Kamis05232013

Last update12:00:00 AM

Back Fokus DPRD Tpi Turun Tangan Atasi Masalah Pendidikan

DPRD Tpi Turun Tangan Atasi Masalah Pendidikan

Gerah Melihat Hasil UN Rendah

Karena merasa gerah melihat hasil Ujian Nasional (UN) dari tahun ketahun diperoleh Kota Tanjungpinang (Tpi) masih rendah, membuat DPRD Kota Tanjungpinang merasa terpanggil untuk turun tangan ikut melakukan perubahan terhadap peningkatan kualitas pendidikan. Malah membuktikan kesungguhannya itu, DPRD Tpi telah menggelar rapat kerja bersama Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kota Tanjungpinang membahas dan menyelesaikan permasalahan yang dihadapi. Rapat kerja ini bertujuan agar di tahun mendatang hasil UN di Tpi lebih bagus lagi.

Dalam rapat kerja yang dilaksanakan pada Selasa (12/7) lalu itu, mereka mengevaluasi hasil kelulusan UN tahun 2011 dan mencarikan solusi besama. Hasilnya pada Raker tersebut. mereka mampu menyatukan "rasa" menempatkan "opini" pada tataran realita berdasarkan data, bahwa pendidikan di Tpi tidak begitu merosot, bahkan mereka nilai pencapaian kuantitas kelulusan tahun 2011 bila dibandingkan tahun sebelumnya mengalami kenaikan cukup signifikan dan masih dalam koridor wajar.

Namun demikian, mereka menganggap masih ada yang harus dilakukan untuk upaya peningkatan mutu pendidikan di Kota Tanjungpinang, diharapkan data capaian hasil UN 2010/2011 dijadikan sebagai dasar menyusun program kegiatan pendidikan sesuai dengan sumber daya yang tersedia.

Menurut Wakil Ketua I DPRD Kota Tanjungpinang, Husnizar Hood, bahwa bila dibandingkan dengan Kabupaten Bintan hasil UN tahun di Tpi ini masih buruk. Padahal guru-guru yang mengajar di Bintan hampir 70 persen tinggal di Kota Tanjungpinang dan hasil UN disana malah membanggakan.

"Kalau memang perlu, bisa saja belajar ke Bintan, karena disana try out atau uji coba dilaksanakan sampai lima kali, sementara di Kota Tanjungpinang sendiri masih minim," kata Husnizar.Disamping itu lanjutnya, kelemahan yang dimiliki di Disdikpora Kota Tanjungpinang ini, tidak ada rapat koordinasi antara sekolah dan pengawas. Padahal kata dia, masalah pendidikan bukanlah semata-mata tanggungjawab Disdikpora Kota Tanjungpinang saja, melainkan tanggungjawab semua.

Hal senada juga dikatakan Wakil Ketua II DPRD Kota Tanjungpinang, Mansyur Razak. Ia juga sangat kecewa terhadap hasil UN, dimana setiap tahunnya pasti terdapat masalah. Menurut Mansyur, masalah yang terdapat pada dunia pendidikan di Kota Tanjungpinang antara lain kompetensi yang dimiliki guru masih kurang, pelatihan guru-guru belum maksimal, sarana maupun prasarana masih belum lengkap dan mata pelajaran yang diajarkan tidak cocok dengan hasil UN.

Namun yang jelas katanya, tantangan kedepan yang dihadapi oleh anak didik makin berat dan penuh dengan resiko. Untuk itu Mansyur berharap kepada pihak Disdikpora dan orang tua agar selalu mengontrol anak didiknya, terutama di luar sekolah seperti bermain internet dan sebagainya, dimana bila tidak diawasi, maka akan bisa menimbulkan ekses yang kurang baik.

Pada rapat kerja tersebut dihadiri Sekretaris Daerah Kota (Sekdako) Tanjungpinang, Tengku Dahlan, dan juga pejabat struktural dilingkungan Pemko Tanjungpinang. Tengku Dahlan pada kesempatan itu berharap, dengan adanya masukan dari pihak DPRD Kota Tanjungpinang, mudah-mudahan kualitas pendidikan di Kota Tanjungpinang kedepannya lebih meningkat.

"Kita berharap masukan ini nantiya menjadi acuan bersama dalam meningkatkan mutu pendidikan di Kota Tanjungpinang. Selain itu juga bisa bersama-sama membenahi Sumber Daya Manusia (SDM) baik guru maupun anak didik untuk mendapatkan hasil yang maksimal ditahun yang akan datang," kata Tengku. (eza)


Disdikpora Janji Reformasi Guru dan Pengawas

Setelah mendengarkan masukan dari rapat bersama DPRD Tpi, Kepala Disdikpora Kota Tanjungpinang, Dr Syafrial Evi, berjanji akan mereformasi guru, pengawas, kepala sekolah serta memutasi guru bidang studi. Hal ini merupakan solusi untuk mengatasi permasalahan pendidikan selama ini, terutama dalam meningkatkan kualitas mutu pendidikan di Tpi.

