LEMBAGA Kelautan dan Perikanan Indonesia (LKPI) Provinsi Kepulauan Riau menampilkan wajah baru dengan tekad yang kuat membangun kemitraan dengan semua pihak dan pemerintah dalam mendorong pengelolaan potensi sumberdaya kelautan dan perikanan secara maksimal bagi kesejahteraan masyarakat. Bahkan air laut sekalipun akan dijual demi peningkatan penerimaan daerah dan penghasilan bagi masyarakat.
Provinsi Kepri merupakan salah satu provinsi kepulauan dengan luas wilayahnya sebesar 252.601 km², sekitar 95% merupakan lautan dan hanya sekitar 5% daratan. Kondisi ini sangat mendukung bagi pengembangan usaha budidaya perikanan mulai usaha pembenihan sampai pemanfaatan teknologi budidaya maupun penangkapan.
Saat ini setiap kabupaten/kota di Provinsi Kepri memiliki potensi diantaranya di Kabupaten Karimun terdapat budidaya Ikan Kakap, budidaya Rumput Laut, kerambah jaring apung. Kota Batam, Kabupaten Bintan, Lingga, dan Natuna juga memiliki potensi yang cukup besar di bidang perikanan.
Selain perikanan tangkap di keempat Kabupaten tersebut, juga dikembangkan budidaya perikanan air laut dan air tawar. Di kota Batam tepatnya di Pulau Setoko, bahkan terdapat pusat pembenihan ikan kerapu yang mampu menghasilkan lebih dari 1 juta benih setahunnya. Di Kota Batam tepatnya didaerah telaga punggur, ada satu pelabuhan perikanan yang dikelola murni oleh swasta. Sarana juga menjadi pendukung utama pengelolaan potensi sumberdaya laut.
Dari sisi posisi wilayah, Kepri juga sangat potensial dimana berbatasan dengan sejumlah negara diantaranya Vietnam dan Kamboja di sebelah utara; Malaysia dan provinsi Kalimantan Barat di timur; provinsi Kepulauan Bangka Belitung dan Jambi di selatan; Negara Singapura, Malaysia dan provinsi Riau di sebelah barat.
Potensi wilayah baik dari sisi sumberdaya kelautan dan perikanan serta posisi yang sangat strategis ini menurut Direktur Lembaga Kelautan dan Perikanan Indonesia Provinsi Kepri, Insyah Fauzi harus benar-benar dikelola melalui sinergisitas program pendanaan dan kemitraan guna peningkatan kesejahteraan masyarakat secara umum, khususnya masyarakat nelayan.
Mantan Calon Walikota Batam ini tengah meramu personil kepengurusan dengan menampilkan wajah-wajah baru dari berbagai latarbelakang pendidikan serta pengalaman yang diharapkan mampu memberi arti dalam mewujudkan visi dan misi organisasi, memajukan masyarakat nelayan sehingga bisa mencapai tingkat kesejahteraan serta kemajuan daerah.
Agar potensi kelautan dan perikanan menjadi tidak sia-sia atau dimanfaatkan oleh pihak lain atau bangsa lain yang belakangan sering melakukan ilegal fishing maka sudah saatnya LKPI menunjukkan kiprah dengan merealisasikan program serta membangun kemitraan dengan berbagai pihak terkait termasuk pemerintah daerah.
LKPI tidak semata mewujudkan program-program yang akan digelontorkan melainkan turut mengawasi kinerja instansi pemerintah terkait yang melaksanakan program nasional dan daerah. Untuk itu, dalam pawai organiasi ini, pihaknya juga akan menyampaikan buah pikiran dalam bentuk ide, gagasan, prakarsa serta kritikan dalam pengelolaan kelautan dan perikanan di Bumi Segantang Lada ini.
Setelah dipercayakan pada Musda, Insyah telah mengajukkan susunan kepengurusan baru dan telah merancang program kerja setiap bidang dalam struktur organisasi LKPI. Program-program dari setiap bidang diupayakan dapat direalisasikan melalui pola kemitraan yang akan dibangun.
Sebab menurut Insyah yang cukup sukses dalam dunia bisnis ini, pemerintah tidak bisa berjalan sendiri dalam pengelolaan sumberdaya kelautan dan perikanan. Demikian juga LKPI tidak akan mampu mendorong upaya pemanfaatan sumberdaya kelautan dan perinanan tanpa bermitra dengan pihak lain. Kerjasama dengan semua pihak akan digalakan setelah pihaknya resmi dilantik menjadi pengurus LKPI Provinsi Kepri.
