Tingkatkan Disiplin, Bentuk Karakter Dan Bela Negara
PENDIDIKAN merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam kehidupan seseorang karena melalui pendidikan dapat meningkatkan kecerdasan, keterampilan, membentuk karakter kepribadian, mengembangkan potensi diri, membentuk pribadi yang bertanggung jawab, disiplin, cerdas, kreatif dan memiliki semangat bela negara.
Undang Undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 3 mengamanatkan, pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, disiplin dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Sadar akan tuntutan ini, Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN I) dan Batalyon Infanteri 134 Tuah Sakti gayung bersambut membangun kerjasama guna saling melengkapi antara kedua institusi. Bentuk kerjasama antara kedua institusi ini tertuang dalam Memorandum of Understanding (MoU) yang ditandatangani, Senin (11/7).
Kerjasama diantara dua institusi ini meliputi peningkatan disiplin, ketrampilan, pembentukan karakter, dan semangat bela negara sehingga masing-masing pihak menimba dan memetik hikmah dari kerjasama yang terbangun. Kedua pihak memandang penting pendidikan karakter di sekolah sangat diperlukan, walaupun dasar dari pendidikan karakter adalah di dalam keluarga. Kalau seorang anak mendapat pendidikan karakter yang baik dari keluarganya, anak tersebut akan berkarakter baik selanjutnya. Jadi, pendidikan karakter atau budi pekerti plus adalah suatu yang urgen untuk dilakukan. Kepedulian untuk meningkatkan mutu lulusan SD, SMP dan SMU, maka tanpa pendidikan karakter adalah usaha yang sia-sia. Mahatma Gandhi memperingatkan tentang salah satu tujuh dosa fatal, yaitu “education without character” (pendidikan tanpa karakter).
Karakter menurut Wikipedia bisa digambarkan sebagai sifat manusia pada umumnya dimana manusia mempunyai banyak sifat yang tergantung dari faktor kehidupannya sendiri. Tim prima pena (2006 : 234) membuat pemahaman karakter yang cenderung ke sifat manusia seperti watak, tabiat, pembawaan, kebiasaan.
Untuk itu, pembentukan karakter anak di sekolah sejak dini menjadi sangat penting. Deng Xiaoping dalam program reformasi pendidikannya pada tahun 1985 secara eksplisit mengungkapkan tentang pentingnya pendidikan karakter. Karena itu program pendidikan karater telah menjadi kegiatan yang menonjol di Cina yang dijalankan sejak jenjang pra-sekolah sampai universitas. Apabila Cina bisa melakukan pendidikan karakter untuk 1,3 miliar menjadi manusia yang berkarakter (rajin, jujur, peduli terhadap sesama, rendah hati, terbuka), Indonesia tentunya bisa melakukannya. Namun gaung pendidikan karakter belum banyak terdengar.
Tentunya, pendidikan karakter adalah berbeda secara konsep dan metodologi dengan pendidikan moral, seperti kewarganegaraan, budi pekerti, atau bahkan pendidikan agama di Indonesia. Pendidikan karakter adalah untuk mengukir akhlak melalui proses knowing the good, loving the good, and acting the good yaitu proses pendidikan yang melibatkan aspek kognitif, emosi, dan fisik, sehingga akhlak mulia bisa terukir menjadi habit of the mind, heart, and hands.
Dalam hubungan ini maka apa yang disarankan UNESCO perlu diperhatikan yaitu bahwa pendidikan harus mengandung tiga unsur: (a) belajar untuk tahu (learn to know). (b) belajar untuk berbuat (learn to do). (c). belajar untuk bersama (learn to live together). Unsur pertama dan kedua lebih terarah membentuk having, agar sumber daya manusia mempunyai kualitas dalam pengetahuan dan keterampilan atau skill. Unsur ketiga lebih terarah being menuju pembentukan karakter bangsa.
Pembangkitan rasa nasionalisme, yang bukan ke arah nasionalisme sempit, penanaman etika berkehidupan bersama, termasuk berbangsa dan bernegara; pemahaman hak asasi manusia secara benar, menghargai perbedaan pendapat tidak memaksakan kehendak, pengembangan sensitivitas sosial dan lingkungan dan sebagainya merupakan beberapa hal dari unsur pendidikan melalui belajar untuk hidup bersama.
