

"Kalau masih bisa diberdayakan produksi telur lokal tidak haruslah ada telur impor. Namun, kalau kejadian sudah seperti saat ini, untuk sementara waktu, sebaiknya ada telur impor," kata Bustami.

Cooki restoran Swis Bel internasional Hotel, Widodo juga menyampaikan hal serupa. Kebutuhan telur di Restorannya hanya 200-250 butir saja per hari. Namun sangat menentukan ketercapaian pembelian sebanyak itu kalau pasokan benar-benar tidak ada. Dia juga menyarankan untuk sementara waktu agar ada impor telur.

Sementara itu, berdasarkan pantauan di pasar Aviari Batuaji, beberapa harga kebutuhan poko mengalami penurunan harga. Seperti harga gula yang turun sejak Sabtu minggu yang lalu dari Rp9500 per kilogram (Kg) menjadi Rp8000 per Kg. Begitu juga dengan harga minyak makan curah yang turun dari Rp9500 per Kg menjadi Rp9000 per Kg.

"Khusus gula, walau harga sudah turun, namun permintaan seminggu belakangan ini juga turun disini. Kita tidak tahu kenapa sebabnya, padahal infonya sudah ditulis besar-besar di koran," ungkap Ahua dari Toko Sinar, salah satu grosir yang ada di Pasar Aviari, Jumat (24/6).

Namun tidak demikian adanya dengan telur. Dalam seminggu terakhir harga telur mengalami peningkatan dari Rp900 per butir menjadi Rp1000 per butir. Menurut Akhwat yang juga salah seorang pedagang di semi grosir di Pasar Aviari, kenaikan harga telur karena pasokan telur yang ada di tempatnya hanya masuk dari Medan, Sumatera Utara. Untuk mengantisipasi ini, dirinya berharap pemerintah daerah membuka kran impor telur dari Malaysia yang harganya lebih murah dari telur yang didatangkan dari Medan.

"Dibuka kran impor telur lah dari Malaysia biar harganya bisa ditekan karena murah," harapnya sembari menambahkan untuk harga tepung terigu di kawasan Batuaji masih normal alias tidak ada kenaikan. (CW52/CW35)

Batam Butuh Impor Telur

BATAM-Memasuki bulan Ramadhan, dipastikan harga sejumlah bahan kebutuhan pokok, seperti telur akan naik. Pemerintah berharap, bisa mengantisipasi kenaikan harga telur sejak sekarang, salah satunya dengan melakukan impor telur dari Malaysia.

"Kita sangat-sangat membutuhkan sekali impor telur, karena produksi telur kita tidak mencukupi. Selama ini, untuk memenuhi kebutuhan telur, kita datangkan dari Medan, sekarang harganya semakin naik. Jika diimpor, maka biaya transportasi bisa berkurang, hargapun bisa jauh lebih murah," ujar Kepala Disperindag dan ESDM Kota Batam Ahmad Hijazi, Kamis (23/6).

Disebutkan Hijazi, masyarakat ekonomi menengah ke bawah sangat membutuhkan telur sebagai pengganti lauk. Sama halnya dengan ikan lele.

Namun, untuk impor telur, dibutuhkan regulasi dan izin dari Kementerian Pertanian. Dalam hal ini, sebut Hijazi, dibutuhkan peranan Dinas Kelautan, Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (KP2K) untuk menyurati Kementerian Pertanian.

"Setahu saya sudah pernah disurati, tapi sampai sekarang belum ada jawaban. Saya akan lakukan koordinasi lebih dengan KP2K untuk masalah ini, agar kita bisa impor telur," ujar Hijazi.(pti)

Impor Telur, Batam Bisa Hemat Rp3 M Sebulan

BATAM-Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Provinsi Kepri mengusulkan impor telur ayam dari Malaysia kepada Gubernur Kepri. Selanjutnya Gubernur Kepri diharapkan menindaklanjuti usulan itu ke pemerintah pusat. Jika impor telur diizinkan, maka dalam satu bulan masyarakat Kota Batam bisa berhemat Rp3,125 miliar.

Impor ini dimaksudkan untuk mengantisipasi kelangkaan dan kenaikan harga telur ayam memasuki suasana bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri 1432 H di Kota Batam.

"Kita prihatin selama ini menjelang Bulan Ramadhan sampai Hari Raya Idul Fitri harga telur ayam terus naik. Kenaikan harga telur ayam tersebut ikut memicu tingginya angka inflasi. Agar tidak terus terulang, maka Kadin Kepri berencana mengimpor telur ayam dari Malaysia. Selisih harganya cukup besar," kata Wakil Ketua Kadin Kepri Amat Tantoso.

Menurut Amat Tantoso, Kadin Kepri telah selesai melakukan kajian tentang rencana impor telur ayam. Kadin Kepri segera mengajukan hasil kajian itu kepada kepada Gubernur Kepri HM Sani yang juga Ketua Dewan Kawasan (DK) Free Trade Zone (FTZ) Batam, Bintan dan Karimun (BBK).

Hasil survei harga telur ayam yang terkini, harga telur ayam di Malaysia Rp680 per butir. Jika impor diizinkan, maka pada tingkat eceran di Batam akan bisa dijual pada kisaran Rp825 s/d Rp850 per butir. Sementara harga telur ayam di Medan, Sumatera Utara sekarang Rp850 per butir. Telur ayam dari Medan dijual di pasaran Batam sekitar Rp1.000 per butir. Bahkan kini ada yang menjual Rp1.100 per butir di pasaran. "Jadi cukup besar selisih harganya," sebut Amat.

Dari hasil kajian yang dilakukan Kadin Kepri diketahui kebutuhan telur ayam di Kota Batam selama satu bulan sebanyak 25 juta butir. Kebutuhan masing-masing masyarakat Batam terhadap telur rata-rata 0,78 butir per orang. Sedangkan penghematan yang bisa dilakukan jika impor telur dizinkan sebesar Rp3,125 miliar.

Saat ini sudah ada beberapa pengusaha yang tertarik dengan rencana impor telur ayam. Para pengusaha itu menunggu perizinan impor telur. Jika pemerintah setuju, para pengusaha siap jalan. Rencana impor telur ayam ini tidak semata-mata karena dorongan kepentingan bisnis para pengusaha, tapi juga didasari kepentingan masyarakat.

"Selain bisnis, nilai sosial juga ada. Kami pikir rencana ini sangat membantu masyarakat di dalam menghadapi lonjakan harga pada Bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri. Dan perlu dicatat, rencana impor ini hanya untuk kebutuhan Ramadhan dan Idul Fitri. Dengan begitu, tidak akan berpengaruh negatif terhadap usaha ayam petelur di tanah air, termasuk di Bata, ," kata Amat Tantoso.

Pantauan Haluan Kepri di beberapa pasar di Kota Batam, harga telur ayam cendrung naik sejak sepekan terakhir. Biasanya harga telur ayam Rp950 per butir dan sejak pekan kemarin naik menjadi Rp1.000 per butir. "Ya, naik sedikit Pak. Karena di Medan juga banyak permintaan telur dari pabrik-pabrik roti dan kue untuk persiapan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri. Pasokan ke Batam jadi berkurang," kata Maya, pedagang di Pasar Mega Legenda Batam. (erz)

Share