Sebelumnya LKPI sejak berkiprah beberapa tahun silam kata Insyah juga telah menunjukkan andil dalam menyuarakan kepentingan kaum nelayan dan bersama instansi pemerintah telah membangun kemitraan serta pengawasan terhadap kebijakan dan program pemerintah khusus Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kepri serta kabupaten/kota.
Beberapa program kegiatan yang telah dilaksanakan kepengurusan sebelumnya menjadi pemicu bagi pemihaknya guna lebih meningkatkan partisipasi aktif dalam mendukung pemerintah menjaga serta mengembangkan potensi kelautan dan perikanan. Provinsi Kepri merupakan salah satu wilayah kepulauan yang memiliki potensi sangat besar sehingga menjadi perhatian serius dari DPP LKPI di Jakarta.
Banyak permasalahan yang juga terkait dengan kelautan dan perikanan akan menjadi perhatian serius dari LKPI Provinsi serta kabupaten/kota. Permasalahan-permasalahan terkait dengan kelautan dan perikanan diantaranya masalah limbah, masalah perbatasan dan ancaman terhadap pulau terluar, ketahanan negara, ilegal fishing, penyelundupan berbagai jenis barang, serta transaksi ilegal yang berlangsung di sekitar wilayah perairan Kepri. Permasalahan limbah yang menjadi perhatian yakni ratusan ton limbah cair sludge oil yang ditimbun di dekat pinggiran dam. Sludge oil tergolong limbah yang mengandung bahan beracun berbahaya (B3). Kendati telah ditimbun secara ilegal sejak tahun 2005 lalu, namun kasus kejahatan lingkungan ini baru terungkap sekarang.
Untuk itu pihaknya tengah merancang sejumlah program awal yang diupayakan dapat direalisasikan yakni meningkatkan pendapatan masyarakat dari sumberdaya laut dan kemaritiman, pembinaan masyarakat nelayan dan pesisir, mengontrol industri yang melanggar tata ruang kelautan dan menyebabkan kerusakan ekosistem yang menganggu potensi tangkapan para nelayan, mengembangkan budidaya perikanan bagi peningkatan pendapatan masyarakat, melakukan studi banding serta kerjasama dengan sejumlah kelompok nelayan yang mengusahakan budidaya berbagai jenis ikan, menjembatani kelompok nelayan dengan pemerintah daerah maupun pemerintah pusat.
Dalam rangka mewujudkan program ini, LKPI Provinsi Kepri telah menyusun struktur kepengurusan yang terdiri dari 5 Wakil Direktur dan 13 kepala bidang. Masing-masing bidang menyiapkan program yang akan diwujudkan secara bertahap selama masa tugas.
Insyah bertekad akan membentuk organisasi LKPI sebagai organiasi teladan dan membentuk pribadi-pribadi pengurus yang menjadi teladan bagi masyarakat dalam berorganisasi dan mengabdi bagi kepentingan daerah dan masyarakat.
Ia sama sekali tidak menambahkan organiasi LKPI hanya sebatas seremoni pemilihan pengurus dan pelantikan dan yang bekerja hanya ketua, sekretaris dan bendahara yang kerap dicap organiasi 'KSB'.
Kepada setiap pengurus ditanamkan semangat mengabdi dengan berpartisipasi aktif baik tenaga, waktu dan pikiran guna membangun organiasi dan mewujudkan cita-cita organiasi. Oleh karena itu kepada para pengurus juga ditanamkan pemahaman tentang visi dan misi organiasi serta tujuan pembentukannya. Hak dan kewajiban pengurus menjadi perhatian penting dalam menciptakan profil pengurus yang akan menjadi teladan dan pengelolaan organiasi secara profesional, harus menjadi organiasi teladan.
Dengan demikian kata Insyah, organiasi LKPI akan menjadi mitra pemerintah dalam menyukseskan program-program dibidang kelautan dan perikanan serta menjadi harapan bagi masyarakat secara umum dan nelayan khususnya dalam memajukkan usaha demi peningkatan pendapatan.
Sebab sejauh ini kata Insyah, masyarakat nelayan dan pesisir belum terayomi kepentingannya secara baik bahkan terkesan hanya menjadi komoditi dan obyek bagi kalangan tertentu yang mengatasnamakan para nelayan pesisir.