Bela Negara
Arti dari bela negara itu sendiri adalah Warga Negara Indonesia (WNI) yang memiliki tekad, sikap dan perilaku yang dijiwai cinta NKRI berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 yang rela berkorban demi kelangsungan hidup bangsa dan negara. Adapun kriteria warga negara yg memiliki kesadaran bela negara adalah mereka yg bersikap dan
bertindak senantiasa berorientasi pada nilai-nilai bela negara.
Nilai-nilai bela negara yang dikembangkan adalah cinta tanah air, yaitu mengenal, memahami dan mencintai wilayah nasional, menjaga tanah dan pekarangan serta seluruh ruang wilayah Indonesia, melestarikan dan mencintai lingkungan hidup, memberikan kontribusi pada kemajuan bangsa dan negara, menjaga nama baik bangsa dan negara serta bangga sebagai Bangsa Indonesia dengan cara waspada dan siap membela tanah air terhadap ancaman tantangan, hambatan dan gangguan yang membahayakan kelangsungan hidup bangsa serta negara dari manapun dan siapapun.
Nilai yang kedua adalah Sadar akan berbangsa dan bernegara, yaitu dengan membina kerukunan menjaga persatuan dan kesatuan dari lingkungan terkecil atau keluarga, lingkungan masyarakat, lingkungan pendidikan dan lingkungan kerja, mencintai budaya bangsa dan produksi dalam negeri, mengakui, menghargai dan menghormati bendera merah putih, lambang negara dan lagu kebangsaan indonesia raya, menjalankan hak dan kewajiban sesuai peraturan dan perundang-undangan yang berlaku dan mengutamakan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi, keluarga dan golongan.
Nilai ketiga adalah yakin kepada Pancasila sebagai ideologi negara, yaitu memahami hakekat atau nilai dalam Pancasila, melaksanakan nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, menjadikan Pancasila sebagai pemersatu bangsa dan negara serta yakin pada kebenaran Pancasila sebagai ideologi negara.
Nilai keempat rela adalah berkorban untuk bangsa dan negara, bersedia mengorbankan waktu, tenaga dan pikiran, siap mengorbankan jiwa dan raga demi membela bangsa dannegara dari berbagai ancaman, berpastisipasi aktif dalam pembangunanmasyarakat, bangsa dan negara, gemar membantu sesama warga negarayg mengalami kesulitan dan yakin dan percaya bahwa pengorbanan untukbangsa dan negara tidak sia-sia.
Untuk nilai yang terakhir memiliki kemampuan awal bela negara secara psikis dan fisik. Secara psikis, yaitu memiliki kecerdasan emosional, spiritual serta intelegensia, senantiasa memelihara jiwa dan raganya serta memiliki sifat-sifat disiplin, ulet, kerja keras dan tahan uji. Sedangkan secara fisik yaitu memiliki kondisi kesehatan, ketrampilan jasmani untuk mendukung kemampuan awal bina secara psikis dengan cara gemar berolahraga dan senantiasa menjaga kesehatan.
Beberapa contoh bela negara dalam kehidupan nyata, yakni siskamling, menjaga kebersihan, mencegah bahaya narkoba, mencegah perkelahian antar perorangan sampai dengan antar kelompok, meningkatkan hasil pertanian sehingga dapat mencukupi ketersediaan pangan daerah dan nasional, cinta produksi dalam negeri agar dapat meningkatkan hasil eksport, melestarikan budaya Indonesia dan tampil sebagai anak bangsa yang berprestasi baik nasional maupun internasional.
Berdasarkan Undang-Undang Dasar 1945 pada pasal 30 tertulis bahwa Tiap-tiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pembelaan negara. Syarat-syarat tentang pembelaan diatur dengan undang-undang.
Sebagai warga negara yang baik sudah sepantasnya semua lapisan masyarakat termasuk peserta didik turut serta dalam bela negara dengan mewaspadai dan mengatasi berbagai macam ATHG / ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan pada NKRI / Negara Kesatuan Republik Indonesia seperti para pahlawan yang rela berkorban demi kedaulatan dan kesatuan NKRI.