Selain itu, Syafrial juga, akan memperbanyak pelatihan-pelatihan untuk guru dan kepala sekolah serta mengurangi perlombaan yang diselenggarakan Dinas Pendidikan. "Bila ini dapat dilakukan dengan berkesinambungan, maka kualitas pendidikan di Kota Tanjungpinang saya yakin kedepannya akan lebih baik lagi," kata Syafrial.

Sejauh ini selama 10 hari diangkat sebagai Kepala Dinas, Syafrial mengaku, dalam tugas utamanya ia membenahi birokrasi dan meningkatkan pelayanan pendidikan di lingkungan Dinas Pendidikan.

"Berbicara masalah kuantitas, maka setiap diadakannya lomba baik akademik maupun non akademik, para pelajar dari Kota Tanjungpinang selalu meraih juara, seperti pernah meraih lima juara tingkat Provinsi. Akan tetapi, bila ditinjau dari segi kualitas, maka secara keseluruhan menurun. Namun hasil yang didapatkan bisa mengalahkan dari daerah lain se-Kepri," papar Syafrial.

Menurut Syafrial, solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut, terutama dalam meningkatkan kualitas pendidikan adalah akan mereformasi guru, pengawas, kepala sekolah serta memutasi guru bidang studi. Selain itu memperbanyak pelatihan-pelatihan untuk guru sekolah dan mengurangi perlombaan yang diselenggarakan Dinas Pendidikan yang tidak menjadi prioritas dan meningkatkan SDM para guru sekolah. "Bila ini dapat dilakukan dengan berkesinambungan, maka kualitas pendidikan di Kota Tanjungpinang kedepannya akan lebih baik lagi," imbuh Syafrial.

Ketua Komisi I DPRD Kota Tanjungpinang M Nazar dalam kesempatan itu setuju akan solusi yang diberikan oleh Kepala Disdikpora Kota Tanjungpinang. Selama ini kata Nazar, kebanyakan dari program yang dibuat oleh Disdikpora sebelumnya kurang berkesinambungan, sehingga reformasi di Disdikpora terlalu lambat. "Kedepan, kami dari Komisi I akan mereformasi amggaran di Disdikpora terutama pada kegiatan-kegiatan yang kurang tepat sasaran, sehingga capaian kualitas pendidikan akan lebih baik," jelasnya.

Hal senada juga dikatakan anggota Komisi I DPRD Kota Tanjungpinang Maskur Tilawahyu. Ia menambahkan, bahwa hasil kelulusan dengan nilai tertinggi untuk murid di Kota Tanjungpinang lebih baik, namun banyak juga siswa yang tidak lulus. "Kita bangga murid di Kota Tanjungpinang ada yang mendapat nilai tertinggi pada hasil UN, namun kita juga kecewa banyak yang tidak lulus," ujarnya.

Menurut Maskur, salah satu kelemahannya adalah musyawarah guru yang memegang mata pelajaran UN belum memuaskan, sehingga hasil UN menjadi anjlok. (eza)

UN Tpi Masih Buruk
(Husnizar Hood, Wakil Ketua I DPRD Tpi)


Saya nilai hasil UN tahun ini masih buruk bila kita bandingkan dengan Kabupaten Bintan. Padahal guru-guru di Bintan hampir 70 persen tinggal di Kota Tanjungpinang, mereka telah mensukseskan UN disana cukup membanggakan. Sejauh ini saya nilai kelemahan Disdikpora Tpi kurang koordinasi antara sekolah dan pengawas. Namun musti kita akui memajukan pendidikan ini bukanlah semata-mata tanggungjawab Disdikpora saja melainkan kita semua.

Minim Kompetensi Guru
(Mansyur Razak, Wakil Ketua II DPRD Tpi)

Masalah yang terdapat pada dunia pendidikan di Kota Tanjungpinang antara lain kompetensi yang dimiliki guru masih kurang, pelatihan guru-guru belum maksimal, sarana maupun prasarana masih belum lengkap dan mata pelajaran yang diajarkan tidak cocok dengan hasil UN. Padahal tantangan kedepan yang dihadapi oleh anak didik makin berat dan penuh dengan resiko. Untuk itu Disdikpora dan orang tua agar selalu mengontrol anak didiknya.

Perlu Penataan Guru
(Ismiyati, Sekretaris Komisi I DPRD Kota Tanjungpinang)


Saya pikir Disdikpora perlu mengadakan penataan guru sekolah, karena ini perlu dalam rangka meningkatkan SDM untuk meraih kelulusan yang lebih baik lagi. Kemudian melakukan evaluasi kinerja disetiap sekolah, maka bila ini dilakukan dunia pendidikan di Kota Tanjungpinang akan maju.

--------


Program Kurang Berkesinambungan
(M Nazar, Ketua Komisi I DPRD Tpi)


Selama ini kebanyakan dari program yang dibuat oleh Disdikpora sebelumnya kurang berkesinambungan, sehingga reformasi di Disdikpora terlalu lambat. Kedepannya DPRD akan mereformasi anggaran di Disdikpora terutama pada kegiatan-kegiatan yang kurang tepat sasaran, sehingga capaian kualitas pendidikan akan lebih baik.

Share