Kondisi masyarakat pesisir dan nelayan di Provinsi Kepri yang terbilang memiliki wilayah laut yang sangat luas dibanding dengan provinsi kepulauan lainnya, hingga saat ini masih memprihatinkan. Betapa tidak kondisi air laut yang tercemar akibat limbah beracun menyebabkan ekosistem terganggu dan berpengaruh terhadap hasil tangkapan para nelayan. Ilegal fishing juga terus merampas potensi tangkapan para nelayan, keterbatasan alat tangkap dan sara penunjang membuat mereka tidak bisa mencari tangkapan lebih juah dari pemukiman. Belum lagi permasalahan bantuan yang diterima tidak seberapa dan pembinaan yang minim serta ketrampilan yang terbatas.
Sebagai contoh kondisi memperihatinkan dialami masyarakat Pulau Setunak, Desa Tulang, Karimun. Meminta aparat terkait untuk mengusir dua kapal hisap timah yakni Bahtera Anugerah I dan Blassing yang disewa PT Eunindo Usaha Mandiri (EUM). Keberadaan kapal hisap ini membawa petaka bagi mata pencaharian nelayan. Sejak kapal ini beroperasi, hasil tangkapan mereka menurun drastis.
Demikian juga aktivitas pertambangan yang dikerjakan PT SPL di Pulau Bendahara Kabupaten Lingga, menyebabkan keresahan bagi warga dimana telah menyebabkan hasil tangkapan para nelayan menurun drastisi. Hal yang memprihatinkan ini juga telah mengundang perhatian Dewan Pimpinan Pusat Lembaga Kelautan dan Perikanan Indonesia (LKPI), Bahkan pengurus DPP LKPI turun ke Lingga memantau aktifitas pertambangan di daerah ini.
Persoalan yang meliliti masyarakat nelayan sangat kompleks sehingga membutuhkan perhatian serius dari berbagai pihak termasuk LKPI. Mampukan LKPI Provinsi Kepri dan pengurus yang menjalankan roda organiasi menjadi teladan dalam memberi arti bagi masyarakat dan Bumi Segantang Lada?
=============================
Insyah Jadi Ditrektur LKPI
Insyah Fauzi akhirnya terpilih sebagai Ketua Lembaga Kelautan dan Perikanan (LKPI) Kepri dalam Rapat Tim Formatur dipimpin Dermawan Sinurat, S.H (Ketua Plt), Jamal Sagala (Ketua Tim Formatur) dan Isparmanto (Sekretaris) di Hotel Sari Jaya, Ahad (12/6.
Dermawan mewakili DPP LKPI menghimbau segera dilanjutkan dengan pembentukan kepengurusan yang potensial dan memiliki kapabilitas, selanjutnya melakukan pemetaan pelaksanaan program program LKPI dapat.
LKPI Kepri sebagai lembaga partner Dinas KP2, tegasnya memiliki tugas dan tanggungjawab yang berat dan besar. Khususnya permasalahan kelautan, perikanan khususnya nasib para nelayan yang menurutnya harus segera dikerjakan ketua atau pengurus LKPI Kepri yang akan terbentuk melalui SK yang segera diterbitkan oleh DPP.
Isparmanto meyakini Insyah akan mampu membawa LKPI Kepri sebagai organisasi yang kreatif dan produktif. ''Melihat kemampuan dan pengalaman Insyah, saya yakin beliau akan mampu membawa lembaga ini (LKPI, red) menjadi lembaga yang independen dalam hal pengawasan dan kontrol terkait kelautan dan perikanan di wilayah Kepri,'' ujar Isparmanto.
Sementara Insyah sendiri setelah mendengar keputusan tersebut menyampaikan dirinya menerima amanah tersebut dengan pertimbangan begitu banyaknya masalah kelautan dan perikanan di wilayah Kepri yang terbengkalai.
''Potensi perairan dan kelautan Kepri yang seharusnya dapat dinikmati warga khususnya nelayan Kepri namun belum maksimal dikelola oleh Pemerintah. Inilah yang menjadi dasar dan alasan bagi saya menerima mandat memimpin LKPI Kepri,'' jelasnya.
Visi dan misi saya, tegasnya sangat sederhana. Hanya dengan menjual potensi 95 persen laut Kepri, Insyah yakin laut dan perikanan akan mampu memberi kehidupan dan kesejahteraan bagi warga dan nelayan Kepri khususnya.
Ia menilai selama ini pemerintah belum mampu memasarkan potensi laut dan perikanan. Konsep menjual air laut melalui sinergi kerjasama LKPI dengan pemerintah akan segera saya terapkan begitu saya secara resmi memimpin LKPI Kepri. Selain itu ikut mendorong/menggalang dan mengusahakan terwujudnya nelayan, petani ikan/pengolah produk perikanan dan pengusaha perikanan di Indonesia dalam bentuk kemitraan yang saling menguntungkan.