Kegiatan Ekstra Kurikuler
Membela negara tidak harus dalam wujud perang tetapi bisa diwujudkan dengan cara lain seperti ikut serta dalam siskamling, membantu korban bencana di dalam negeri, belajar dengan tekun, mengikuti kegiatan ekstraklurikuler seperti paskibraka, PMR dan pramuka, mentaati peraturan perundang-undangan, peraturan daerah, peraturan serta tata tertib disetiap institusi pemerintah dan sosial kemasyarakatan serta di lembaga pendidikan.
Kegiatan ekstrakurikuler adalah program yang dipilih peserta didik berdasarkan bakat, minat, serta keunikannya meraih perestasi yang bermakna bagi diri dan masa depannya. Kegiatan Ekstrakurikuler adalah kegiatan pendidikan di luar mata pelajaran untuk membantu pengembangan peserta didik sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat, dan minat.
Menurut kajian Anifral Hendri mengenai fungsi kegiatan ekstra kurikuler yakni Pengembangan yaitu fungsi kegiatan ekstra kurikuler untuk mengembangkan kemampuan dan kreativitas peserta didik sesuai dengan potensi, bakat dan minat mereka. Sosial yaitu fungsi kegiatan ekstra kurikuler untuk mengembangkan kemampuan dan rasa tanggung jawab sosial peserta didik. Rekreatif yaitu fungsi kegiatan ekstra kurikuler untuk mengembangkan suasana rileks, mengembirakan dan menyenangkan bagi peserta didik yang menunjang proses perkembangan. Persiapan karir yaitu fungsi kegiatan ekstra kurikuler untuk mengembangkan kesiapan karir peserta didik.
Sementara jenis kegiatan Ekstra Kurikuler yaitu krida meliputi Kepramukaan, Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa(LDKS), Palang Merah Remaja (PMR), Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (PASKIBRAKA). Karya ilmiah meliputi kegiatan ilmiah Remaja (KIR), kegiatan penguasaan keilmuan dan kemampuan akademik, penelitian. Latihan/lomba keberbakatan/prestasi meliputi pengembangan bakat olah raga, seni dan budaya, cinta alam, jurnalistik, teater, keagamaan. Keempat seminar, lokakarya, dan pameran/ bazar, dengan substansi antara lain karir, pendidikan, kesehatan, perlindungan HAM, keagamaan, dan seni budaya.
Kerjasama antara kedua belah pihak dalam meningkatkan kedisplinan, pembentukan karakter, bela negara dan ketrampilan diharapkan membuahkan hasil dimana masing-masing bisa mengambil hikmah demi kemajuan bersama dan pada giliran berarti bagi bangsa dan negara.
Kerjasama Saling Menguntungkan
PENANDATANGAN Memorandum of Understanding antara Kepala Sekolah SMKN I, Deden Suryana,Mpd dan Komandan Yonif 134 Tuah Sakti disaksikan Kepala Dinas Pendidikan Kota Batam, Drs. Muslim Bidin, Bidin, Ketua Komite Sekolah SMKN, Darlispon, Koordinator Tim Instruktur Yonif 134, Letda Infanteri Yustinus Waruwu, sejumlah kepala sekolah, para guru serta para peserta didik.
Deden Suryana,Mpd mengatakan, kerjasama ini menyahuti wacana Departemen Pendidikan dalam meningkatkan pendidikan karakter anak didik mulai dari tingkat SD hingga pendidikan menengah. Pendidikan karakter ini bersumber pada agama dan bela negara yang terintegrasi pada mata pelajaran dan ekstra kurikuler.
Dari pihak sekolah melalui para guru memasukkan nilai-nilai disiplin, etika, dan sopan santun melalui mata pelajaran sementara dari sisi ekstra kurikuler akan ditangani instruktur dari Yonif 134. Kerjasama ini berlangsung selama 2 tahun dan tidak terbatas pada peserta MOS melainkan juga siswa kelas 2 dan kelas 3.