Selain sinergi dengan pemerintah, tegasnya LKPI juga akan keras dalam memberikan kritik kepada pemerintah. Khususnya terkait masalah perbatasan dan penggunaan anggaran dalam pelaksanaan proyek terkait dengan kelautan dan perikanan yang berasal dari pusat.
''Kritik yang kita berikan tentunya lebih bersifat positif yang disertai dengan konsep solusi. Jadi, bukan kritik saja yang kita sampaikan namun konsep yang akan menjadi solusi atas nasib kelautan dan perikanan di wilayah Kepri ini,'' tegasnya.
Kepri Harus Bisa Menjual Air Laut
HAMPIR seluruh negeri yang ada dimuka bumi ini mempunyai areal laut. Tapi belum ada satupun manusia yang ada dimuka bumi ini berpikir untuk menjual atau membeli air kecuali sudah dalam bentuk garam dan berbagai produk barang jadi lainnya ataupun yang sudah ditawarkan menjadi air bersih untuk dikonsumsi kapal-kapal yang sedang berlayar. Apalagi ketika ternyata kita mampu membuat terobosan dengan cara membuat para pembeli tidak pernah menjadi pemilik dari apa yang sudah dibelinya.
Indonesia mempunyai banyak potensi dan kandungan kekayaan sumber daya alam, disamping kondisi lahannya yang subur dan faktor iklim yang mendukung. Semua kita tau tentang itu. Bahkan yang lebih aneh, justru ternyata pihak asing yang mengetahui jauh lebih banyak tentang apa yang terkandung diperut bumi Bunda Pertiwi ini. Itulah sebabnya kita dijajah oleh berbagai bangsa dimasa silam. Dan penjajahan itu juga ternyata belum berakhir hingga hari ini walaupun dalam bentuk dan cara menjajah yang berbeda. Ekonomi negeri kita dijajah oleh berbagai Negara maju. Bahkan oleh Negara yang tingkat kekayaan dan luas wilayah serta jumlah pendudukn ya yang sangat jauh lebih kecil daripada yang kita miliki. Ironis bukan!?
Kekayaan berbagai kandungan Mineral yang ada di perut bumi Indonesia, dari jaman dulu kala hingga hari ini, dijual keberbagai belahan dunia dalam keadaan mentah atau dalam bentuk apa adanya. Minyak, Gas, Emas, Timah, Uranium, Nikel, Bauksit, Alumunium, Mangan,Batu bara, bahkan hingga ke Pasir darat dan juga Pasir laut. Banyak lagi yang lainnya. Demikian juga halnya yang berada dipermukaan tanahnya; Kayu, Karet, Sawit, Pinang, Kelapa dan lain-lain sebagainya. Belum lagi berbagai hasil laut seperti berbagai jenis ikan yang selama ini dijual dengan harga murah meriah. Semua dikuras secara besar-besaran dari negeri ini untuk mengejar transaksi yang menghasilkan uang cepat.
Tidak banyak Anak bangsa yang ada di negeri ini yang mau berpikir dan berusaha untuk menjual berbagai komoditi itu dalam keadaan yang sudah berbentuk barang jadi siap pakai. Alasan yang selalu dikemukakannya adalah karena kita belum mampu dan belum mempunyai fasilitas pengelolaannya. Yang lebih sialnya lagi, mereka yang duduk di Pemerintahan juga hanya berpikir sebatas bagaimana memeras keringat rakyat dengan cara yang cepat untuk menghasilkan uang dari rakyat itu. Baik untuk keperluan belanja negara dari pendapatan sektor pajak, juga keperluan memperkaya diri secara pribadi.
Hari ini sudah saatnya kita Menjual Air Laut ke manca Negara. Karena air laut adalah satu-satunya sumber daya kekayaan alam kita yang sangat banyak kita miliki dan tidak akan pernah habis sampai dunia kiamat.. Menjualnya dalam bentuk air minum itu tidak mungkin dil akukan, karena biaya produksinya sangat tinggi dan jarang ada orang yang mau meminumnya jika mengetahui bahwa itu adalah air yang berasal dari air laut. Kecuali ada data pasti dari hasil penelitian yang lebih mengedepankan berbagai aspek mineral penunjang kesehatan yang ada didalamnya. Bisa saja kesemua itu menjadi hal yang dapat terwujud nyata. Mengapa tidak!?
Saya dapat pastikan bahwa setiap orang yang membaca tulisan ini akan mengatakan bahwa saya adalah Orang gila. Namun bagi saya itu adalah hal yang sangat lumrah dan wajar, karena di dunia ini memang demikianlah adanya bagi semua impian yang belum terwujud nyata. Dan, masih menurut saya, terhambatnya kemajuan pembangunan negeri ini adalah justru dikarenakan kita sudah terlalu lama dipimpin oleh Orang waras, takut bermasalah dan tidak siap untuk dikategorikan sebagai Orang gila. Selalu menghabiskan waktu dan berorientasi untuk mencari-cari berbagai penyakit dan obat dari kegagalan pembangunan. Tanpa pernah mau berkonsentrasi dan menyadari bahwa yang sakit dan yang perlu diobati segera itu adalah penyakit jiwa (manusia) si pembangunnya.
Bagaimana cara mewujudkannya???
Pertanyaan ini sangat wajar bagi anda untuk melontarkannya kepada saya. Karena bukan saja anda, tapi saya sendiripun sudah bosan dengan orang-orang yang hanya pandai bicara dan mengkritik tanpa pernah membuktikan berbagai solusi yang mampu dibuatnya. Walaupun hanya baru menciptakannya sebatas konsep. Karena yang paling bertanggung jawab untuk mewujudkan konsep-konsep solusi itu adalah pemerintah dan manusia yang beruntung yang mendapat dukungan dari pemerintah. Baik di daerah maupun ditingkat pusat. Baik dari segi Moral, Perizinan dan juga Finansial yang disalurkan lewat berbagai bank pelat merah milik Negara. Ataupun dengan menggunakan anggaran belanja, dan juga pos-pos keuangan tertentu yang dimiliki Negara. Intinya tidak ada yang tidak mungkin selama ada kemauan yang sungguh-sungguh untuk membangun negeri ini.
Bagaimana cara menjual Air Laut itu???
Caranya sangat mudah, Buat saja Kolam berenang dengan konsep seperti apa yang dikembangkan oleh Taman Impian Jaya ancol di Jakarta dan menggabungkannya dengan konsep yang dijual oleh kolam renang The Jungle di Bogor, ditambah lagi dengan sentuhan air terjun yang bernuansa alami, dan lain-lain. Dalam skala yang lebih besar dan lebih megah. Ditambah dengan berbagai jenis permainan yang dapat menghibur para pengunjung. Baik yang tua maupun yang muda. Seperti halnya yang dilakukan oleh pengelola Disney Land dan Dunia Fantasy.
Kolam renang ini juga dilengkapi dengan Kolam Air tawar, Air hangat, Air dingin dan juga Sauna. Tentunya agar para pengunjung dapat merasa tertarik karena efek-efek kesehatan yang didapatinya disana. Hal itu sangat perlu, karena 99% manusia dijaman ini mengalami krisis kepercayaan dirinya. Terutama dari aspek-aspek yang menyangkut kesehatan pribadinya. Mereka butuh relaksasi, dan sangat butuh juga relaks sambil membangun kesehatan diri.
Tersedia juga rumah pantai (Cottage) yang langsung menghadap pantai. Fasilitas ini disediakan guna dapat mengakomodir keinginan para penggemar keindahan pantai, karena dikawasan ini juga tersedia hamparan pantai yang memungkinkan para turis dapat menikmati kehangatan matahari dan indahnya pasir putih, karena Batam juga memiliki pantai yang dihiasi pantai putih. Itulah kelebihan Batam.
Kawasan wisata terpadu yang dilengkapi dengan fasilitas Hotel, Restoran, Shoping Mall, Pasar kesenian yang dilengkapi dengan panggung seni budaya yang mempunyai acara terjadwal dan lain-lain. Semua sudah lengkap. Semuanya syarat dengan sentuhan budaya Indonesia, dari sabang sampai Merauke. Tentunya ini adalah mesin pencetak uang daerah yang sangat pasti akan dapat mendongkrak angka pendapatan asli daerah dalam beberapa tahun kedepan.
Bahwa semua Negara yang mempunyai cita-cita untuk membangun kejayaannya selalu memulai dengan membangun berbagai Infrastruktur yang berkaitan dengan kepariwisataan. Seperti Sentosa dan casino di Singapura, Panorama Genting Island dan juga casino di Malaysia, Window of The world di Shenzen-China. Pantai Phuket di Thailand, berbagai Casino dan Miami Beach serta Disney Land di Amerika, Hongkong dan berbagai Negara-negara maju lainnya.