Batalyon 134 Tuah Sakti dinilai sangat berkompeten dan sangat konsern dengan kedisiplinan, pembentukan karakter prajurit serta semangat bela negara yang terpatri kuat. Sementara dari pihak sekolah akan menawarkan bantuan kerjasama berupa pengetahuan informasi dan teknologi (IT), mesin, listrik dan laboratorium bagi para prajurit guna meningkatkan ketrampilan selain kemampuan dan ketrampilan militer yang sudah ada.
Deden lebih lanjut mengatakan, kerjasama yang dilakukan ini juga menyahuti tuntutan pasar tenaga kerja dimana membutuhkan output yang tidak saja memiliki pengetahuan dan ketrampilan melainkan kedisiplinan dan karakter tenaga kerja yang baik.
"Sejumlah perusahaan di Batam malah lebih mengutamakan pekerja yang disiplin dan berkarakter baik. Mengenai pengetahuan dan ketrampilan menurut mereka (perusahaan industri) masih bisa diajarkan tapi kedisiplinan dan karakter agak sulit," ujar Deden.
Oleh karena itu SMKN 1 berusaha tidak semata melahirkan output yang memiliki pengetahuan dan ketrampilan tetapi juga memiliki disiplin diri berkarakter baik sehingga dengan mudah masuk pasar tenaga kerja.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Batam, Drs, Muslim Bidin menyambut baik kerjasama antara kedua belah pihak yang dinilai sangat positif dan baru pertama kali berlangsung. Ia berharap kerjasama serupa bisa dilakukan sekolah-sekolah lain dalam konteks peningkatan disiplin, pembentukan karakter anak didik serta membangun semangat bela negara.
Ia mengakui telah terjadi paradigma dalam pendidikan karakter dan kedisiplinan anak didik. Pada masa lalu masalah kedisiplinan dan pembentukan karakter serta semangat bela negara sangat diperhatikan sehingga anak-anak didik memiliki pribadi yang percaya diri, disiplin, tekun, taat dan semangat patriotisme cukup kuat terpatri.
Sementara belakangan ini kedisiplinan, pembentukan karakter serta semangat bela negara cenderung melemah. Apabila tidak ditangani sejak dini maka terbentuk pribadi-pribadi yang kurang percaya diri, pemalas, manja, cengeng, mental dan fisik yang loyo sehingga tidak bisa diandalkan untuk membela negara.
Lemahnya pendidikan disiplin dan pembentukan karakter anak karena pola pendekatan disiplin dan pembentukan karakter belakangan kurang mendapat dukungan dari orangtua wali murid sebaliknya tindakan guru dalam menegakkan disiplin dinilai melanggar hukum. Sudah banyak fakta para guru dipolisikan karena tindakan guru dianggap tidak patut dalam mendidik siswa.
Komandan Yonif 134, Letnan Kolonel Puguh Binawanto mengatakan, kerjasama ini diharapkan dapat berjalan baik dan membawa dampak positif bagi kedua belah pihak dan bisa berkesinambungan.
Selain wahana silaturahmi kerjasama ini juga bisa meningkatkan kedisiplinan, pembentukan karakter serta ketrampilan siswa serta tertanam semangat bela negara pada anak didik. Dipihak lain juga meningkatkan ketrampilan personil prajurit Yonif diantaranya ketrampilan komputer, kemampuan berbahasa asing, perbengkelan dan kelistrikan. Pihaknya juga menyadari prajurit Yonif juga masih memiliki keterbatasan pengetahuan dan ketrampilan sehingga melalui kerjasama ini dapat saling mengisi.
Sebagai instruktur kegiatan ekstra kurikuler, peningkatan displin, bela negara pihaknya menurunkan 8 orang sebagai instruktur yang akan memberikan materi pada MOS dan setiap hari akan ada prajurit ditugaskan secara bergantian mengawasi penegakan disiplin para siswa antara 2 atau 3 orang prajurit.