Tiga belas tahun silam, ketika pertama sekali saya menginjakkan kaki di Shenzen, yang ada baru hanya beberapa bangunan tinggi saja. Namun mereka justru lebih kesohor dengan Miniatur world (Window of the World’nya). Tapi saya terperangah ketika mengunjunginya kembali, anak-anak saya mengajak untuk berlibur ke Disney Land Hongkong dipergantian tahun 2008-2009 yang lalu, saya menyempatkan diri untuk mengajak anak-anak ke Shenzen dan Macau. Ada lebih dari 28.000 (dua puluh delapan ribu) gedung bertingkat yang tingginya diatas 28 lantai di shenzen saat ini. Dan saya juga sangat kagum dengan ide menjadi Macau dan Hongkong yang dikelilingi oleh bukit-bukit batu berubah menjadi berbagai gedung-gedung mewah yang dipenuhi oleh para wisatawan manca Negara. Hampir merata pembangunan berbagai bentuk gedung yang menjulang hingga ke berbagai provinsi di China yang pernah saya kunjungi. Guang Zhou, Shanghai, Beijing, Ning Bo, bahkan hingga ke Sizhuan. Wah, itu baru yang pernah saya lihat, bagaimana pula dengan berbagai tempat yang belum sempat saya melihatnya??? Itulah pertanyaan yang ada didalam benak saya.
Bagaimana mereka mendapatkan modal yang sedemikian besar untuk membangun kesemua itu??? Semuanya kembali dengan cara menjual Kegilaan, Motivasi, Strategi pemasaran, dan juga Impian yang terus dilakukan secara konsisten. Pemerintah menjual berbagai impian indah kepada rakyat. Dan Rakyatnya menjual berbagai impian indah kepada para wisatawan yang kemudian merasa tertarik untuk menanamkan modalnya. Tentunya juga dengan berbagai Impian tentang Kemudahan, Keamanan dan Kenyamanan investasi.
==================
Abrasi Picu Wilayah Laut Bertambah Luas
LUAS lautan di wilayah Provinsi Kepri sebelumnya semula 96 persen namun belakangan meningkat menjadi 97,63 persen. Meluasnya wilayah lautan ini dikarenakan banyaknya proses abrasi (erosi pantai) pada sejumlah daratan terutama pada pulau-pulau terluar.
Demikian disampaikan Ketua Lembaga Kelautan dan Perikanan (LKPI) Provinsi Kepri Andi Zulkarnain saat berkunjung ke Kantor Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Kepri, Selasa (16/11) lalu. Saat berkunjung, Andi didampingi Ketua Bidang Budidaya Perikanan LKPI Kepri Jamal Sagala dan sejumlah pengurus LKPI Kabupaten dan Kota se-Kepri.
"Artinya, wilayah daratan Provinsi Kepri saat ini sudah berkurang sekitar 1,63 persen. Ini hasil survey kita tahun 2010," katanya
Rombongan LKPI diterima Kabid Pengembangan Produksi Sarana dan Prasarana Produksi DKP Provinsi Kepri Sudeswan Shasmand. Berbagai permasalahan dan kondisi terkini dari kelautan Kepri dibahas dalam pertemuan tersebut, termasuk kondisi pulau terluar yang kondisinya sangat memprihatinkan dan terancam akan hilang dari peta karena proses abrasi.
Karenanya, Andi lantas memaparkan sejumlah rencana kerja LKPI yang akan dilaksanakan bersama DKP guna memberdayakan berbagai potensi di pulau-pulau terluar tersebut. Dengan maksud, menjadikannya lebih bernilai ekonomis sehingga mampu meningkatkan perekonomian masyarakat pesisir sekaligus menjaga eksistensi pulau-pulau terluar di provinsi ini.
Di antara pulau terluar yang menjadi fokus program LKPI yakni, Pulau Pelampung, Pulau Nipah, Pulau Putri dan lainnya. Kata Andi, Pulau Putri sebagai pulau terluar yang berada di perairan Nongsa, Kota Batam bisa dikembangkan menjadi objek wisata bahari.
"Karena Pulau Putri itu menyimpan keindahan yang akan menimbulkan rasa senang bagi wisatawan. Dengan sedikit pembenahan, Pulau Putri akan mampu menjelma menjadi kawasan wisata bahari yang mendatangkan banyak wisatawan," ujarnya.
Sedangkan Pulau Pelampung, menurut Andi, bisa digunakan sebagai tempat budidaya ikan kerapu yang akan meningkatkan perekonomian bagi nelayan pesisir. Selain itu, juga bisa dilakukan pengadaan listrik tenaga surya. Dengan demikian bisa dibangun pabrik es, kedai pesisir, dan juga depot Bahan Bakar Minyak.