Dalam menunjang kegiatan ekstra kurikuler kata Puguh, Yonif juga menyiapkan beberapa fasilitas latihan diantaranya berupa outbond dan flying fox yang bisa digunakan untuk latihan. Setelah 6 bulan pelaksanaan kerjasama selanjutnya akan dievaluasi guna mengetahui perkembangan peserta didik dengan penerapan disiplin, pembentukan karakter melalui kegiatan ekstra kurikuler.
Puguh menjelaskan, penegakan disiplin akan dimulai dengan penegakan tata tertib sekolah yakni jam pelajaran, tata tertib berpakaian mulai dari jam masuk sekolah hingga selesai. Apabila ada peserta didik yang melanggar tata tertib diawali dengan pencatatan selanjutnya dikumpulkan lalu diberikan pengarahan. Jika terulang kembali maka pihaknya akan pelajari penyebab peserta didik tidak disiplin untuk dilakukan therapy berupa teguran secara bertahap yang dikoordinasikan dengan Kepala Sekolah.
Selain itu akan diajarkan kepada peserta didik mengenai PBB, paskibraka, tata cara apel bendera secara militer, kegiatan outbond, flying fox dan kegiatan ekstra kurikuler lainnya. Ia berharapa apa yang akan dilatih dan diajarkan serta benar-benar bermanfaat bagi pembentukan kepribadian peserta didik.(nic)
Apel Militer
PENANDATANGANAN MOU antara SMKN 1 dan Yonif 134 Tuah Sakti dan pembukaan MOS diawali apel bersama di halaman sekolah dengan Inspektur Upacara, Letkol Infanteri Puguh Binawanto, Perwira Upacara Letda Inf Yustinus Waruwu Komandan Upacara Lettu Inf Justik.
Hadir pada apel bersama masing-masing Kepala Sekolah SMKN 1, Kepala Dinas Pendidikan Kota Batam, Drs. Muslim Bidin, Ketua Komite Sekolah SMKN, Darlispon, Pejabat dari Polsek Batuaji dan sejumlah kepala sekolah dan para guru.
Para peserta MOS dengan aksesoris kepesertaan juga tampak mengikuti jalannya upacara singkat dengan penuh hormat. Demikian juga para peserta didik lainnya dengan seragam lengkap tampak berbaris rapih dan dengan khidmat mengikuti rangkaian upacara yang dilaksanakan prajurit Yonif. Selain peserta didik juga hadir sejumlah prajurit lengkap dengan senjata sehingga suasana apel militer cukup terasa khidmat.
Apel bersama yang digelar adalah apel secara militer yang sengaja diperkenalkan kepada para peserta upacara yang terdiri 500 peserta MOS dan siswa/i kelas dua dan kelas 3. Apel militer ini berlangsung singkat terdiri dari pengibaran bendera dan pembacaan teks Pancasila tanpa pembacaan teks Undang-Undang Dasar 45 dan tanpa amanat inspektur upacara. Pengibaran bendera juga dilakukan oleh tiga prajurit Yonif sementara para siswa jadi peserta upacara.
Letda Infanteri Yustinus Waruwu Koordinator Tim Yonif 134 mengatakan, apel militer ini akan diajarkan juga kepada peserta didik sehingga senantiasa terlatih melaksanakan upacara dengan baik dan penuh rasa hormat. Untuk kegiatan ini akan didukung dengan latihan PBB, latihan pemberian hormat kepada bendera, kepada inspektur upacara, dan latihan pengibaran bendera.
Kedisiplinan selama mengikuti apel bendera selama kerjasama berlangsung juga akan ditegakan sehingga para peserta didik terbiasa disiplinan dan menunjukkan rasa hormat dan tertanam rasa cinta terhadap bangsa dan negara.(nic)
- BP Batam Tutup Mata Terhadap Lahan Terlantar
- Perda THM Menuai Kontroversi
- Batam Great Sale Menjanjikan ?
- DPRD Tpi Turun Tangan Atasi Masalah Pendidikan
- Menguak Borok Penerimaan Peserta Didik Baru Di Batam
- Kejati Kepri Ditantang Usut Kasus Pengadaan Alat Kir
- Tiga Kepala Daerah Akan Dilaporkan ke KPK
- Solar Ditimbun di Bunker