Program utama LKPI dan DKP untuk pulau terluar adalah menjaga daratan pulau dengan mereklamasi pulau-pulau yang semakin terkikis oleh abrasi. Program ini menjadi sangat penting, karena dengan terjadi abrasi secara terus menerus dikawatirkan semakin hari daratan kepri akan semakin berkurang, dan kita berharap bersama pemerintah bisa melaksanakan program ini
Sementara itu, Sudeswan dari DKP Provinsi Kepri mengatakan, pemerintah memang membutuhkan mitra seperti LKPI untuk melaksanakan berbagai program terkait dengan penataan pulau-pulau terluar, karena program tersebut memang layak dan harus segera mendapatkan perhatian. Program-program LKPI akan disampaikan kepada stake holder terkait agar mendapatkan dukungan dan bisa segera dilaksanakan.
"Sebagai mitra pemerintah dalam mengelola kelautan dan perikanan di Kepri, kita menyambut baik program kerja LKPI. Dan kita berharap program ini nantinya akan mendapatkan dukungan dari stake holder terkait," katanya. (hk/36)
Limbah B3 Ilegal di Sekitar Dam Tembesi
DAM Tembesi yang tengah disiapkan oleh Badan Pengusahaan (BP) Batam sebagai sumber air bersih di Batam terancam tercemar oleh ratusan ton limbah cair sludge oil yang ditimbun di dekat pinggiran dam. Sludge oil tergolong limbah yang mengandung bahan beracun berbahaya (B3). Kendati telah ditimbun secara ilegal sejak tahun 2005 lalu, namun kasus kejahatan lingkungan ini baru terungkap sekarang.
Rombongan Lembaga Kelautan dan Perikanan Indonesia (LKPI) Provinsi Kepri yang turun ke lokasi bersama wartawan menemukan kondisi yang sangat memprihatinkan. Lokasi tempat penimbunan limbah itu tampak gersang. Meski limbah sludge oil tersebut telah lama ditimbun, namun ketika tanah itu digali dengan cangkul, masih ada limbah yang menumpuk.
Limbah tersebut belum lagi larut dengan tanah dan air di sekitar lokasi. Bahkan ketika rombongan melompat-lompat di permukaan tanah tempat penimbunan limbah ilegal itu, banyak cairan hitam yang keluar 'muncret' dari tanah. Aromanya busuk. Karena kemarin sedang panas terik matahari, pemuaian yang terjadi di sekitar lokasi penimbunan limbah terasa sangat beda dengan pemuaiann pada permukaan tanah lainnya.
Lokasi pembuangan limbah ilegal ini terletak sekitar 400 meter dari tepi jalan raya sebelah kiri sebelum Jembatan I Barelang. Lokasi ini termasuk dalam wilayah Kelurahan Tembesi, Kecamatan Sagulung. Informasi yang dihimpun dari warga sekitar, Suriani Pardede menyatakan limbah itu diduga dibuang oleh 'Ry' dari perusahaan transportir limbah PT PJ.
Limbah tersebut dulunya dibuang ke lokasi menggunakan drum dan karung goni. Jumlahnya ratusan drum dan karung.
"Saya tak ada kepentingan dengan limbah-limbah ini. Karena demi kebenaran makanya saya sampaikan kepada pihak yang berkompeten," ujarnya ditemui di lokasi, Minggu kemarin.
Suriani mengaku siap bersaksi di depan hukum atau lembaga manapun terkait penemuan limbah tersebut. Karena bertahun-tahun limbah itu ditimbun di lokasi itu akan berdampak buruk bagi lingkungan sekitar. "Saya merasa berdosa jika menutup-nutupi kasus ini, karena saya tahu pelaku penimbun limbah itu ke lokasi berinisial Ray adiknya JS," katanya.
Ahmad Rosana, pengurus Lembaga Kelautan dan Perikanan (LKPI) Provinsi Kepri menyatakan, kasus pembuangan limbah sludge oil ini harus segera ditindaklanjuti oleh Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (Bapedal) Kota Batam dan pihak terkait lainnya. "Ini jelas perusakan lingkungan. Institusi terkait dalam hal ini Bapedal Batam harus tegas menindaknya," kata Ahmad Rosana.
Ketika tanah di lokasi penimpunan limbah digali lebih dalam lagi, ternyata makin banyak ditemukan gumpalan-gumpalan berwarna hitam pekat. Lokasi ini memang jauh dari pemukiman masyarakat. Rumah yang lebih dekat dengan lokasi hanyalah rumah Suriani.
Hidaturridwan yang juga pengurus LKPI Kepri mengatakan lahan tempat pembuangan sampah itu milik Suriani Pardede. Makanya Suriani sangat paham siapa orang yang membuang limbah B3 secara ilegal tersebut.
Selain limbah B3 cair di Tembesi, limbah B3 lainnya juga ditemukan di sekitar PT Batam Ekpresindo Shipyard (BES), yang berlokasi di Tanjunguncang. Tumpukan limbah B3 itu mengandung cover slug, potongan besi dan kawat. Diduga kuat limbah itu milik PT BES. "Ini temuan hasil investigasi kami," ujar Sofyan M Yahya, Ketua Serikat Pemuda Indonesia (SPI) Kota Batam, kemarin.
Kasus tersebut jelas melanggar UU lingkungan Hidup Tahun 2009, Nomor 32, Pasal I ayat (I-36). "Kami telah melayangkan surat Sidak dan hearing dengan Komisi III DPRD Kota Batam dan Bappedalda Batam agar segera ditindaklanjuti," ujar Sofyan.
Limbah PCB di Pagar
Sementara itu ribuan kantong limbah printed circuit board (PCB) yang disegel Bapedal Kota Batam di lahan dekat Perum Masyeba Kirana, Batam Centre telah dipagar. Pemagaran limbah itu, atas permintaan, Abeng, pemilik lahan. "Kita hanya kerja saja bang," ujar salah seorang pekerja yang melakukan pemagaran lokasi penimbunan limbah PCB itu, kemarin.
Sebelumnya Abeng mengaku limbah yang ditumpuk di lokasinya itu tidak mengantongi izin pengangkutan. Jadi wajar saja, limbah ini disegel oleh Bapedal. Dan saat ini, Bapedal masih melakukan penyidikan. "Punya teman saya. Tetapi saya tidak tahu, dari mana diangkutnya," ujar pemilik gedung Lucky Plaza itu.
Menurutnya pemagaran itu untuk mengindari sorotan dari para kuli tinta. Pasalnya, ia tidak mau lahan miliknya yang dijadikan penumpukan limbah ini terpublikasikan ke publik.
Sementara itu, Kepala Bapedal Kota Batam Dendi Purnomo mengatakan pihaknya masih melakukan penyidikan. "Tim kita masih melakukan penyidikan di lapangan terhadap limbah PCB di Masyeba Kirana," ujarnya.
Untuk diketahui ribuan karung plastik berisikan limbah PCB dari industri elektronik disegel Penyidiik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) Bapedal Pemko Batam di perumahan Masyeba.
Informasi di lapangan, tidak diketahui dengan pasti, ribuan kantong plastik warna hitam berisikan limbah ini mulai disegel. Namun warga sekitar melihat tumpukan limbah itu sudah seminggu belakangan ini.
"Kita sudah lihat beberapa hari ini. Tetapi tidak tahu, kenapa limbah itu disegel," ujar salah seorang warga di perumahan Masyeba, Anto kepada wartawan saat melihat tumpukan limbah itu, kemarin. (tea/doz)
- Sulitnya Dapatkan Premium di Karimun
- Bayar Zakat di Mal dan Via Rekening
- Para Pejuang Veteran Prihatin
- 32 Pelajar Terbaik Pengibar Bendera Tampil Sempurna
- Basahnya Bisnis Kue Kering
- Waspadai Penimbunan Sembako Jelang Lebaran
- Project Pesona Lagoi Bakal Gagal Lagi ?
- Etalase Indonesia Dinodai Sampah dan Bau Asap
- Perda Pariwisata Sarat Kepentingan Pengusaha
- Dana BOS Mengendap Dulu di Kas Daerah
- Perda THM Menuai Kontroversi
- BP Batam Tutup Mata Terhadap Lahan Terlantar
- Borok Pusat Koperasi Distribusi Bintan Terkuak
- Batam Great Sale Menjanjikan ?
- DPRD Tpi Turun Tangan Atasi Masalah Pendidikan
- SMKN I Dan Yonif 134 Tuah Sakti Teken Mou
- Menguak Borok Penerimaan Peserta Didik Baru Di Batam
- Kejati Kepri Ditantang Usut Kasus Pengadaan Alat Kir
- Tiga Kepala Daerah Akan Dilaporkan ke KPK
- Solar Ditimbun di Bunker